
Setelah 2 minggu libur, akhirnya hari ini seluruh siswa siswi Arya Jaya kembali ke rutinitas biasanya. Namun, untuk 1 minggu awal masuk di periode terbaru ini. SMA Arya Jaya selalu mengadakan class meeting. Di mana pihak sekolah ingin melihat bakat bakat terpendam yang siswa siswi nya miliki.
Untuk masa orientasi siswa baru akan di lakukan satu minggu setelahnya.
"Ji, lo mau ikutan kontes apa? " tanya Ria. Diantara mereka bertiga hanya jihan yang belum memilih perlombaan apa yang akan ia ikuti.
"Gue gak mau ikut deh, gak ada yang menarik perhatian gue" jawab Jihan dengan malas. Fela dan Ria mendengus pasrah. Mereka tidak bisa memaksa jihan untuk ikut.
Merasa bosan di dalam kelas, Jihan memilih keluar. Melihat pertunjukan dari peserta peserta yang sedang ikut kontes nyanyi.
"Kemana tu anak? " ujar Fela pada Ria. Mereka bangkit dari duduknya, lalu pergi menyusul Jihan.
Tepat di atas panggung yang sudah di gelar di tengah tengah lapangan basket yang ada di luar, Alviro dan anak anak Wolf lain nya naik ke atas panggung. Mereka mengambil posisi masing-masing.
"Selamat siang semuanya"
Deg.
Jihan mendengar suara yang sangat ia kenal menggemah di seluruh penjuru sekolah. Langkah kaki yang tadi ingin pergi, kini malah terhenti tepat di depan panggung.
Jihan menatap suaminya yang dengan gagah berdiri di atas panggung. Sebuah gitar listrik di tangannya.
"Kami di sini bukan untuk ikut lomba, tapi untuk menghibur kalian semua"
Anak anak yang sibuk dengan perlombaan lain langsung meninggalkan perlombaan. Mereka langsung berkumpul di depan panggung. Jihan saja sampai heran melihat nya.
"Buat orang yang terkasih, orang yang paling gue sayang" Alviro berpidato di atas panggung, sorot matanya lurus pada Jihan.
Ngapain sih tuh bocah. Awas aja kalo sampai buat gue malu!.
Jihan masih berdiri di tempat, menatap suaminya yang terus mengeluarkan kata kata manisnya.
"Ya ampun, kak Alviro manis banget ya"
"Udah tampan, pinter.. Uuu gak ada tandingannya"
"Alviro!!! I LOVE YOU!!!! "
Jihan melebarkan matanya mendengar teriakan teriakan siswi lain untuk Suaminya. Antara ingin marah, Jihan merasa jengkel mendengar nya.
"Cieee.... Ada yang marah ni ye" goda Ria menyenggol bahu Jihan.
"Apaan sih"
"Udah, ngaku aja" kini Telah pula yang menggoda, membuat Jihan merasa sangat malu dan hendak pergi.
"Jihan! " Alviro memanggil Jihan menggunakan mic. Otomatis semua perhatian tertuju pada nya.
"Jangan pergi. " kata Alviro lagi. Bukannya senang, Jihan malah sibuk memaki suaminya yang sudah membuat dirinya malu menjadi pusat perhatian. Alviro sudah tahu akan hal ini, namun ia tidak akan mundur.
Jihan masih membelakangi panggung, ia tidak berani membalikkan tubuhnya menghadap ke alviro.
"Aku akan menyanyikan sebuah lagu untuk orang yang sangat aku sayang"
Trengg~~~~
Alunan musik pun mulai mengalun beriringan dengan petikan gitar Alviro. Ria dan Fela langsung menarik tangan Jihan dan membawanya ke depan panggung.
Jihan dan Alviro memang sudah menikah, namun pernikahan nya masih belum di publish. Jadi para siswa siswi lain hanya menganggap mereka sedang pacaran.
Melihat tawamu
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas di mataku
Warna-warna indahmu
Menatap langkahmu
Meratapi kisah hidupmu
Terlihat jelas bahwa hatimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki
Sifatmu nan slalu
Redakan ambisiku
Tepikan khilafku
Dari bunga yang layu
Saat kau disisiku
Kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki
Sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu
Sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki
Sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu
Sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki
Jihan tak bergerak, ia tidak mampu berkata apapun. Hingga lagu selesai Jihan masih berdiri mematung menatap lurus pada Alviro yang tersenyum padanya.
"I Love You Jihan Aisyah Rafier"
"Yeayyyyyyy, Balas!!! "
"Balas!!! "
"Balas!!! "
Jihan menatap semua teman temannya bersorak untuk nya. Pipinya merona menahan malu.
"Naik Jihan!! " Sorak Fela mendorong tubuh Jihan untuk naik ke atas panggung. Jihan pun terpaksa untuk naik ke atas.
"Jawab!!! "
"Jawab!! "
Alviro memberikan mic nya pada Jihan, menunggu jawaban dari sang istri. Ia sengaja melakukan semua ini untuk menebus kesalahan nya yang selama ini sudah buta. Tidak memiliki percayai Jihan yang memang tidak pernah mengacaukan prestasi nya.
" I Love You too" balas Jihan, lalu berhambur ke pelukan Alviro untuk menyembunyikan wajahnya.
Tak jauh dari perkumpulan konser dadakan itu. Ada seseorang yang mengenakan hoodie dan memakan masker serta kaca mata hitam. Ia tersenyum licik di balik masker itu. Entah apa yang akan ia lakukan untuk Jihan dan Alviro nantinya.
Semua orang mulai bubar, mereka kembali ke perlombaan masing-masing. Para panitia penyelenggara acara hanya bisa menghela nafas melihat ulah Alviro.
"Terimakasih" bisik Jihan.
"Tidak perlu berterimakasih sayang. Kau adalah hidupku. Maaf atas kesalahan ku di masa lalu"balas Alviro dengan nada suara menyesal.
" Aku sudah tahu semuanya, kau tidak bersalah. "
Alviro merenggangkan pelukannya agar ia bisa menatap wajah istrinya.
"Mari kita mulai dari awal"
"Umm benar-benar dari nol" balas Jihan, kemudian mereka kembali saling memeluk.
Mereka lupa jika di lapangan masih ada banyak siswa siswi yang memperhatikan adegan mereka.
"Lupakah kalian dengan kehadiran kita? " gumam Alby
"Tau ih, gue masih jomlo ni. Bikin panas aja! " sahut Eldi.
"Biarin.. wekk! " balas Jihan meleletkan lidahnya pada mereka semua.
"Dasar" dengus Liem.
"Babas... Yukk cabut" teriak Fela dari bawah.
"Oke baby"
"Albi kuuuu"
"yuhuuuu"
Semua yang memiliki pasangan pergi semua, tinggal Ringgo, Eldi, dan Liem.
"Sial, seperti nya aku harus mencari kekasih" gumam Eldi.
"Ah bacot! " sahut Ringgo.
"Merek terlalu sombong" Gumam Liem. Mereka bangkit dan turun dari atas panggung karena peserta yang lain akan tampil.
Liem berjalan lebih dulu dari ringgo dan Eldi. Ia harus buru buru ke lapangan basket. Pertandingan basket harus segera dimulai. Jika tidak ada dirinya maka pertandingan basket tidak akan di mulai.
Pak Cio sudah sejak tadi mondar mandir menanti kedatangan Liem. Sebagai kapten basket, harusnya Liem ada di lapangan ini tepat waktu.
"Bo, kemana kapten kalian? "
Boijo pun menggeleng.
"Aku tidak tahu pak, mungkin lagi di luar"
"Saya di sini pak! "
Pak Cio lamgsung berbalik, ia menatap Liem dengan tatapan kesal.
"Kamu ini bagaimana sih. Seharusnya on time dong"
"Maaf Pak, tadi ada urusan mendadak" jawab Liem beralasan.
"Cepat maju ke depan, kamu harus membuka acaranya. " Liem langsung berlari ke mimbar yang sudah di siapkan untuk pembukaan nya. pertandingan bola basket ini, diadakan antar sekolah. SMA Arya jaya sengaja membuat acara basket yang paling besar. Selain mengasah skill anak anak basket sekolah ini, Pak Cio juga ingin menunjukkan pada dunia bahwa team basket sekolah nya adalah yang terbaik.