I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 121



"Boss, mereka sudah mengetahui ruangan rahasia ini. "


"Apa!


Dasar tidak becus! " Mirna kembali menatap Anonim. Ia merasa Anonim benar-benar tidak berguna untuk mengelabuhi mereka.


"Kenapa bos menyalahkan aku, bukan kah aku boss suruh memeriksa gadis itu! " Anonim berusaha untuk menyuarakan isi hatinya, ia tidak mau terus terusan di salahkan.


Mirna menggeram, ia berjalan mendekat pada Anonim. Kemudian menghajar gadis itu dengan tamparan beberapa kali.


"Kau berani protes pada ku, kau benar-benar tidak tahu malu! " bentak Mirna.


"Hahahaha"


Mirna berhenti menghajar Anonim, ia berbalik menatap ke arah Lidia yang tertawa dengan sangat keras. Seolah olah tubuh lemah yang penuh dengan luka itu tidak berarti apa apa bagi dirinya.


"Kenapa kau tertawa! " Mirna.


"Tentu saja aku tertawa, di saat kalian sudah tidak bisa mengelak lagi. Di saat itu pula kalian para wanita bodoh saling menyalahkan" Lidia terus tertawa.


"Sialan kau! " maki Mirna, matanya menatap nyalang pada Lidia. Beruntung saat ini ia sangat sibuk karena harus menghadapi keluarga Nugrah dan Rafier. Jika tidak, mungkin Lidia sudah ia hajar sampai tidak bisa bergerak lagi.


"Lihat lah, wibawah mu sebagai seorang wanita jahat tidak ada lagi. Bahkan kau terlihat sama seperti wanita rendah itu" ledek Lidia menunjuk Anonim. Mirna ingin menghajar Lidia, namun teriakan dari luar ruangan membuat gerakannya terhenti.


"Mirna!!! Keluar kau!!! kita selesaikan semua ini!! " teriak Brian dari luar.


"Hahahahaha.... Lihat, wajah panik kalian sungguh sangat lucu. " ledek Lidia tertawa sembari menahan sakit. Bersamaan dengan itu, pintu yang menyembunyikan mereka dari musuh terhempas sangat kuat, sehingga membuat pintu yang tadi nya kokoh menjadi rusak.


Secepat kilat Mirna sudah berada di belakang Lidia, tangannya menambah rambut Lidia dan menodongkan pisau di leher Lidia.


"Lidia!! " lirih Zidan.


"Jangan kau sakiti dia!!! " teriak Zidan penuh amarah.


^^^Beruntung banget Lidia, dia terbebas dari Mirna. Bahkan dirinya memiliki orang orang yang sangat peduli padanya. Sedangkan aku? aku hanya seorang wanita tidak berguna yang di perbudak oleh wanita biadap itu.^^^


Anonim mulai merasa iri pada Lidia, ia merasa sangat kesepian dan merasa memiliki kehidupan yang selalu saja gelap.


"Anonim, serang mereka!! " titah Mirna dengan suara lantang. Namun Anonim seperti orang bimbang. Antara ingin melakukan setiap perintah Mirna, dan malah membangkang kepadanya. Dua posisi ini sama sama tidak membuat Anonim merasakan indahnya pagi yang cerah. Ia tetap merasakan gelapnya malam tanpa setitik cahaya.


"Apa yang kau tunggu!! " bentak Mirna, ia sangat geram pada Anonim yang masih diam tanpa melakukan apapun.


"Hahaha, kau pasti akan mendapatkan hangat nya suasana pagi hari ketika matahari mulai muncul! " ujar Lidia yang mampu membaca pikiran Anonim dari raut wajahnya. Ia tahu, Anonim sekarang mulai bimbang.


Semua perhatian tertuju pada Anonim, ia berdiri di antara Mirna dan kelompok Brian. Anonim melirik kedua kubu yang sama sama menunggu apa yang akan di lakukan gadis itu.


"Hei gadis cantik, apa yang sedang kamu lakukan di situ? "


Anonim menoleh ke sumber suara, ia melihat pria tampan dengan perawakan khas anak sekolah SMA.


"Hei... " ulang Ringgo dengan santai mendekat pada Anonim. Tanpa rasa takut, Ringgo berdiri di hadapan gadis yang baru pertama kali ia lihat.


Namun entah mengapa hati Ringgo mengatakan jika gadis ini butuh bimbingan.


"Siapa kau! " Anonim langsung menodongkan pistol yang sejak tadi ada di genggamannya pada Ringgo.


"Hati-hati! " teriak Eldi dan Liem khawatir.


"Bunuh dia langsung!!! " titah Mirna. Lagi lagi Anonim tidak mendengar kan nya.


"Dengar kata hati mu, aku tahu kamu butuh cahaya.


Berhentilah, jangan ikuti gelapnya malam. Kamu cukup berlari dan carilah pintu agar bisa keluar dari ruangan gelap ini.


percayalah, di luar masih ada cahaya bintang dan bulan yang akan menerangi malam mu"


Ringgo menengadahkan tangannya di hadapan Anonim.


"Tembak bodoh!!!! " maki Mirna semakin panik, ia takut Anonim terpengaruh kepadanya.


Anonim menatap uluran tangan Ringgo, kemudian menatap juah ke manik mata Ringgo.


Ada cahaya di dalamnya, Anonim melihat ada masa depan yang selama ini ia harapkan.


"Seperti nya Ringgo tertarik pada wanita itu" sahut Albi.


"Gue baru lihat sisi ini dari Ringgo" ujar Liem.


"Bakalan ada pasangan baru" lgih Alviro.


Kembali ke Anonim, ia masih ragu mendengarkan siapa. Mirna terus berteriak kepadanya, sementara Ringgo terus memberinya harapan dan keinginan yang selama ini ia inginkan.


Kenapa. Pria ini memberikan ku harapan. Aki sangat takut, apakah ini jalan ku untuk meraih kebahagiaan seperti yang Lidia katakan?.


Kilasan masa lalu yang Mirna tanamkan di benak Anonim mulai tayang. Seperti membolak balik chanel TV.


"Good" Ringgo tersenyum lebar, Anonim menjatuhkan pistolnya kemudian menerima uluran tangan Ringgo.


"Sial " umpat Mirna. Anonim berkhianat kepada nya.


Ringgo memeluk gadis manis yang menarik perhatiannya. Entah mengapa ia merasa nyaman ketika memeluk tubuh kurus itu.


"Siapa lagi yang kau andalkan? " Lidia tersenyum meskipun ia tidak bisa melihat wajah Mirna.


"Lepaskan Lidia!!! " teriak Zidan. Ia melangkah sedikit lebih maju agar lebih dekat pada mereka.


"Berhenti mendekat, atau gadis ini terluka! " ancam Mirna, ia menekat pisau semakin kuat ke leher Lidia, sehingga darah segar mulai mengalir di sana.


"Jangan sakiti Lidia!!!!! " teriak Zidan marah, apalagi ia melihat leher Lidia terluka.


Dorr!


Dor!


"Akh!! " Mirna terpekik, ia merasakan sangat sakit di kakinya.


Anonim dengan tepat sasaran sengaja menembak kaki Mirna agar melepaskan Lidia.


Kesempatan itu pun di gunakan oleh Lidia untuk pergi dari Mirna.


"Lidia!! " ucap Zidan, ia menangkap tubuh Lidia yang berlari kepadanya.


"Terimakasih.


Terimakasih sudah datang untuk menyelamatkan aku" lirih Lidia memaksakan tersenyum, padahal tubuhnya terasa sangat sakit sekali.


"Kamu bertahan yah, aku akan membawa mu ke rumah sakit" Zidan langsung bergerak hendak menggendong Lidia.


"Tidak semudah itu "


Semua mata tertuju pada Mirna. Ia berdiri dengan bibir menyeringai. Tangannya terangkat bersiap menembakan peluru pada Zidan yang membelakangi nya.


"Zidan awas!!!!! " teriak mereka semua.


Lidia pun menoleh, matanya terbelalak melihat hal itu. Dengan gerakan cepat Lidia memutar, posisi mereka.


Dor!!


Dor!!


2 peluru masuk dengan sangat cepat ke punggung Lidia. Bahkan darah segar keluar dari mulutnya.


Zidan mematung, ia masih belum bisa mencerna semua ini.


"Lidia... " lirih Zidan. Ia membawa tubuh Mirna yang terkulai di pangkuannya.


Sementara Mirna langsung di atasi oleh anak buah Zidan. Ia tidak bisa melawan lagi, Mirna sudah tersudut kan.


"Kak Zidan... Kamu baik baik saja kan? " Lidia berusaha untuk bisa berbicara. Rasa sakit mulai menggerogoti tubuhnya.


"Sayang, kamu jangan banyak bicara dulu yah. Aku akan menyelamatkan kamu" Zidan berusaha untuk menggendong Lidia.


Anonim menghela nafas, ia tidak tahu harus mengatakan apapun. Ia mulai menyadari ketulusan hati Lidia. Ringgo langsung memeluk Anonim.


"Ayo bawa dia ke rumah sakit! " seru Brian. Zidan pun langsung membawa Lidia keluar dari gedung tua itu dan secepatnya ke rumah sakit terdekat.