
Pagi itu, Jihan sudah siap dengan segala hal perlengkapan sekolah nya. Ia juga sudah selesai sarapan. Tadinya Jihan mau meminta pak supir untuk mengantarnya ke sekolah, namun Lea dengan tegas melarang nya.
"Kak, buruan! gue bentar lagi telat ni!! " teriak Jihan dari bawah. tumben banget Lea belum turun, biasanya kakaknya yang paling cepat selesai bersiap.
Tak berapa lama, Lea pun turun.
"Yok! " Ajak Lea datar.
Jihan tak menyahut, ia hanya mengikuti kakaknya yang sudah berjalan duluan ke depan rumah.
Setelah Jihan masuk ke dalam mobil, Lea langsung melajukan mobilnya tanpa berkata apapun.
Tak berapa lama kemudian, mobil Lea pun tiba di sekolah. Mereka sedikit terlambat 10 menit. Jihan menggerutu keluar dari dalam mobil, ia menatap was was kiri kanan mencari keberadaan anak OSIS.
"Tuh kan, telat.Kakak sih, kebanyakan gaya" gerutunya Jihan. Sementara Lea terlihat biasa saja, rasa khawatir yang biasanya ia tunjuk kan tidak terlihat lagi. Lea berjalan santai menuju ke kelasnya, hingga suara bariton meneriaki nya.
"Lea Rafier!! "
Jihan memejamkan matanya, inilah yang ia takutkan. Setelah urusan mirna selesai, kini tinggal urusan dengan ketua OSIS yang tidak pernah habisnya.
"Kak.. " lirih Jihan menahan lengan kakaknya yang juga sudah berhenti di depannya.
Lea berbalik, ia menatap Arvan yang sudah berdiri di belakang mereka bersama 2 orang anggota OSIS lainnya.
"Apa lagi? lo belum cukup membuat bencana di dalam hidup kita? " seru Lea menatap tajam pada Arvan. Anggota OSIS yang lain beringsut sedikit kebelakang Arvan, melihat sorot mata tajam Lea, membuat mereka merinding ketakutan.
"Ikut gue ke ruang OSIS! " titah Arvan tak kalah dingin dengan Lea.
"Ikut? gak usah mimpi deh lo! " balas Lea sengit.
Jihan menatap bingung keduanya, seperti nya ada yang tidak beres diantara mereka berdua.
Hal ini juga kesempatan bagi Jihan untuk kabur, perlahan gadis itu beringsut menjauh dari Lea dan Arvan yang masih berdebat.
Hufff...
"Bersyukur mereka tidak menyadarinya"
Jihan melenggang menuju ke kelasnya, ia sudah terbebas dari Anggota OSIS dan juga kakaknya yang sudah mulai over kembali.
"Sstt.... Jihan!! " bisik seseorang.
Jihan memperlambat langkahnya, ia mencari sumber desisan yang memanggil namanya tadi.
"Jihan, kesini.. " panggil Alviro dari balik tembok. Dahi Jihan mengerut, ia pun langsung menghampiri Alviro.
"Hei, kenapa lo bersembunyi di sini? " ujar Jihan. Namun Alviro tidak menjawab ucapan Jihan, ia malah menarik tangan Jihan dan membawanya ke sebuah tempat.
"Alviro, lo mau bawa gue kemana? " tanya Jihan sembari mengimbangi langkah kaki cowo itu.
Sementara di tempat yang berbeda, Lea dan Arvan masih berdebat. Si ketua OSIS tetap memaksa Lea ikut dengannya dan Lea pun tetap kekuh menolaknya.
"Arvan, kita harus cepat. Sebentar lagi kita ada rapat! " ucap salah satu anggota Arvan.
"Kalian duluan saja, gue harus mengurus semut kecil ini" ujar Arvan pada anggotanya. Mereka pun mengangguk, kemudian berlalu dari sana.
"Lo mau kemana! " cegat Arvan menahan lengan Lea yang hendak pergi.
"Mau apa lagi sih, gue mau masuk ke kelas! " ketus Lea menghempaskan tangan Arvan.
"Lo harus di hukum, karena lo terlambat 10 menit! " tegas Arvan.
"Jangan harap lo bisa pergi dari sini tanpa seijin gue! " ujar Arvan. Ia malah menarik tangan Lea menuju sebuah tempat. Entah kemana ia akan membawa Lea, yang pasti itu bukan ke arah ruangan OSIS. Lea terus memberontak, namun kekuatan Arvan jauh lebih besar darinya, sehingga Lea hanya bisa mengikuti nya.
...----------------...
"Jihan kok belum datang sih, katanya hari ini dah masuk" ujar Ria, ia sedang berdiri di depan pintu jelas sembari menunggu kedatangan Jihan.
"Mungkin Jihan gak jadi masuk" sahut Fela.
"Gak mungkin lah Fel, jelas jelas Jihan udah pap pake baju seragam di grub" balas Ria lagi.
Mereka sempat gak percaya ketika Jihan mengatakan akan masuk hari ini. Jadi untuk meyakinkan kedua sahabat nya, Jihan mengirimkan foto dirinya sudah rapi dengan seragam sekolah.
"Mungkin aja dia telat" sahut Babas.
"Gak mungkin lah Bas, soalnya tadi Jihan bangun sangat pagu" sahut Fela. Ia mendekati Babas yang tengah duduk di atas meja Ringgo. Mereka sedang bernyanyi bersama.
Ria pun ikut duduk di dekat Albi, wajahnya terlihat cemas pada Jihan. Ponsel Jihan pasti masih dalam mode silent, jadi Jihan tidak akan mengetahui siapa yang menghubungi nya.
"Udah lah sayang, Jihan pasti baik baik saja. Lihat ini" Albi menunjukkan postingan Alviro di akun instagram nya.
"What? jadi Jihan sedang bersama Alviro? " kaget Ria.
"Ada apa? " tanya Fela, ia merebut ponsel Albi yang ada di tangan Ria.
"Wah gawat ini, kalo kak Lea tahu bagaimana" ujar Fela khawatir.
"Tidak mungkin Fela, karena kak Lea sedang di sibukkan oleh kak Arvan" ujar Ringgo menunjuk ke arah pintu. Di sana terlihat Arvan menarik tangan Lea yang terus memberontak menolak Arvan yang menyeretnya entah kemana.
"Syukur deh. Jadi Jihan dan Alviro bisa berduaan" gumam Ria dan Fela ikut senang.
Sementara itu Alviro dan Jihan duduk bersama di atap sekolah, mereka menatap langit biru dengan senyum yang mengembang.
"Gue senang lo udah sembuh" ujar Alviro sembari menoleh pada Jihan.
"Dan itu berkat lo" sahut Jihan membalas tatapan Alviro. Mereka saling melempar tatapan.
"Lo tahu, gue sengaja menghidupkan GPS ponsel gue. Karena gue yakin, lo pasti akan menyelamatkan gue" ujar Jihan.
"Pasti Jihan, gue pasti akan menyelamatkan lo. Meskipun nyawa gue jadi taruhannya" ucap Alviro meyakinkan Jihan, matanya menatap lurus ke mata Jihan, satu tangannya menggenggam erat tangan Jihan. Membuat gadis itu semakin terdiam. Jantung keduanya berdetak sangat kencang.
"Alviro.. " lirih Jihan mengalihkan pandangannya, ia tidak sanggup menatap mata Alviro lebih lama. Tapi, Alviro malah menahan dagu Jihan agar tetap menatap padanya.
"Lo adalah segalanya buat gue ji, Segalanya"ucap Alviro lagi.
" Kenapa?, Apa yang membuat lo melakukan hal itu? " tanya Jihan terlontar begitu saja.
"Gue tidak tahu Jihan. Bagi gue, lo hidup dan mati gue. Seumur hidup gue"
Bagi kakak, kamu adalah hidup dan mati kakak. Seumur hidup kakak
Jihan menahan nafas, kilasan masa lalu mengiang di benaknya. Ia semakin menatap lekat wajah Alviro. Mencari sesuatu yang entah apa itu.
"Arvan!!! lepasin!! " teriak seseorang. Membuat Alviro dan Jihan kaget. Mereka menoleh pada pintu masuk ke atap. Suara langkah kaki terdengar semakin dekat. Jihan dan Alvaro saling melirik, kemudian dengan cepat keduanya bangkit dan bersembunyi di balik tembok.
"Arvan!! lepas!!! " bentak Lea, ia terus mencoba melepaskan diri dari Arvan yang terus menariknya masuk ke area atap.
...----------------...