
Jihan terbaring di lantai yang penuh dengan debu, ia sudah tak berdaya lagi. Kedua tangan dan kakinya di ikat kuat oleh anak buah Mirna. Sudah tidak ada lagi harapan di mata Jihan, ia sudah pasrah dengan hidupnya. Meskipun ada secercah harapan di hatinya.
Jika ini akhir hidup gue, tolong segerakan. Gue sudah tidak bisa lagi menahan semua ini. Sejak hari itu gue tidak pernah merasakan kebahagiaan lagi. Harapan dan juga cinta.
Dor!!!!
Dor!!!
"Alviro? " gumam Jihan. Tiba-tiba saja Jihan menyebut nama itu. Pikirannya tiba-tiba tertuju pada Alviro. Jihan mengedarkan pandangannya ke seluruh arah. Hanya ada ke gelapan, ia tidak bisa melihat apapun di mana pun.
Alviro... Tolong gue.... Tolong, selamat kan gue.
Jihan kembali memejamkan matanya, rasa takut dan sesak bercampur aduk. Hanya cahaya bulan yang memberikan secerca penerangan di mata Jihan.
Suara ke gaduhan terdengar di luar sana, namun Jihan tidak bisa berbuat apa apa. Ia hanya berharap, seseorang menemukan nya, bahkan ponselnya masih menyala di dalam sakunya.
"Ayah, Bunda, Jihan sangat takut. Tolong selamatkan Jihan ayah. Di sini gelap" batin Jihan.
...----------------...
"Apa??? Jihan di culik???? " ulang Burhan kaget setelahendengar kabar dari anak buahnya. Tak jauh dari tempat ia berdiri, istrinya berdiri dengan tubuh yang kamu setelah mendengar pembicaraan nya dengan seseorang di telfon.
Prang~
Piring yang sedang Tia pegang jatuh ke lantai, kakinya bergetar, ia melangkah pelan mendekati suaminya. Tia mengabaikan rasa perih yang terkena oleh serpihan kaca piring.
"Tia.. " lirih Burhan.
"Putri kita kenapa mas? " tanya Tia dengan suara bergetar. Burhan langsung memeluk istrinya.
"Kamu tenang yah sayang, semuanya akan baik baik saja" ujar Burhan menenangkan istri nya. Ia tidak mau istrinya syok setelah mendengar nya.
"Mas, putri kita kenapa? siapa yang menculik nya?? " tanya Tia kalut.
"Mas, aku ingin bertemu dengan putri kita, mereka baik baik saja kan mas?? "
"Mas!! tolong jawab aku?! " teriak Tia dengan suara bergetar, Tia semakin terisak karena suaminya tak kunjung menjawab pertanyaan nya.
"Sebentar lagi Leni dan Brian akan datang ke sini. Arvan dan Alviro sedang menyelamatkan Jihan sayang.Jadi kamu tenang yah,semuanya akan baik baik saja." jelas Burhan.
"Hikss... Hikss... Jihan putri ku"
"Sayang, kami tenang yah"
"Bagaimana aku bisa tenang mas, sedangkan putri ku dalam bahaya! " teriak Tia semakin menjadi jadi.
Burhan hanya bisa memeluk istrinya, ia tidak bisa mengatakan apapun lagi. Bukan hanya Tia, Burhan juga merasakan kekhawatiran terhadap Jihan. Namun saat ini, ia mencoba untuk percaya pada Alviro dan Arvan.
Tak berapa lama, Brian dan Leni pun datang. Leni langsung memeluk Tia, mereka menangis bersama.
"Leni, putri ku Leni " adu Tia pada Leni.
"Iya, Tia. Kamu yang sabar yah. Mas Brian sudah menggerakan semua anak buahnya untuk menyelamatkan Jihan. " jelas Leni berusaha untuk menenangkan sahabat nya. Tia menangis di dalam pelukan Leni. Sementara Brian dan Burhan pergi ke ruangan kerja Burhan. Mereka harus mendiskusikan sesuatu Sekarang.
...----------------...
Setelah Mirna pergi, seketika itu pula lampu kembali mati. Tidak ada pencahayaan yang membantu Alviro dan yang lainya untuk melihat apapun.
"Sialan!!! Mirna!! kau pengecut!!!!? "teriak Alviro. Karena Mirna tidak menghadapinya dengan berani, tetapi malah melawan mereka dalam keadaan yang gelap seperti ini.
Suara ledakan peluru pun mulai bertebaran, Alviro bergerak waspada. Ia harus hati hati. Lawannya bisa saja mengintai ke arahnya yang kini tidak bisa melihat apapun.
Dor!!
Dor!!
Alviro mengeluarkan pistol nya, ia sengaja mempersiapkan pistol di dalam mobilnya. Untung ia ingat dan menyisipkan pistol itu di pinggangnya.
"Keluar lah kau Mirna!!!!! Hadapi aku jika kau berani!!! " teriak Alviro, kemudian menembakkan pelurunya ke arah di mana ia pikir tempat anak buah Mirna bersembunyi.
Dorr!!!
Dorr!!!
" Sebelah kanan Al!!!! "teriak Ria, ia sudah melihat dimana saklar lampu sebelum anak buah Mirna memadamkannya. Ia tidak tahu posisinya berdiri sekarang, ia hanya mengikuti kemana arah Albi menariknya dan terus memeluknya untuk melindungi nya.
Alviro yang mendengar teriakan Ria langsung menoleh ke samping kanannya. Semuanya memang gelap, tetap Alviro bisa menggunakan instingnya untuk mencapai saklar yang Ria maksud.
Dor!!!
Dor!!!
Alviro sesekali menunduk ketika mendengar suara tembakan peluru dari arah depannya. Kemudian, kembali bergerak cepat mencari dinding dan meraba raba mencari saklar.
"Kau mencari saklar nya" Gumam seseorang, dan Alviro yakin itu anak buah Mirna.
"Keparat!! " umpat Alviro. Ia bergerak cepat menodongkan pistolnya dan menarik pelatuknya menembak orang tersebut dalam ke gelapan.
Dor!!!!!
Dor!!!!!
Seketika anak buah Mirna yang mencoba menghalanginya menggelepar di lantai dengan dua peluru merasuk ke dadanya.
Anak buah Arvan terus menembakkan senjatanya di setiap sumber tembakan yang mereka dengar.
Bangunan itu terdengar seperti area pertempuran, Ria dan Fela semakin bergetar ketakutan. Mereka memeluk erat tubuh babas dan Albi.
Sementara Arvan, ia meletakkan Lea berada di depannya dan mengenakan jaket anti peluru di tubuh Lea.
" Lo harus tenang, semuanya akan baik baik saja" yakin Arvan kepada Lea.
"Tolong selamatkan adik gue" lirih Lea memohon, hanya jihan yang ada di pikiran nya.
"Tenanglah Lea, kita datang ke sini memang untuk menyelamatkan jihan. Lo gak usah khawatir" ujar Arvan. Ia sengaja membawa Lea ikut bersamanya agar pemikiran nya tidak bercabang. Arvan juga sudah meminta kedua orang tuanya untuk berkumpul dengan keluarga Jihan. Arvan tidak ingin salah satu dari mereka di jadikan kelemahan oleh musuhnya.
Teg.
Seketika lampu menyala, Alviro berhasil menemukan saklar listrik. Terlihat di lantai sudah banyak yang tergeletak, baik dari anak buah Arvan maupun Mirna.
Kini yang tersisa hanya beberapa anggota saja, Alviro mengerahkan mereka semua naik ke atas melalui anak tangga yang ada di sana. Ia yakin jika Jihan ada di lantai paling atas.
"Iblis itu pasti menyekap Jihan di lantai atas" gumam Alviro melihat layar ponselnya, ia melihat arah di mana lokasi Jihan berada sekarang.
"Ayo cepat" seru Ringgo. Mereka langsung berlari menaiki anak tangga.
Setibanya di lantai 2,mereka bingung ingin masuk ke ruangan mana. Anggota mereka tinggal sekitar 10 orang lagi. Jika mereka melakukan pemecahan, maka mereka akan sangat mudah di kalahkan. Akhirnya Alviro memutuskan untuk tetap bergabung saja.
"Ahhkkkkk!!!!!! " Teriak Jihan dari dalam ruangan salah satu pintu yang berjejer 5.
"Jihan!! " pekik Lea. Ia yakin suara teriakan itu adalah suara adiknya.
"Suaranya dari arah ruangan itu!! " ucap Eldi menunjuk sebuah pintu yang tertutup rapat.
Alviro menoleh kearah yang Eldi tunjuk,kemudian menyuruh anak buahnya membuka paksa pintu itu dengan tendangan.
Brak~
Pintu pun tebuka. Mereka melihat Mirna sedang menjambak ribut Jihan, dan ada 2 orang anak buah Mirna berdiri di depan mereka sedang memegang cambuk.
"Keparat!!!!! " Kemarahan Alviro semakin memuncak ketika melihat kondisi Jihan saat. Penampilan nya sudah sangat berantakan, terdapat beberapa luka di sekitar takan, kaki dan juga wajah Jihan.
"Astaga" Lea dan kedua sahabat Jihan menutup mulut tak percaya. Jihan benar-benar di siksa.
"Biadap!!! kau apakan adik gue!!!!? " teriak Lea histeris, Ia hendak langsung menyerang Mirna. Namun di tahan oleh Arvan.
"Lepasin gue!!! " bentak Lea pada Arvan.
"Tidak Lea, lo gak boleh gegabah. Kita harus berhati-hati" balas Arvan.
"Wah wah... Kalian benar-benar menyebalkan. Aku masih belum siap untuk permainan yang selanjutnya" gumam Mirna. Ia berdiri dari posisinya yang berjongkok di hadapan Jihan.
"Bahkan gue belum sempat mendandani gadis ini sebelum bertemu dengan kalian" lanjutnya sembari melirik ke arah Jihan.
Jihan tak berdaya, ia hanya melirik Mirna dengan tatapan lemah. Seulas senyum tipis terukir di bibir nya, ada bayangan Alviro yang terlihat dari ekor matanya.
"Lepasin Jihan!!! bu Mirna kok tega sih sama Jihan! " teriak Fela. Tangannya semakin mencengkram lengan Babas, ia merasa takut saat Mirna melirik kepada nya.
"Kalian yang tidak berkepentingan, aku beri kesempatan untuk pergi dari sini. Jika tidak, maka kalian akan hancur bersama anak laknat itu! "
"Diam kau wanita hina!!! Kami tidak akan pergi ke mana pun?!!!, Sampai kapan pun kami akan menyelamatkan Jihan dan menghancurkan mu!!! " balas Ria. Matanya mengkilap penuh emosi. Ria jika sudah marah, ia tidak kenal takut. Apalagi orang yang sangat ia sayang tengah menderita di depan matanya.
"Wah wah... Kisah persahabatan yang sangat mengharukan. " Mirna berjalan mendekati Jihan lagi, di tangan sebelah tangan kanannya ada sebuah pisau dan sebelah kirinya ada pistol.
"Menjauh dari adik gue!!!!!!!! " teriak Lea, di dorong nya Arvan agar tidak mencegahnya lagi, kemudian ia berlari kearah Jihan.
Mirna menyadarinya, ia tersenyum senang. Satu tangannya mengacungkan ke arah Lea.
"Lea!!!!! " teriak Arvan. Jihan yang mendengar nama kakaknya di panggil langsung membuka matanya.
"Kak Lea" gumam Jihan pelan, hampir tak terdengar.
"Jihan!!! Jihan!! " teriak Lea, ia tidak peduli lagi dengan Mirna. Yang terpenting baginya Jihan dan Jihan.
"Bagus" Mirna tersenyum, ia bersiap menarik pelatuk pistol nya.
"Bye... "
"Lea!!!!!!!! "
...----------------...