
Di bawah selimut tebal, Jihan masih bergelung menjelajah mimpi indahnya.Sudah pukul 8 pagi, namun Jihan belum menunjukkan tanda tanda untuk bangun. Beruntung hari ini adalah hari minggu, jadi Lea tidak datang untuk mengganggu tidur nyenyak Jihan.
Tap. Tap. Tap......
Salah. Hari minggu, bukan berarti Lea tidak akan mengganggu kenyamanan Jihan. Terbukti dengan kehadiran Lea sekarang di dalam kamar Jihan.
Slesss... Lea menarik gorden kamar Jihan, sehingga sinar matahari yang tadinya mengintip di balik cela cela jendela, kini menyeruak masuk menyinari wajah Jihan.
"Enggg..... "
Jihan mulai merasa terganggu tidurnya, ia menggeliat dan membalikkan tubuhnya membelakangi jendela.
"Astaga, malah semakin nyenyak tidurnya" gerutu Lea sembari menarik selimut yang menutupi tubuh Jihan.
"Ih kakak, kok lo gangguin gue sih. Ini kan hari minggu. Please deh, gak usah jahil"
"Aduh, Jihan. Lo gak tahu apa, Bunda sama Ayah lagi nungguin lo di bawah" seru Lea. Jihan tetap tidak bergeming, ia kembali tidur meringkuk memeluk bantal guling nya.
Lea tidak kehabisan akal, ia memikirkan sesuatu yang bisa membangunkan Jihan. Sebuah ide melintas di benak Lea, ia tersenyum menyeringai. Kali ini Jihan pasti akan bangun.
Lea masuk ke dalam kamar mandi, kemudian kembali lagi dengan membawa segayung air.
"Kalo lo, gak mau bangun. Jangan salahin gue yah Jihan" gumam Lea. Jihan tetap tidak mau bangun, ia sudah kembali ke alam mimpinya.
Byurrr..
"Bunda!!!! " teriak Jihan. Wajahnya basah kuyup hingga ke bantal dan juga sprei nya.
"Rasain, mandi cepat! gue tunggu di bawah" ujar Lea tertawa puas. Kemudian ia berlari keluar dari kamar Jihan sebelum gadis itu mengamuk padanya.
"Awas lo!! " ancam Jihan sembari bangkit dari tempat tidurnya, dengan kaki menghentak kuat, Jihan masuk ke dalam kamar mandi dan melaksanakan ritual mandinya.
Setelah selesai mandi, Jihan mengenakan pakaian santai. Ia memakai baju one set bermotif bunga. Setelah itu, Jihan pun memutuskan turun ke bawah.
"Pagii semuanya" sapa Jihan sembari duduk di samping bundanya. Terlihat ayah dan bundanya hanya membalas sapaannya dengan senyuman. Sementara Lea, me liriknya dengan tatapan sinis.
"Santai aja muka nya, udah kaya nenek lampir aja lo" ledek Jihan.
Lea tidak Terima dengan perkataan adiknya, ia hendak memukul Jihan, namun di tahan oleh bunda.
"Kalian ini yah, udah besar. Masih aja kaya anak kecil"
"Dia duluan bun, masa Jihan di bangunin pake air. Lihat tu sprei dan bantal Jihan jadi basa. Padahal baru kemarin di ganti sprei nya" Adu Jihan dengan ekspresi wajah manjanya.
"Lo sih, bangun kesianganulu. Gak di gituin, lo gak bakal bangun kebo. " balas Lea.
Jihan merasa semakin kesal, bibirnya semakin manyun saking kesalnya pada Lea.
"Lihat tu, bibir udah kaya Bebek" celetuk Lea. Ia benar-benar iseng pada Jihan.
"Sudah sudah, makan cepat! sebentar lagi kita akan pergi ke rumah keluarga Nugra" tutur Burhan.
Mendengar nama keluarga Alviro di sebut, Jihan seketika menghentikan tangannya yang hendak mengambil sayur.
"Ngapain kita ke sana yah? "
"Buat acara pertunangan kita lah, emang mau ngapain lagi" jawab Lea santai. Jihan langsung menoleh padanya.
"Kak, lo udah tahu? dan lo gak nolak? " Tatapan mata Jihan seakan tidak percaya dengan jawaban Lea.
"Memangnya kenapa?, Arvan tampan, kaya. Pintar. Buat apa menolaknya? "
"Kak, kok lo nyebelin banget sih!, Tau ah, semuanya sama saja" Jihan beranjak dari meja makan.
"Jihan!! " seru Tia, ia tidak tega melihat Jihan seperti itu.
"Udah bun, biarin aja dulu. Lea yakin Jihan gak bakal nolak kok" ujar Lea. Tia pun mengangguk, mereka kembali melanjutkan acara makannya.
Sementara itu, Jihan melangkahkan kaki nya keluar dari rumah. Awalnya ia ingin ke taman depan rumah nya saja. Namun, tiba-tiba saja Jihan ingin ke taman bermain yang tak jauh dari rumah nya.
Saat ini, ia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Hati dan pikirannya sedang berkecamuk.
"Kenapa sih, gue harus menikah sama Alviro?. Bukannya asal masalah yang serius, hanya saja ini terlalu cepat. Gue masih ingin bebas" gumam Jihan berbicara sendiri. Menurut nya Alviro sudah cukup sempurna, namun ada sesuatu yang membuat Jihan merasa belum saatnya untuk menikah dengan siapapun.
"Jalan gue masih panjang, tapi ayah? pasti ayah akan tetap memaksa gue"
"Sebenarnya ada apa sih dengan hidup gue? kenapa mereka sangat, mengkhawatirkan hidup gue?. Bu mirna juga. Kenapa dia sangat benci sama gue, kenapa dia mengincar hidup gue untuk mengalahkan Alviro"
Jihan larut dalam lamunannya, tampa ia sadari seseorang duduk di ayunan samping kirinya.
"Lo mikirin apa? " tanya orang itu.
"Gue lagi mikirin hidup gue yang kacau" jawab Jihan, ia masih belum sadar akan ke jadikan seseorang itu. Orang itu mengangguk dan mengulum senyum.
"Memang nya hidup lo kacau kenapa? "
"Karena Hi-" Jihan mulai tersadar, ia baru ingat jika dirinya sendiri di taman ini. Lalu siapa yang sejak tadi mengajaknya bicara?. Jihan langsung menoleh ke samping kirinya. Ia kaget melihat kehadiran Alviro di sana.
"Sejak kapan lo ada di sini? " tanya Jihan.
"Sejak lo mengomeli kehidupan lo" jawab Alviro santai. Lalu, Alviro turun dari ayunan nya. Kemudian berdiri di depan Jihan.
"Apa yang lo lakukan, minggir! lo menghalangi ayunan gue" seru Jihan menatap sinis padanya. Namun, Alviro tidak bergeming. Ia malah menarik tangan Jihan dan memaksanya turun dari ayunan.
"Ayolah Jihan, kita harus melakukan fitting baju. "ujar Alviro.
" Tidak! gue gak akan menikah sama lo! " tolak Jihan seraya menghempaskan tangan Alviro. Lalu, Jihan pergi begitu saja dari sana.
"Jihan!! Jihan!! lo harus menikah sama gue. Gue cinta sama lo Jihan!! " teriak Alviro mengejar Jihan yang semakin mempercepat langkahnya.
Hingga Jihan tiba di sebuah luncuran, ia menatap lekat luncuran yang memiliki kesan yang sangat banyak di masa lalunya.
"Jihan.. " lirih Alviro memelan. Ia berdiri di samping Jihan yang masih menatap ke arah luncuran yang dulu mereka gunakan untuk bermain. Alviro tahu sekarang, apa yang sedang Jihan pikirkan.
"Jihan, apa lo mau main itu? " tanya Alviro. Membuat lamunan Jihan buyar.
"Jangan ikutin gue, sampai kapan pun. Gue gak akan menikah sama lo! " bentak Jihan. Kemudian, ia kembali melanjutkan langkahnya pergi dari sana.
Sudah, cukup. Alviro tidak tahan lagi dengan semua ini. Ingin rasanya ia mengungkapkan pada Jihan, siapa dirinya yang sebenarnya.
"Gue tahu, lo gak mau nikah sama gue karena lo masih teringat dengan pria di masa lalu lo kan! " ucap Alviro lantang. Jihan yang mendengar nya pun menghentikan langkahnya.
"Lo gak tahu apa apa tentang gue, jadi. Lo gak usah sok tahu" balas Jihan tampa menoleh.
"Gue tahu semuanya Jihan! gue tahu!!!! soal taman ini, soal semua kenangan lo sama dia?!! " teriak Alviro lagi. Kalo ini, Jihan langsung membalikkan tubuhnya. Entah tahu dari mana, Jihan sangat penasaran. Semua kenangan tentang dirinya dan kak yen hanya mereka berdua.
Jihan mendekati Alviro, menatapnya dengan tatapan penuh selidik.
"Dari mana lo tahu soal itu! katakan!!! " desak Jihan.
"Tenang Jihan, itu semua gak penting. Yang terpenting sekarang, gue mau lo melupakan semua masa lalu kelam lo. Gue akan buat hidup lo kembali berwarna! " ucap Alviro panjang lebar.
Jihan menggeleng pelan, ia melangkah mundur menjauhi Alviro. Menurut nya, tidak akan ada yang mampu merubah kehidupan nya. Jihan hanya ingin waktu kembali terulang, ia ingin kembali ke masa dimana dirinya dan kak yen nya bersama Jihan akan memastikan kak yen nya tidak akan salah paham lagi. Namun, semua itu ia rasakan, hanya ketika ia merindukan kak yen. Ketika mengingat kejadian, dimana kak yen nya memaki dan menyalahkannya tampa mencari kebenaran terlebih dulu. Hal itu sangat menyakitkan bagi Jihan.
"Tidak akan ada yang bisa merubah kehidupan gue! " Jihan kembali melanjutkan langkahnya.
"Gue bisa merubahnya Jihan, karena gue yang bertanggung jawab atas kehancuran kehidupan lo" gumam Alviro menatap ke pergian Jihan. Sungguh, ia semakin merasa sangat bersalah setiap kali melihat Jihan menderita. Di tambah lagi, kehidupan Jihan yang terancam oleh Mirna karena dirinya juga.
"Apa yang harus gue lakukan? gue hanya ingin membuat dia bahagia" Gumam Alviro lagi.
...----------------...
"Hallo!, Ada apa? kenapa menghubungi ku sekarang? " bentak seseorang ketika ia mengangkat panggilan dari seseorang. Ia sedang berada di sebuah hotel sekarang.
"Kamu harus berhati hati, jangan sampai kamu ketahuan. Tahan diri mu, jangan bertindak ceroboh! " peringat seseorang dari seberang telfon.
"Iya aku tahu, kau tidak perlu banyak bicara. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti mu! " balas gadis itu dengan kesal. Lalu ia memutuskan panggilan secara sepihak.
"Dasar, menyebalkan. Di pikir nya aku sebodoh dirinya! " gerutunya. Gadis itu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Hari ini adalah hari kedua dirinya berada di negara yang sudah lama ia tinggalkan. Entah apa yang akan ia lakukan selanjutnya, yang terpenting baginya ia harus mandi dan beristirahat.
...----------------...