
Seperti yang sudah di sarankan Lea, Alviro membawa Jihan pulang ke apartemen. Berbagai drama terjadi di antara keduanya. Alviro bersikeras membawa Jihan pulang, sementara Jihan ingin kembali masuk ke kelas meskipun kakinya sedang sakit.
Pada akhirnya, Jihan mengalah dan mengikuti Alviro pulang ke rumah.
"Nah, sekarang beby istirahat di sini" kata Alviro menuntun Jihan untuk berbaring di atas ranjang. Setelah itu Alviro beranjak keluar kamar.
"Kamu mau kemana? " cegat Jihan menahan tangan Alviro.
Alviro tersenyum, tangannya mengusap lembut punggung tangan istri nya.
"Aku mau ke dapur sayang, mau buatin kamu sesuatu biar gak lemes. "
"Hmm.. Aku gak lapar, di sini saja bersamaku" ucap Jihan meluncur begitu saja, ia tidak menyangka bisa mengucapkan kata seperti itu pada Alviro. Jihan bahkan memaki mulutnya yang keceplosan mengatakannya.
"Aku hanya ke dapur sayang, cuma 30 menit. Aku akan balik lagi ke sini" jelas Alviro. Ia mengecup punggung tangan istri nya, kemudian beranjak menuju dapur.
Jihan tidak berani menahan Alviro, ia sudah sangat malu mengeluarkan suara dengan kalimat yang sangat menjijikan menurutnya.
Setelah memastikan Alviro benar-benar keluar dari kamar, Jihan langsung mendudukkan tubuhnya dan memukul mukul kepalanya.
"Ahhh Jihan!!!! kok bisa lo ngomong seperti itu sih sama Alviro. Lo gak tahu malu apa, kalo dia kegeeran gimana? " Maki Jihan mencak mencak di atas ranjang.
Ceklek.
Tubuh Jihan mendadak kaku, matanya mengerjap ngerjap menatap kearah Alviro yang berdiri di tengah pintu. Ia tidak menyangka jika Alviro akan kembali dalam waktu yang cepat.
"Kamu lagi apa sayang? " tanya Alviro heran.
Jihan melirik tubuhnya, ia menjadi salah tingkah mendapati tubuhnya masih dalam posisi setengah berdiri.
"Ehm.. Ada semut" kila Jihan pura-pura menepuk nepuk kasur.
"Semut? " ulang Alviro
"Iya, tadi aku di gigit semut. Lihat ni gatal " ujar Jihan menggaruk garuk punggung dan lengannya.
Alviro tersenyum, ia mendekati istrinya. Alviro tahu jika Jihan mencari cari alasan, tetapi ia tidak mau membuat Jihan merasa semakin malu.
"Sini aku bantu garukin" tawar Alviro. Ia sudah siap hendak menggaruk punggung Jihan.
"Eh gak usah" Tolak Jihan menjauhkan punggung nya dari jangkauan Alviro.
"Loh kenapa? kan kita udah sah" ujar Alviro.
"Bukan gitu, tapi... " Jihan malah menjadi serba salah ingin beralasan.
"Tidak apa apa sayang, aku bisa memaklumi nya kok" balas Alvaro, ia hanya menakut nakuti Jihan saja. Alvido tahu kok, jihan hanya terlihat dari luarnya saja liar, padahal Jihan sangat sangat penakut dalam hal hubungan.
"Oh iya, tadi aku keluar cuma memesan makanan untuk kita makan. Aku lagi malas masak, terlalu banyak bahan yang kosong di kulkas" jelas Alviro.
"Uhmm Begitu" lirih Jihan tersenyum canggung.
"Apa masih sakit, kakinya? " tanya Alviro, ia teringat tadi Jihan loncat loncat dan memukul mukul kepalanya.
"Umh.. Udah gak sakit benget kok" jawab Jihan.
"Bagus lah, aku sedikit khawatir tadi, apalagi lihat kamu loncat loncat tadi" balas Alvaro lagi, membuat Jihan semakin malu.
...----------------...
"Arrrggghhh!!!!!!!! "
Brangg~
Prang~
"Jihan!!!!!!!! " teriak Lidia melempar segala benda yang ada di sekitarnya meluapkan emosinya.
"Lihat saja nanti, gue gak akan biarkan lo bahagia!!! "
"Lo dan keluarga lo akan hancur!!!! "
Lidia terus berteriak sekencengnya. Suara besarnya tidak terdengar keluar, karena memang kamar Jihan kedap suara.
Mirna masuk ke dalam kamar Lidia, ia kaget melihat kamar adik nya sudah seperti kapal pecah.
"Lidia!!! "
"Lidia!! " bentak Mirna. Ia menarik bahu Lidia agar menghadap padanya.
"Dengerin aku!! Tenangin diri kamu!! kamu gak boleh seperti ini!!! "
Lidia menghela nafas, dadanya turun naik menahan emosi yang bergejolak mengingat penghinaan yang Kea lakukan padanya, dan semua itu karena Jihan.
"Jihan!! gue benci sama gadis itu!!! "
"Iya aku tahu!!! aku tahu!!, tapi gak begini caranya Lidia. "
Mirna menuntun adiknya duduk ke tepi ranjang, lalu memeluknya erat.
"Sayang, kakak tahu apa yang kamu rasakan. Karena kakak juga sangat membenci mereka" lirih Mirna. Lidia terisak di dalam pelukan kakaknya.
"Aku benci dia kak, pria itu juga sangat memuakkan!! "
Pria yang di maksud Lidia adalah Alviro. Seperti yang kita tahu, Lidia adalah gadis kecil yang mengambil andil di masa kecil Jihan dan Alviro.
Lidia dan kakaknya sengaja membuat Jihan dan Alviro bertengkar. Mereka berhasil membuat Alviro membenci Jihan, meskipun hanya dalam waktu seminggu saja. Tapi Mereka berhasil membuat Jihan pergi jauh dan tidak menyukai Alviro.
"Kita harus membuat perhitungan kak, gue gak suka melihat, mereka bahagia! gue mau mereka hancur sehancur nya!!!! "
"Kamu gak perlu khawatir sayang, kakak sudah memiliki sebuah ide untuk menghancurkan mereka! " Mirna menatap lurus ke depan, raut wajahnya sulit di artikan.
...----------------...
Jihan dan Alviro duduk di balkon apartemen. Jihan duduk di depan Alviro yang sedang memegangi gitar.
"Apa kamu bisa memainkannya? " tanya Jihan dengan mata berbinar, ia sangat suka melihat pria pandai bermain gitar.
"Aku sangat suka bermain gitar, karena seseorang sangat menyukai pria sedang bermain gitar. " ujar Alviro jujur.
Deg~
"Aw... Sakit tahu"
"Kamu sih, gemesin" balas Alviro masih saja mencubit pipi istrinya gemas.
"Aduhhhh Alvieo, jadi mau main gitar gak? atau cuma mau megang gitarnya saja" gerutunya Jihan muka kesal.
"Kalau begitu, beri aku satu lagu untuk di nyanyikan" kata Alviro. Jihan berpikir sejenak, ia bingung ingin request lagu apa.
"Judika, cinta karena cinta" ucapan Jihan.
"Baiklah tuan putri" ucap Alviro. Ia pun mulai bersiap memetik senar gitar, menjadi aliran musik yang sangat indah.
Aku hanyalah manusia biasa
Bisa merasakan sakit dan bahagia
Izinkan ku bicara
Agar kau juga dapat mengerti
Kamu yang buat hatiku bergetar
Rasa yang telah kulupa kurasakan
Tanpa tahu mengapa
Yang kutahu inilah cinta
Cinta karena cinta
Tak perlu kau tanyakan
Tanpa alasan cinta datang dan bertahta
Cinta karena cinta
Jangan tanyakan mengapa
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara
Kamu yang buat hatiku bergetar
Senyumanmu mengartikan semua
Tanpa aku sadari
Merasuk di dalam dada
Cinta karena cinta
Tak perlu kau tanyakan
Tanpa alasan cinta datang dan bertahta
Cinta karena cinta
Jangan tanyakan mengapa
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara
Cinta karena cinta
Tak perlu kau tanyakan
Tanpa alasan cinta datang dan bertahta
Cinta karena cinta
Jangan tanyakan mengapa
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara
Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara
Alviro mwyanyikan lagu sembari memetik gitar. Sigit matanya tak beralih dari Jihan, seolah olah lagu itu mengungkapkan perasaannya pada Jihan.
Sementara Jihan masih mesin terpaku di tempatnya. Ia sangat terkejut melihat cara bermain Alviro.
"Tidak mungkin" Jihan menggeleng kuat, menghalau pemikiran yang ia sangat takut untuk mengakuinya.
"Sayang? kamu kenapa? aku tidak bagus mainnya? " tanya Alviro khawatir.
Lagi lagi Jihan menggeleng, ia sangat menyukai Alviro bernyanyi dan bermain gitar. Tapi, cara dan suara Alviro mengingatkan nya pada seseorang.
"Maafkan aku" lirih Jihan. Ia beranjak dari duduknya, masuk ke dalam kamar dan langsung tidur.
Alviro maletakkan gitarnya, ia menyusul Jihan masuk ke dalam. Langkah kakinya terhenti ketika melihat Jihan berbaring di atas ranjang dengan bahu bergetar. Alviro sadar, mengingat masa lalu adalah hal yang menyakitkan bagi Jihan.
"Apa sesakit itu? apa kamu benar-benar merasa masa lalu mulai adalah kutukan yang paling menyeramkan? " batin Alviro. aja hanya berdiri 3 langkah dari ranjang menatap punggung Jihan yang sedang menangis membelakangi nya.
"Maafin aku Ji, aku gagal membuat mu bahagia. Aku memang tidak berguna, aku sangat sangat bersalah karena tidak mendengarkan apa yang kamu katakan dulu" Alviro menunduk sedih, ia benar-benar menyesali kesalahannya.
Sebenarnya Alviro sengaja membawa gitar c ke balkon, ia ingin membuat Jihan perlahan mengingat dirinya dan memberi sinyal bahwa suaminya adalah pria yang selama ini mencintainya. Ingin sekali Alviro mengungkapkan semua itu. Tapi, Alviro tidak memiliki keberanian itu, ia sangat takut jika Jihan kembali memilih pergi darinya.
"Maafin aku Jihan!!! " teriak Alviro di dalam hatinya. Sejak tadi ia hanya bisa memaki dirinya di dalam hatinya.
Tidak tahan mendengar isak tangis Jihan, Alviro memilih untuk membiarkan Jihan sendiri di kamar. Ia memberikan Jihan ruang agar bisa menenangkan dirinya.
...----------------...
...----------------...
Bagaimana? apa kita kasih Malam pertama di episode selanjutnya??? sudah siap kah? Berjanjilah untuk tetap mendukung Jihan dan Alviro. Berikan krian dan saran terbaik mu. Agar author semakin semngat dan menjadi lebih baik lagi dalam berkarya.
Makasih semuanya 😘😘
LIKE + VOTE + SHARE + HADIAH + KOMEN.