
Jihan membuka pintu apartemen nya dengan malas.
"Siap-" Mata Jihan membola, ia tidak percaya melihat siapa yang sedang ada di rumah nya saat ini.
"Wah wah, lancang sekali anda" gumam Jihan ketika orang itu melenggang masuk ke dalam apartemen Jihan tampan di persilahkan terlebih dulu. Jihan berbalik mengikuti orang itu yang sudah duduk di sofa nya.
"Rumahnya cukup nyaman" ujar orang itu meneliti isi apartemen Jihan.
"Siapa anda, berani beraninya anda menilai tempat tinggal ku! " balas Jihan berkacak pinggang di depan nya. Lalu mereka tertawa bersama, Jihan berhamburan ketubuh seorang pria tampan yang sangat sangat ia rindukan.
"I miss you!! " ungkap Jihan memeluknya erat.
"Bagaimana? apa akting gue bagus? " tanya Zidan menaik turunkan alisnya.
"Hahahaa, gue lebih bagus. Secara spontan gue bisa mengikuti alur drama loe" balas Jihan kembali memeluknya. Cukup lama mereka saling melepas rindu, tiba-tiba Zaidan melepaskan pelukan Jihan dan menurunkan Jihan dari tubuhnya.
"Kenapa? " kaget Jihan.
"Gue sangat marah sama lo! " sungut Zaidan merajuk.
"Eh kok kakak merajuk sih, gue salah apa? " tanya Jihan bingung..
"Oh ayolah Jihan, Lo menikah! dan lo gak ngabarin gue?? Kakak tertampan mu tidak kau beritahu. Apa kau tidak merasa bersalah? " Zidan berbicara panjang lebar mengungkapkan perasaan kesalnya. Sementara Jihan, hanya menatap Zidan dengan wajah menahan tawa. Menurut Jihan wajah Zaidan sangat begitu lucu jika sedang merajuk.
"Kenapa? kenapa lo tertawa? " Zidan semakin kesal.
"Kak, wajah kakak itu sangat lucu, apalagi gini... " Jihan menirukan gaya pose bibir Zidan ketika manyun, lalu tertawa keras.
"Sangat sangat lucu" sambung Jihan, ia berusaha mengontrol dirinya agar tidak tertawa lebih keras lagi.
Zidan terus menatapnya datar, membuat Jihan mau tidak mau menghentikan tawanya.
"Sorry, sorry,.. hahaha.. ekhem.... " Jihan sudah melakukan apapun untuk menghentikan tawanya.
"Gue semakin marah! " kata Zidan.
"Oh ayolah kak, masa kita baru aja jumpa. Kakak malah bersikap seperti ini" bujuk Jihan.
"Lo ngeselin banget tahu" sahut Zidan.
"Oke.Gue minta maaf, gue janji gak akan ulangi lagi kak" ujar Jihan mengacungkan kelingking nya.
"Janji? " kata Zidan memastikan. Jihan mengangguk cepat, ia tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi.
"Sekarang dimana suami lo? apa dia tampan? apa dia pintar? " tanya Zidan celingak celinguk mencari keberadaan Alviro.
"Oh ayolah kak, tidak ada yang lebih tampan dari kakak" jawab Jihan.
"Benarkah? lalu, kenapa lo mau menikahinya? "
"Memangnya gue harus menikah sama siapa lagi? dia hanya kurang tampan sedikit dari kaka. Jadi, gue rasa tidak masalah. " jelas Jihan bercanda.
"Baiklah, tapi gue mau melakukan sesuatu. Gue mau memastikan rasa cintanya sebesar apa sama lo" ucap Zidan. Jihan pun mengerut bingung, ia penasaran apa yang akan kakak nya lakukan. Selain memiliki kakak perempuan yang super over posesif, Jihan juga memiliki kakak laki-laki yang super duper over posesif. Entahlah, Jihan kadang merasa dirinya adalah intan berlian yang harus di jaga ketat dari para pencuri.
"Sekarang katakan, siapa nama suami lo, dan di mana dia? " Zidan berdiri dari duduknya, ia berjalan mengelilingi apartemen Jihan dan Alviro untuk mencari suami kurang ajar Jihan. Masa abang iparnya datang ia tidak keluar.
"Kak, suami gue lagi keluar. Lo gak akan menemukan dia di manapun. " jawab Jihan jujur.
Bertepatan saat itu Alviro masuk ke dalam apartemen nya. Ia cukup kaget melihat Jihan tengah bergelayut pada lengan seorang pria asing yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Alviro" gumam Jihan.
Zidan menoleh pada Jihan, lalu mengikuti arah pandang mata Jihan. Alis nya mengerut, Zidan merasa tidak asing dengan nama pria yang berdiri di depan pintu.
"Siapa dia! " tanya Alviro dengan nada intimidasi, ia menarik lengan Jihan agar menjauh dari pria itu.
"Alviro, Dia.. itu-"
"Gue sahabat Jihan dari Amerika" potong Zidan.
"Sahabat? " ulang Alviro, ia melirik Jihan untuk meminta kejelasan.
"Iya Alviro, dia sahabat ku" jawab Jihan.
"Alviro? oh ayolah Jihan, hubungan kalian seperti nya tidak terlalu baik" ujar Zidan dengan suara mengejek. Ia sengaja memanas-manasi Alviro.
Seperti nya dia berhasil, ubun ubun Alviro seperti terbakar sekarang. Ia terpengaruh dengan ucapan zidan barusan, matanya semakin mengkilat ketika mendengar bisikan Zidan yang sengaja berjalan di belakang nya dan membisikan sesuatu.
"Masih ada cela untuk mendapat kan mu Jihan" bisik Zidan tepat di telinga Alviro.
"Dah Jihan, gue harus segera pulang. Seperti nya suami mu ingin memiliki banyak waktu dengan mu" pamit Zidan, dengan sengaja ia mengusap rambut Jihan manja.
"Alviro, kenapa kamu-" kalimat Jihan terhenti melihat kepergian Alviro begitu saja. Tatapan matanya kembali dingin, bahkan lebih dingin dari dulu. Andaikan Jihan meletakkan air di dalam gelas, lalu Alviro menatap air itu, maka akan di pastikan oleh Jihan air dalam gelas itu langsung membeku.
"Ahh... Kak Zidan, membuat gue dalam masalah besar! " gerutunya, lalu menyusul Alviro masuk ke dalam kamar. Rasa kantuk yang tadi ia rasakan, hilang seketika.
"Alviro... " lirih Jihan, ia mendekati Alviro yang sedang duduk di tepi ranjang dengan tatapan lurus ke depan. Seakan tidak ingin melihat Jihan, Alviro mengalihkan pandangannya ketika Jihan berdiri di depan nya.
"Kamu marah sama aku? serius dia hanya sahabat aku, karena sudah lama tidak bertemu. Jadi aku kelepasan seperti itu" jelas Jihan beralasan. Ia tidak tahu harus membujuk Alviro dengan apa lagi jika ia tidak percaya. Ini semua salah Zidan, Jihan akan memberikan hukuman yang setimpal dengan kakaknya itu.
"Tapi kamu juga harus tahu batasannya Jihan, kamu itu sudah bersuami, kamu harus tahu batasannya. " kata Alviro menatap Jihan dengan tatapan kesal.
"Maaf, tapi.. sungguh tidak ada apa apa di antara kami" ucap Jihan meyakinkan suaminya. Ia memasang wajah imut dan memelas agar Alviro luluh dengannya. Hal ini biasa Jihan lakukan ketika kak Yen nya merasa kesal padanya, dan yah. Alviro luluh, lagi lagi Jihan merasa Alviro dan Yen itu sama. Karena setiap kali Jihan melakukan sesuatu yang kak Yen nya suka, hal itu juga merupakan kesukaan Alviro.
"Baiklah, aku akan memaafkan mu untuk kali ini" Alviro menarik tangan Jihan, lalu memeluknya erat.
"Aku hanya merasa kesal, aku tidak suka kamu manja manja dengan pria lain. Walaupun sahabat dekat sekali pun! aku tidak suka. Hanya aku yang boleh dekat dan bermanja dengan mu! " kata Alviro lembut.
Jihan mengangguk di dalam pelukan Alviro, entah mengapa hatinya menghangat ketika mendengar ucapan Alviro barusan.
"Bagaimana dengan Ayah ku? apa aku tidak boleh dekat dengan nya? " goda Jihan. Alviro langsung melepaskan pelukannya. Bukan melepaskan, tetapi merenggangkan nya saja. Mana rela Alviro melepaskan hangatnya memeluk tubuh istri nya.
"Kamu boleh mendekati nya, tetapi tidak boleh lama lama." jawab Alviro kembali mengeratkan pelukannya kembali.
"Tapi dia ayah ku" Jihan pura-pura ingin melepaskan pelukan Alviro.
"Tapi aku tidak rela jauh terlalu lama dari mu" rengek Alviro manja, ia malah menjatuhkan tubuh mereka keatas ranjang dan bergolek di atasnya.
"Ahh, Alviro geli!!! " teriak Jihan ke geliaan, ia tidak tahan ketika Alviro terus menciumi lehernya.
"Memohon lah sayang, panggil aku dengan kata kata manja" Alviro kembali menyerang leher Jihan.
"Alviro sayang ahah , aku ahh..mohon hentikan" teriak Jihan di sela sela tawa dan desahannya. Ia tidak tahan lagi, Alviro sungguh membuatnya kegelian.
...----------------...