
"Lea!! Jihan!! " pangggilan seseorang. Lea dan Jihan langsung menoleh ke sumber suara. Mata keduanya membulat besar. Pak Johan dengan langkah cepat mendekati mereka.
"Kalian sedang apa di sini? belum sudah berbunyi 1 jam yang lalu" ujar pak Johan menatap kakak beradik itu heran.
"Itu pak, anu... " jawab Lea tidak tahu mau memberikan alasan apa.
"Apa Lea, kalo ngomong tu yang bener. Anu anu, apaan!! " cibir pak Jihan.
"Ya itu pak, umm... " Lea benar-benar bingung ingin menjelaskan apa.
"Ini lagi, di kelas gak ada. Ternyata kamu malah di sini bersama kakak kamu"
Jihan menunduk ketika pak Johan menatap ke arahnya. "Maaf Pak" cicit Jihan pelan.
"Yaudah masuk sana, masih ada 2 jam pembelajaran sama saya di kelas! " ucap pak Johan sebelum benar-benar berlalu dari hadapan keduanya.
Lea menghembuskan nafas lega, ia pikir pak Johan akan memberikan pertanyaan dan juga hukuman yang tidak masuk di nalar mereka.
"Lo mau ngomong apa tadi? " tagih Jihan, ia masih penasaran dengan apa yang akan di ucapkan oleh Lea tadi.
"Gak jadi, semua udah di jelasin sama pak Johan" ketus Lea. Membuat Jihan mendengus pelan, ia menghentak hentakan kakinya pergi dari hadapan kakak nya.
Huff... Hampir saja, Lea melirik pak johan. Jika tidak ada pak johan, mungkin Lea sudah kelepasan mengatakan pada Jihan siapa Alviro sebenarnya.
"Kamu gak masuk? " tanya pak Johan.
"Eh iya pak, ini mau masuk" Lea langsung berlari menuju ke kelasnya.
"Jangan sekarang Lea, belum saatnya adik kamu mengetahui yang sebenarnya" batin Johan sembari menatap ke pergian Lea. Untung dirinya datang tepat waktu, jika tidak, mungkin bencana kedua akan terjadi. Tadinya pak Johan hanya ingin berkeliling setelah memberikan latihan di kelas Jihan, ketika di taman, telinganya mendengar perdebatan adik kakak ini.
...----------------...
Jihan memasuki kelas. Ia langsung melangkah dan duduk di kursinya tanpa memperdulikan tatapan aneh dari semua teman sekelasnya.
"Nah ni anak baru nongol" ujar Fela berbalik menghadap ke belakang.
"Jihan!! " panggil Fela, namun tak kunjung di sahuti oleh orang nya. Babas dan anak anak wolf juga menoleh pada jihan.
"Kenapa? " tanya Ringgo dengan kode mata pada Fela.
"Gak tahu" balas Fela.
Jihan masih terdiam, pikirannya sibuk memikirkan sikap kakaknya yang kembali over Jihan tidak suka, walaupun ia tahu Lea melakukan semua ini seminggu melindungi dirinya Tapi, kenapa kakaknya malah melarangnya dekat sama Alviro. Padahal, pria itu yang menyelamatkan nya dari Mirna.
"Huh... " dengus Jihan kesal. Membuat teman teman yang memperhatikan nya menjadi semakin bingung. Jihan pun mulai menyadari tatapan aneh dari teman temannya, ia malah balik menatap mereka dengan tatapan heran.
"Jihan, are you oke? " tanya Ria.
"Eh kenapa? kok kalian liatin gue sih? " serga Jihan.
"Aduh Lea, lo itu yang kenapa. Kaya orang kesambet aja lo, gak nyahut ketika di panggil" balas Fela menggerutu.
"Gila kali lo yah, mana ada lo manggil gue gak nyahut" balas Jihan tidak mengakui.
"Iya Jihan, dari tadi kita manggil lo" ujar Ringgo membantu Fela. Jihan mengerut, ia bingung, Jihan benar-benar merasa tidak mendengar panggilan dari siapapun.
"Lo mikirin apa ji? ada masalah yah? cerita aja sama gue. Gue pasti bantu lo kok" ucap Liem, yang langsung mendapat ledekan dari Eldi dam babas.
"Itu mah maunya elo!! " cibir Babas.
"Ingat bro, dia milik Alviro" bisik Eldi di telinga Liem, membuat wajah Liem bete seketika.
"Nama nya juga usaha, siapa tahu kecantol sama gue" balas Liem ketus.
"Ihhh udah udah, bukannya pecahin masalah, kalian malah buat kepala gue semakin ingin meledak! " seru Jihan kesal. Ia malah menenggelamkan wajahnya diantara kedua tangannya.
"Emang lo lagi ada masalah apa ji? "tanya Ria.
" Hmmm... "dehem jihan tanpa merubah posisinya. Ria dan yang lain hanya bisa saling pandang. Mereka yakin Jihan memiliki sebuah masalah yang tidak bisa di bicarakan pada banyak orang. Mereka hanya bisa menunggu hingga Jihan mau membaginya.
Kring!!!!!!!
Suara bel pun melengking panjang, itu pertanda hari ini mereka pulang lebih awal. Mungkin dalam 1 sampai 2 hari ini, sekolah tidak bisa maksimal. Karena dewan yayasan sedang sibuk mengurus perpindahan jabatan. Mereka harus memilih orang yang tepat untuk memimpin sekolah.
" Ji, lo pulang sama siapa? " tanya Fela.
"Bawa mobil atau di anter tadi? " sambung Ria.
"Hum.. Gue.. Mau. -"
"Kak Lea" gumam Ria takut takut. Ekspresi wajah Lea benar-benar tidak bersahabat. Anak wolf pun tak ada yang berani menatap padanya.
"Gue mau pulang sama Ria, kita janji mau mengerjakan tugas, iya kan Ria? " ucap Jihan menyenggol bahu Ria.
"Eh iya, ki-kita ada tugas.. Iya, tugas" jawab Ria terbata.
Lea tampak berpikir, ia menatap kedua sahabat Jihan penuh selidik. Fela dan Ria menjadi semakin gugup di tatap seperti itu oleh Lea.
"Baiklah, lo boleh pergi" ujar Lea. Membuat Jihan dan kedua temannya bernafas lega, begitu juga dengan anak anak wolf. Mereka juga ikut senang, Lea memberikan ijin pada Jihan.
"Tapi, gue yang anter. Gue bakalan ikut lo ke rumah Ria" sambung Lea, membuat kelegaan yang Jihan rasakan hilang seketika.
"Kak, kok lo ikut sih" ujar Jihan.
"Kenapa? kenapa gue gak boleh ikut? " tanya Lea, ia semakin curiga dengan adiknya. Mereka pasti sedang berbohong padanya.
"Masa lo mau ikut sama kita kita sih, bisa bisa ni yah, kita gak bikin tugas, tapi malah mati ketakutan sama muka sangar lo itu! " sungut Jihan kesal.
"Yaudah, silahkan pilih aja. Iya atau tidak" balas Lea tak terbantahkan.
Jihan menekuk wajahnya, jika kakak nya ikut, bagaimana ia bisa jumpa sama Alviro. Lea pasti akan menggagalkan rencana nya bertemu Alviro di rumah Ria.
"Yaudah deh, lain kali aja" putus Jihan.
"Yahh... " lenguh anak anak wolf bersamaan, mengundang perhatian dari Lea.
"Kenapa? " tanya Lea penuh intimidasi, membuat mereka langsung mengalihkan pandangannya.
Kelas sudah sepi, yang tersisa hanya anak anak wolf dan ke empat gadis itu. Melihat Lea masuk ke dalam kelas mereka, anak IPA 1 langsung bergegas keluar. Mereka tidak mau mendapat masalah dengan Lea. Lebih baik mereka kabur dari sekarang, apalagi Lea sedang jadi singa.
"Gue pulang dulu guys, besok kita bicarain soal tugasnya" ujar Jihan pamit, kemudian ia berjalan lebih dulu menuju parkiran.
"Hati-hati kak" ujar Babas pada Lea yang bergerak keluar dari kelas, menyusul Jihan.
Hufff....
Albi mengambil nafas dalam dalam, seolah olah dirinya baru saja mendapat oksigen.
"Gila, kak Lea galak banget." ungkap Eldi.
"Parah parah parah... Man... Udah lama singa itu gak ngamuk" sambung albi.
"Trus gimana dong? nongkrong tanpa Jihan gak enak" rengek Fela.
"Humm.... Gue punya ide" sahut Babas.
"Apa? " tanya Eldi.
"Jangan yang aneh aneh yah! " sungut Fela memperingatkan, kebiasaan Babas selalu memiliki ide yang tidak masuk akal.
"Ihhh, iya sayang. Kali ini gak aneh aneh deh" ujar Babas meyakinkan Fela.
"Beneran yah!! " ucap Fela lagi. Mereka terlibat perdebatan yang memuakkan bagi mereka yang mendengarnya. Ria dan yang lain malah memutar bola mata malas, dalam keadaan yang seperti ini masih sempat bersikap bodoh seperti ini.
"Aduhhhh, kalian berdua ini please deh. Orang lagi serius juga" omel Ria kesal, di angguk oleh Anak anak wolf yang lain.
"Iri bilang aja" sungut Babas.
"Jijik " decak Albi.
"Ihhhh beneran malas gue sama kalian! " dengus Ria semakin kesal, ia memilih pergi meninggalan teman temannya yang malah berdebat tidak jelas.
"Ria!!! " teriak Albi menyusul kekasihnya.
"Ihhh kok kabur!! " ujar Fela bingung.
"Males sama lo bedua" cibir Eldi, kemudian keluar dari kelas meninggalkan Babas adanya Fela berdua di kelas.
"Berdua nih" cengir Babas tersenyum penuh arti.
"Ihh apaan sih lo! " dengus Fela kesal. Kemudian pergi begitu saja meninggalkan Babas.
"Yah di tinggal"
"Woy tunggu gue!!! " teriak Babas menyusul teman teman.
...----------------...