I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 94



Setelah bertemu dan berdiskusi dengan Zidan, Alviro pulang ke apartemen nya. Ia membawa beberapa makanan kesuksesan istrinya sejak kecil.


Ceklek..


Alviro masuk ke dalam apartemen nya, ia di suguhkan oleh pemandangan yang sangat indah. Istrinya terbaring di atas sofa, seperti nya Jihan ketiduran menunggu Alviro pulang.


Sekarang pukul 9 malam, wajar saja Jihan ketiduran. Alviro duduk di lantai, mensejajarkan dirinya dengan wajah Jihan yang terlihat tenang dalam tidurnya.


"Sungguh pemandangan yang indah" gumam Alviro. Ia mengecup kening Jihan lembut, membuat tidur Jihan terganggu.


"Alviro, kok pulang gak bangunin aku! " Jihan duduk, tangannya mengucek ngucek mata sembari melirik jam.


"Kamu pulang sangat telat" gerutu Jihan. Ia masih belum bisa memanggil Alviro dengan panggilan sayang, atau beb. Ia hanya bisa memanggil Alviro dengan sebutan nama atau, kamu.


"Maaf sayang, aku tadi keasikan mengobrol sama teman teman" balas Alviro, ia tidak mengatakan pada Jihan bahwa dirinya bertemu dengan Zidan. Sesuai permintaan Zidan, ia tidak boleh mengatakan apa apa pada Jihan. Karena sifat Jihan sangat kepo, ia akan menyelidiki semua nya dan hal itu bisa membongkar identitas Alviro di waktu yang salah


"Alviro... " panggil Jihan. Ia menatap heran pada suaminya yang tiba-tiba melamun.


Cup.


"Eh.. " Alviro kaget mendapat kecupan hangat dari istrinya, membuat dirinya tersadar dari lamunannya.


"Kamu melamun? " tanya Jihan.


"Tidak sayat, aku hanya sedang memikirkan sesuatu tentang masa depan kita" jawab Alviro tersenyum manis.


"Sama saja" ketus Jihan mencubit pipi Alviro. Lama lama hidup di samping Alviro membuat Jihan mulai terbiasa dan merasakan dirinya hidup kembali, setelah 7 tahun mati suri.


"Maafin Aku Alviro, tapi aku melihatmu bukan sebagai Alviro. Aku seakan akan melihat diri seseorang di sana. Rasa ingin membenci dan rindu" lirih Jihan di dalam hatinya. Kemudian ia langsung memeluk leher Alviro tanpa persetujuan dari pria itu.


Alviro yang kaget melihat sikap istrinya, cepat cepat mengendalikan dirinya, lalu membalas pelukan Jihan.


"Ada apa hm? " tangan Alviro membelai pelan punggung Jihan.


"Aku hanya teringat seseorang" lirih Jihan, namun tetap saja ia tidak siap mengatakan pada Alviro siapa yang ia ingat. Jihan belum siap mengatakan pada Alviro, ia takut Alviro tersinggung.


Setelah merasa istrinya mulai tenang, Alviro merenggangkan pelukan nya. Di tatap nya wajah Jihan lekat, ada aliran air mata di sana.


Dengan lembut Alviro mengusap pipi Jihan, lalu mengecup pelupuk mata Jihan lembut. Jihan pun menutup matanya menikmati kecupan hangat di pelupuk matanya.


"Sudah makan? " tanya Alviro. Jihan menggeleng pelan. Sejak tadi ia menunggu suaminya pulang untuk makan bersama.


"Aku menunggu suamiku pulang" lirih Jihan malu malu. Alviro sampai gemas melihat sikap malu malu istrinya. Ingin rasanya Alviro menyeret Jihan ke atas ranjang saat ini juga.


Namun, niat itu ia urungkan terlebih dulu. Alviro harus menunggu saat yang pas untuk yang satu itu.


"Ya sudah, sekarang kita makan yah. Aku sudah membeli makanan kesukaan istriku" balas Alviro menunjukkan tentengan nya. Seketika mata Jihan berbinar melihat apa yang di bawa oleh suaminya.


"Suamiku memang yang terbaik" ujar Jihan.


Alviro tersenyum lebar mendengar jawaban Jihan, lalu ia menuntun istrinya menuju dapur. Mereka makan bersama sembari bermesraan. Jihan meminta Alviro untuk menyuapi nya.


...----------------...


Fela menuruni anak tangga, ia mencari cari keberadaan mamanya Sejak kepulangan kedua sahabat nya. Fela tidak melihat mamanya di manapun. Ia juga menyesali dirinya ketiduran semalaman, sehingga ia tidak berbicara dengan mamanya malam itu Hingga kini ia tidak melihat mamanya. Fela merasakan ketakutan yang mendalam. Ia harus sering sering memantau mamanya, karena mamanya sekarang dalam keadaan depresi.


"Mama!!!!! "


"Mama!!! "


"Ma!! mama dimana? " panggil Fela, ia mencari cari keberadaan mamanya di seluruh penjuru rumah nya. Namun mamanya tidak ada di manapun, Fela mencoba mencari ke ruang musik yang bisa mamanya gunakan tempat untuk menenangkan diri.


"Ma.. " panggil Fela, ia mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan itu, namun mama nya tidak terlihat dimanapun.


"Eh ponsel mama di sini" Gumam Fela sembari meraih ponsel mamanya yang masih menyala.


Deg.


Tubuh Fela seakan akan kaku tak bisa di gerakan. Ponsel mamanya jatuh ke lantai, ia tidak sanggup menahan benda pipi itu berada di genggamannya. Mata Fela mulai berkaca kaca. Ia merasakan sakit yang teramat ketika melihat sebuah Foto Papa nya tengah berpelukan tanpa mengenakan apapun dengan wanita lain.


"Mama.. " Lirih Fela tersadar dari keterkejutan nya, mamanya pasti jauh lebih syok dari dirinya.


Fela kembali mencari cari keberadaan mamanya. Fela berlari keluar dari dalam rumah menuju ke taman belakang.


Langkah kaki Fela yang sangat cepat tiba-tiba memelan dan beringsut. Fela merasa seakan akan bumi berhenti berputar, ia merasa waktu berhenti bergerak.


"Mama.... " Bibir Fela bentar, matanya berkaca kaca. Fela merasa tubuhnya kaku.


"Mama... " lirih Fela.


"MAMA!!!!!!!! " teriak Fela sekuat tenaga.


Mamanya sudah tergantung di sebuah pohon besar yang tumbuh di taman belakang rumah nya.


Babas baru saja tiba di depan rumah Fela ia sudah tidak tahan lama lama tidak bertemu dengan Fela.


Babas terlontar kaget, ia langsung berlari ke sumber suara teriakan Fela.


"What?? " mata Babas melotot melihat pemandangan yang tersaji di depan nya. Fela histeris dengan posisi terduduk di tanah. Sementara di atasnya ada seorang wanita dengan tubuh memucat karena tergantung di pohon.


Babas langsung mendekati Fela, ia memeluk tubuh Fela erat.


"Babas... Tolong bangunin gue, katakan kalau semua ini mimpi. " teriak Fela histeris, ia menggoyang goyang kan tubuh Babas.


"Fela.. " hanya itu yang bisa Babas katakan.


"Gue mohon, tolong bangunin gue bas!! gue mohon!!!!! " teriak Fela semakin histeris. Babas langsung memeluk kekasihnya, ia tak sanggup mengatakan apapun lagi.


Fela meraung raung di dalam pelukan Babas, ia tidak bisa menerima semua ini. Fela tak sanggup lagi, Fela kehilangan kesadaran nya.


"Fela!!,, Fela... " Babas menepuk nepuk pipi Fela. Kekasihnya pingsan, Babas langsung menggendong tubuh Fela ke dalam rumah. Lalu menghubungi semua teman temannya.


Seakan sudah di rencanakan. Rumah Fela terlihat sangat sepi. Semua pegawai yang bekerja di rumah Fela tidak ada yang terlihat satupun.


...----------------...


Ria merasa sangat khawatir, setelah pulang v dari rumah Fela, ia terus memikirkan gadis itu. Entah bagaimana, Ria merasa ada sesuatu yang akan terjadi pada sahabat nya itu.


Drrtttt.....


Ria menyambar ponselnya, di sana tertera nama Babas yang menghubungi nya.


"Halo bas? " ucap Ria.


".... "


"Apa???. Oke gue ke sana sekarang! " ujar Ria, ia langsung memutuskan panggilan telfon dengan Babas, lalu bergegas menuju ke rumah Fela. Benar apa yang ia khawatir kan, sesuatu telah terjadi pada Fela.


"Ya ampun Fela, lo harus sabar" gumam Ria.


Hal yang sama terjadi pada Jihan, ia cukup kaget ketika Alvaro mengatakan padanya Babas baru saja menghubungi nya dan memberitahu tentang apa yang telah terjadi pada Fela.


"Fela.. " tubuh Jihan ambruk ke lantai, untung Alviro cepat menangkap nya, sehingga Fela tidak merasakan sakit.


"Al... Fela... Aku, aku harus kesana. Fela pasti merasa sangat terpukul" ujar Jihan, ia langsung bergegas bangkit dari duduknya. Dengan tergesa-gesa Jihan mengambil kunci mobil dan tas selempang nya.


"Jihan! " Alviro menahan lengan istrinya, ia tidak akan membiarkan Jihan pergi sendiri. Lagi pula, Fela juga sudah menjadi sahabat nya.


"Kita pergi sama sama ya" bujuk Alviro, ia memeluk tubuh istrinya yang mendadak lemas.


"Fela... " lirih Jihan. Hanya itu yang keluar dari mulut Jihan, matanya menatap kosong ke depan. Jihan benar-benar syok dengan kabar ini. Baru saja tadi ia bertemu dengan Fela dan juga mamanya.


...----------------...


Sangat cepat menyebar, Lidia sudah mendengar kabar bahwa mama Fela mengakhiri hidupnya. Lidia mulai merasakan rasa bersalah. Ia termenung membaca berita di ponselnya.


"Ada apa? " tanya Mirna menatap heran pada adiknya yang melamun.


"Tidak ada apa apa" jawab Lidia menyembunyikan ponselnya dari Mirna, namun kakaknya lebih cepat merebut ponsel itu.


"Oh, jadi istrinya susah mati. Bagus! " ujar Mirna. Mata Lidia menatap tak percaya pada kakak nya, wanita yang sangat ia percaya tentang kebahagiaan dirinya. Lidia merasa mulai sedikit kejanggalan pada kakaknya. Tujuan mereka hanya menghancurkan 2 keluarga, tetapi malah sekarang Lidia merasa dirinya menjadi manusia paling jahat di dunia ini. Lidia memang ingin menghancurkan keluar Rafier dan Nugrah, tapi tidak dengan keluarga orang lain yang tidak ada hubungan nya dengan kehancuran keluarga nya.


"Kenapa kamu kaget? " tanya Mirna penuh selidik.


"Kak, Aku merasa kakak mulai gila. Kala sudah sepenuhnya jahat!. Ingat kak, tujuan kita hanya satu! menghancurkan kehidupan keluarga Nugrah dan Rafier. Bukan orang lain kak! " ucap Lidia.


Plak!


Tamparan kuat mendarat di pipi Lidia.


"Kamu jangan sampai terpengaruh!!! kenapa kamu menjadi lemah seperti ini!!!! " teriak Mirna marah. Ia merasa Lidia sudah tidak seperti sebelumnya.


"Aku tahu, apa karena wanita itu!! " tebak Mirna penuh selidik. Wanita yang ia maksud adalah Rasya. Benar saja, Lidia sudah menceritakan semuanya pada Rasya. Perlahan wanita baik itu membuka pola pikiran Lidia.


"Tidak!!! ini semua tidak ada hubungan nya dengan dia!! " bantah Lidia.


Plak!!!


Satu tamparan lagi mendarat di pipi mulus Lidia.


"Bahkan kau sudah berani membentak dan melawan ku seperti ini!! " teriak Mirna.


"Terserah kakak!! " teriak Lidia, ia sudah muak dengan kakaknya yang selalu berperilaku seenaknya. Lidia memutuskan untuk pergi ke kamarnya.


"Dasar bocah sialan!! " Maki Mirna geram. Ia tidak boleh lengah pada Lidia. Ia harus memperketat pantauan nya pada Lidia, jika tidak gadis itu akan mengacaukan rencananya.


...----------------...