
Alviro berjalan menuju lantai atas rumah Jihan, ketika tiba di sana. Alviro di hadapkan dengan dua pintu kamar yang saling berhadapan.
Tanpa menunggu lama, Alviro bisa menebak yang mana kamar Jihan dan yang mana kamar Lea. Bagaimana tidak, di depan pintu mereka masing-masing terdapat nama sang pemilik.
Alviro membuka pintu kamar Jihan yang tidak terkunci. Ia menyelipkan kepalanya masuk ke dalam kamar Jihan, di lihatnya tidak ada orang di sana. Hingga tanpa sadar Alviro sudah masuk ke dalam kamar Jihan, dan menutup pintu kembali.
"Ihh!! masa sih, gue berhalusinasi" gerutu Jihan. Ia tengah duduk membelakangi pintu masuk kamarnya, Jihan duduk di meja belajar nya.
Kepala Jihan pusing dan mengantuk, tapi dirinya tidak bisa tidur. Pikirannya terus memikirkan soal suara yang ia dengar sebelum pingsan.
Alviro tersenyum lebar, dengan langkah pelan ia mendekati Jihan.
"Katanya sakit, eh malah terlihat sehat sehat saja" gumam Alviro, ia sudah berdiri di belakang Jihan.
Tampaknya gadis itu masih belum menyadarinya, Alviro malah semakin tersenyum lebar ketika mendengar gumaman lucu Jihan yang tidak menyadari kehadirannya.
"Kok malah suara si bego itu sih, gue kan gak mikirin dia" gerutu jihan.
"Ohh jadi lo lagi mikirin gue? " ujar Alviro lagi.
Tubuh Jihan menegang, ini bukan khayalan. Jihan langsung memutar tubuhnya. Mata nya melebar melihat sosok Alviro berdiri dengan tampang songongnya menatap Jihan.
"Ngapain lo di sini? " serga Jihan menatap Alviro tajam.
"Garang banget sih" balas Alviro. Ia malah duduk di tepi ranjang Jihan. Membuat gadis itu langsung mendekati Alviro dan menariknya agar menjauh dari ranjang nya.
"Ihh apaan sih Jihan, gue numpang duduk juga" ujar Alviro menepis tangan Jihan yang menarik tangannya. Melihat wajah kesal Jihan, membuat Alviro semakin ingin menjahili nya.
"Ehh Eh!!! Alviro!!! Minggir gak!!! ihh minggir!! " geram Jihan melihat Alviro merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya. Kekesalan Jihan semakin memuncak, Alviro tidak mau beranjak dari sana.
"Ternyata empuk juga yah, pantes lo telat terus" kekeh Alviro.
"Ihhh Alviro, "
Jihan terus berusaha menyingkirkan Alviro dari ranjangnya, namun kekuatan Alviro lebih kuatcdarinya. Shingga, Jihan sedikit kesusahan menariknya.
Bruk~
Jihan kehilangan ke seimbangan tubuhnya, sehingga tanpa bisa di elakan, Jihan ambruk di atas tubuh Alviro.
"Umh" Jihan mengerjap ngerjapkan matanya menatap Alviro yang tersenyum menyeringai padanya. Untuk sementara Jihan masih bengong, ia terpanah melihat wajah Alviro yang terlihat semakin tampan dari dekat. Jantung nya semakin berpacu ketika mata mereka saling bertemu.
"Ternyata lo pengen baring sama gue? " ujar Alviro menggoda Jihan.
"Ih apaan sih!!! minggir gak!! " Jihan berusaha bangkit dari atas tubuh Alviro, tetapi Pria itu dengan cepat menahan pinggang Jihan. Sehingga Jihan kembali terjatuh dan menghimpit tubuh Alviro.
"Lo cantik jika terlihat dari dekat" gumam Alviro. Membuat Jihan yang mendengarnya semakin salah tingkah. Ia tidak tahu harus melakukan apa, ingin rasanya Jihan menenggelamkan Alviro ke laut terdalam, karena sudah membuat dirinya malu.
"Tutup mulut manis lo, gue gak bakal tertipu! " seru Jihan dengan tatapan sinis nya, ia mendorong dada Alviro sebagai tempat tumpuan tangannya.
"Yahhh, padahal gue masih mau meluk" lirih Alviro dengan bibir manyun.
Setelah bangkit dari tubuh Alviro, Jihan berkacak pinggang menatap ke arah Alvaro yang masih betah berbaring di ranjang nya.
"Jika lo gak bangun dari ranjang gue! maka gue akan teriak!! " ancam Jihan.
Bukannya takut, Alviro malah semakin menyeringai.
"Bagus lah, jika lo teriak dan memberitahu ayah dan bunda lo kalo gue lecehin lo" ujar Alviro tersenyum senang.
Jihan terdiam, ia mencerna ucapan Alviro barusan. Setelah tercerna, mata jihan langsung membulat, ia menggeleng kuat. Jika ia melakukan hal itu, maka yang terjadi adalah pernikahan. Tidak!! Jihan tidak akan melakukan itu.
"Ihhh Alviro!!! cepetan keluar!!! " ucap Jihan mencak mencak, ia sudah semakin kesal sama Alviro.
"Gak jadi teriak nih" kekeh Alviro.
"Ihh ogah, entar malah gue di nikahin sama lo. Ogah gue! " balas Jihan bergidik ngeri. Seolah olah membayangkan hal itu terjadi adalah hal yang paling buruk di dunia ini.
"Udah deh, keluar sana" usir Jihan lagi.
Alviro dengan wajah cemberut bangkit dari ranjang Jihan, ia memasang wajah datarnya.
"Gue ke sini tu, buat jenguk lo" ujar Alviro serius.
"Ih ngapain jenguk, yang ada lo itu bikin gue makin sakit" balas Jihan.
"Dasar cewe aneh" balas Alviro seraya berbalik hendak keluar dari kamar Jihan.
"Bye bye" ujar Jihan melambai, ia tersenyum senang berhasil mengusir Alviro dari kamarnya.
"Eh"
Cup.
Tubuh Jihan membeku seketika, tiba tiba Alviro kembali berbalik dan mendekatinya dengan gerak cepat mengecup bibirnya. Kemudian Alviro melesat kekuar dari kamar Jihan.
"Hahaha... " tawa Alviro.
"Dia nyium gue? " gumam Jihan melongo menatap bengong pintu yang sudah tertutup rapat. Setelah kesadarannya terkumpul kembali, Jihan langsung berteriak keras.
"Alviro!!!!!!!!!! "
Alviro terkikik mendengar teriakan Jihan dari luar, ia menuruni tangga dengan hati senang Ia berhasil mengerjai Jihan.
"Eh, kamu apain anak orang? " tegur Brian.
Alviro tidak menanggapi pertanyaan papa nya, dengan acuh Alviro malah salim kedua orang tua Jihan, kemudian pamit pergi.
"Om, tante, Alviro pamit dulu yah" pamit Alviro tersenyum kikuk.
"Hati-hati yah nak" balas Tia.
"Dasar anak nakal!! " geram Brian yang merasa kesal tidak di tanggapi oleh Alviro.
"Yang sabar yah Bro, seperti nya putra lo bakalan pindah ke daftar keluarga ku" ujar Burhan dengan nada bercanda, membuat mereka semua tertawa.
Hilang sudah aurah ke garangan Brian hari ini. Leni mengusap lengan suaminya lembut, ia berusaha untuk tidak tertawa di hadapan suaminya.
Sementara di sekolah, Lea berjalan melewati koridor sekitar. Hari ini Lea memutuskan untuk naik taxi pulang ke rumah. Ia tidak mau di antar oleh Arvan. Ia masih canggung dengan pria itu sejak kejadian di kamarnya.
"Lea, gue duluan yah! " ucap Mutia, Lea mengangguk menjawabnya.
"Bye"
"Bye."
Lea terus menatap kekiri dan kanan, ia sekarang sudah di depan gerbang sekolah. Menunggu taxi yang sudah ia pesan secara online.
Tent!!!!!!! Tent!!!!!!!!
Lea ter lonjak kaget, Arvan dengan sengaja menghidupkan klacson mobilnya dengan keras.
"Heh!! bisa gak sih, gak usah idupin klakson jelek lo itu! " omel Lea setengah membentak, ia benar-benar merasa jantung nya sudah tanggal dari tempatnya.
"Buruan naik! " titah Arvan mengabaikan omelan dari Lea.
"Gue gak mau, taxi bentar lagi bakalan jemput gue! " tolak Lea.
"Naik sekarang atau gue bakalan turun buat Gendong lo masuk ke dalam mobil gue! " ancam Arvan.
"Gak" kekuh Lea tetap pada pendirian nya.
Sesuai ucapannya yang bukan main makan, Arvan langsung keluar dari mobilnya. Ia mendekati Lea dan langsung menggendong Lea begitu saja. Setelahnya ia langsung membuka pintu mobil dan memasukkan Lea secara paksa ke dalam mobilnya.
Tentu saja Lea tidak akan menerima nya begitu saja, ia malah berontak dengan mendorong tubuh Arvan dan mencoba kabur. Namun, ucapan Arvan membuat dirinya membatalkan niatnya.
"Jika lo berani kabur, gue bakalan cium lo di tengah lapangan! " ancam Arvan. Membuat tubuh Lea membeku seketika. Ia tidak berani bergerak sedikit pun lagi.
Arvan tersenyum, Lea tidak mencoba kabur lagi. Arvan menutup pintu mobilnya, kemudian mengitari mobilnya menuju pintu mobil dekat kemudi nya.
"Kalo nurut gini kan enak" ujar Arvan.
"Bodo" balas Lea membuang muka ke samping kirinya. Arvan mulai melajukan mobilnya meninggalkan sekolah.