I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 55



Alviro termenung di sofa kamarnya. Ia tidak mood melakukan apapun. Sejak pulang dari rumah sakit Jihan, Alviro hanya tidur dan duduk di sofa tanpa melakukan apapun. Pikiran Alviro hanya tertuju pada Jihan.


Apa kabar Jihan? apakah gadisnya sudah sembuh. Bagaimana keadaannya ketika bangun di pagi hari?.


Alviro benar-benar sangat ingin tahu bagaimana kondisi Jihan.


Tuk!! Tuk!!


Lamunan Alviro buyar, ia melirik pintu kamarnya sebentar. Kemudian berseru menyuruh orang yang mengetuk pintu kamarnya untuk masuk.


"Masuk! gak di kunci! " sahut Alviro.


Terlihat Arvan muncul di balik pintu kamar Alviro, ia membawa sebuah nampan yang berisi makanan untuk Alviro.


"Ni, mama nyuruh gue bawain buat lo" ucap Arvan, ia meletakkan nampan itu di atas meja di depan Alviro. Namun Alviro tak berniat untuk melirik makanan yang Arvan bawa.


"Lo harus makan, kalo gak, tubuh lo akan lemah" ujar Arvan menatap adiknya.


"Lo boleh keluar, gue lagi malas" usir Alviro seraya bangkit dari duduknya, kemudian berpindah ke balkon.


"Al, lo kenapa sih! " seru Arvan.


Alviro tak menjawab, ia lebih memilih menatap putihnya langit siang itu. Alviro masih mengingat dengan jelas apa yang Lea katakan padanya. Ia mulai berpikir jika ucapan Lea memang benar ada nya. Alviro mulai mengerti, semua yang terjadi antara dirinya dan Jihan memang seutuhnya kesalahan darinya. Bahaya yang menghampiri Jihan juga adalah kesalahannya.


Arvan ikut berdiri di samping Alviro, ia juga merasakan apa yang Alviro rasakan. Lea sangat marah padanya, gadis itu tidak mau menemui nya. Meskipun Arvan sudah mencoba untuk mendatangi kerumah nya.


"Kenapa muka lo Murung? " tanya Alviro.


"Lo pikir cuma lo doang yang galau? gue juga lagi galau ni" ujar Arvan menghela nafas berat.


"Lea marah juga sama lo? " tanya Alviro lagi, Arvan mengangguk menjawabnya.


Hufff...


Mereka menghela nafas dalam, entah kutukan dari mana, atau malah ini merupakan nasib beruntun sebagai kakak adik yang mencintai kakak adik pula. Alviro dan Arvan memiliki permasalahan yang sama, namun lebih berat Arvan.


"Gue kangen banget sama Jihan" gumam Alviro.


"Hem... Mau gimana. Lea udah kembali seperti dulu" lirih Arvan.


"Lo sih, kok gak becus jagain Lea. Lihat kan, gue jadi korban nya juga" sungut Alviro menyalahkan Arvan.


"Eh, kok gue sih" Arvan menatap sinis adiknya, ia tidak mau di salahkan.


"Yah kan, gara-gara lo gue jadi gak bisa ketemu Jihan! Kak Lea jadi sangat Over! " balas Alviro lagi. Sebenarnya tidak seutuhnya kesalahan Arvan, hanya saja Alviro ingin melampiaskan kekesalan nya pada Arvan. Perdebatan mereka jadi terhenti, ketika suara seseorang terdengar memanggil dari dalam.


"Alviro!!! yuhuuuu" teriak babas.


Arvan dan Alviro langsung kembali ke dalam kamar Alviro, di sana sudah Ada Babas dan keempat teman Alviro. Mereka dengan santai melenggang masuk ke kamar Alviro. Dengan tidak tahu malunya, Babas berbaring di atas ranjang Alviro.


"Ngapain kalian ke sini? " ketus Alviro.


"Alamak boy, lo kok gitu sih. Kita kesini itu. Mau jengukin lo! " sahut Albi.


"Tau ih, udah di jenguk. Eh malah ketus ketus sama kita" gerutu Babas. Mereka mengabaikan Arvan yang menatap sama sinis nya dengan Alviro. Tapi karena sudah terbiasa dengan sikap Arvan, mereka jadi tidak takut lagi.


"Kalian ini, bikin rusuh! " seru Arvan.


"Selow kak, ini kan lagi di rumah. Bukan sekolah" balas Eldi mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Menurut gue, di rumah ataupun di sekolah, kalian sama saja. Biang rusuh! " ujar Arvan seraya keluar dari kamar Alviro.


"Wiihhh kakak adek sama aja yah, sama sama dingin" ujar Babas bergidik ngeri melihat kepergian Arvan.


"Untung di luar area sekolah, kalo kita masih di sekolah. Gak tahu deh, kak Arvan bakalan ngasih hukuman apa sama kita" gumam Albi, ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib mereka.


Eldi dan Ringgo menjelaskan tentang hasil penyelidikannya tentang Mirna kepada Alviro, setelah kejadian penculikan Jihan. Berdasarkan informasi yang mereka peroleh, Mirna sudah keluar dari Indonesia. Namun Eldi tidak bisa melacak keberadaan nya karena Mirna menggunakan data palsu. Saat ini polisi sedang menyelidiki kasus ini.


"Al.. " panggil Eldi, ia merasa Alviro tidak fokus pada laporan yang ia buat.


"Al" panggil Eldi lagi, merek saling melirik. Alviro seperti nya sedang melamun.


"Alviro!! " panggil ringgo sembari menjentikkan tangannya di depan wajah Alviro, membuat pria itu kaget.


"Lo melamun? " tanya Ringgo. Alviro menggeleng pelan, ia tidak mengakui apa yang sudah ia lakukan.


"Kepala sekolah, apa sudah di pecat? " tanya Alviro mengalihkan pembicaraan.


"Lo lagi mikirin Jihan? kita baru saja dari rumah sakit tadi" ujar Liem menebak pemikiran Alviro. Mendengar kata mereka baru saja menjenguk Jihan, Alviro langsung mendongak menatap temn temuannya secara bergantian.


"Gimana keadaan Jihan? apa dia masih syok? " tanya Alviro penasaran.


"Tapi, seperti nya Jihan pengen jumpa sama lo deh Al. Soalnya kita datang tadi, dia seperti ngarepin lo gitu" ujar babas.


"Iya, gue rasa Lea melarang Jihan untuk bertemu sama lo" sambung Albi.


"Hum... Seperti nya Lea belum mengatakan apapun pada Jihan" batin Alviro.


"Al... " panggil Ringgo. Alviro kembali melamun.


"Al.... " panggil mereka lagi.


"Woy!! Alviro!!! melamun terus lo!! " teriak mereka bersamaan. Membuat Alviro tersentak dan merenggut kesal.


"Kalian bisa gak sih, gak bikin gue kaget! " gerutu Alviro memegangi jantung nya.


"Lo sih, kita kita lagi ngomong. Lo malah melamun " gerutu Babas.


Ringgo melirik lengan Alviro, di sana terlihat ada Lingkaran kain putih.


"Lo luka Al? " tanya Ringgo langsung, memeriksa lengan Alviro. Keempat cowo lainnya juga ikut melirik ke arah lengan Alviro yang di tutup perban. Alviro yang memakai baju kaos lengan pendek dengan leluasa memamerkan otot lengannya yang sebelahnya di perban.


"Kena sedikit, karena gelap, gue gak sempat menghindari nya" jelas Alviro yang di angguki oleh kelima teman temannya.


"Oh iya" Babas teringat sesuatu yang membuatnya penasaran sejak kemarin.


"Apa? " tanya Alviro menatap nya.


"Lo dapat senjata dari mana? kok gak bilang bilang bawa pisto" tanya Babas penasaran.


"Oh iya, gue juga kaget kemaren" sambung Albi, Eldi dan Liem juga mengangguk menyetujui ucapan Babas. Hanya Ringgo yang tidak heran di sini, karena dirinya sudah tahu sejak dulu.


"Sebenarnya gue cucu mafia terbesar di Asia" jawab Alviro jujur.


1


2


3


"What!!!! lo gak bohong kan? " Babas dan yang lainnya kecuali Ringgo melebarkan matanya setelah mendengar pengakuan Alviro. Sudah lama mereka berteman, baru kali ini mereka mengetahuinya.


"Los serius? tapi, kok kita gak denger berita nya" u


ucap Eldi bingung. Ia sudah meneliti seluk bekukan keluarga Alviro, namun tidak ada keterangan yang mengatakan dirinya merupakan anak mafia.


"Lo pikir, identitas seorang anak mafia, bakal di obral di mana mana? gitu? " celetuk Babas melempar Eldi dengan bantal.


"Yeee, kan gue kagak tahu" balas Eldi polos. Membuat Babas dan Albi mencebik, entah sejak kapan Eldi mendadak bego seperti ini.


"Papa gue gak mau mewarisi jabatan sebagai ketua mafia, ia malah menyerahkannya pada Kakaknya. Namun, karena kakaknya sudah meninggal bersama istrinya akibat kecelakaan mobil, membuat jabatan itu kembali pada papa. Sekarang jabatan itu mulai di kelola oleh Arvan" jelas Alviro panjang lebar.


"What?? " lagi dan lagi keempat cowo itu di buat kaget oleh Alviro.


"Lebay banget sih lo" seru Alviro.


"Ini benar-benar berita yang membuat jantung gue berdebar" sahut Babas.


"Kenapa? " tanya Albi.


"Gue udah lama pengen punya sahabat anak seorang geng mafia. Dan sekarang sudah menjadi nyata" ujar Babas tersenyum takjub pada Alviro.


"Ah gue pikir apaan" Albi melayangkan kitakan pada kepala Babas.


Sementara itu, Jihan sudah keluar dari rumah sakit. Ia duduk di balkon kamarnya. Ia menatap lurus ke arah taman bermain yang hanya terlihat menaranya saja.


Sulit untuk di utarakan. Hati Jihan merasakan kebingungan yang mendalam. Satu sisi, ia merasakan ingin bertemu dengan Alviro. Dan, di sisi lainnya ia sangat penasaran dengan sikap kakaknya yang begitu keras melarangnya untuk tidak bertemu Alviro. Lea sudah mengingkari janjinya, ia sudah kembali over pada Jihan.


Saking merasa sakit hatinya, Lea memilih untuk keluar dari kepanitiaan acara bansos yang sebentar lagi akan di laksanakan. Karena ada permasalahan internal di SMA Arya jaya, maka acara tersebut di tunda satu minggu lagi.


"Jihan sayang... " Tia memasuki kamar putrinya, ia memanggil Jihan ketika ia tidak mendapati putrinya tidak ada di dalam kamar.


"Jihan di sini bun... " sahut Jihan dari balkon. Tia pun segera berjalan menuju Balkon. Ia tersenyum pada putrinya yang duduk di lantai balkon.


"Kok duduknya gak di sofa sih sayang? " tanya Tia.


"Gak papa kok bun, lagi pengen aja" jawab Jihan sekenanya.


"Eum... Gimana keadaannya sayang? apa masih terasa pusing? atau gejala gejala yang lain" tanya Tia mencari topik pembicaraan dengan Jihan. Sejak pulang dari rumah sakit, Jihan tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya. Tia takut, Jihan kembali merasakan kesendirian nya dan kembali memilih untuk pergi dari sisi-Nya. Tia terus mencari cari akaaan untuk mengobrol dengan Jihan, bahkan ia menghubungi kakaknya yang berada si Amerika untuk membuat Jihan kembali bersemangat.


...----------------...