I HATE YOU, BUT I LOVE

I HATE YOU, BUT I LOVE
EPISODE 23



Jihan dan Alviro masih setia duduk menatap indah nya pemandangan sekolah dari atas. Mereka bisa menikmati semilir angin dan melihat kepadatan kota di sekitar sekolah.


"Lo tadi gak beneran sakit kan? "


Jihan menoleh, ia tersenyum kikuk. Sejujurnya Jihan sangat malas mengikuti pelajaran olahraga. Jihan tidak suka dengan materi itu.


"Gue sebenarnya mau, mengikuti pelajaran olahraga. Tapi seseorang sedang mengerjai gue. Seragam olahraga gue di gunting"


"Apa? lo serius? "


Jihan mengangguk pelan, ia tercengir pada Alviro. Sedikit demi sedikit, Jihan mulai bisa membiasakan diri dengan Alviro. Mungkin Ringgo benar, permasalahan mereka terletak pada insiden pertemuan.


"Lo gak mau tau siapa yang lakuin itu sama lo? atau ngadu sama guru? "ujar Alviro lagi.


Jihan menggeleng pelan, ia juga sempat tertawa mendengar ucapan Alviro.


" Lo pikir gue anak kecil? ngadu ngadu. Gak mungkin kali. Gue cukup diam, dan membiarkan orang itu memperlihatkan diri. Barulah gue akan bertindak"


"Benarkah? "


"Iyalah, masa gue biarin ajah. Sekarang gue bakal biarin mereka bertindak sesuka hatinya. Setelah itu. " Jihan bangkit dari duduknya, kemudian berdiri menatap jauh ke langit biru


"Mereka akan tahu, siapa Jihan Aisyah Rafier sebenarnya!!!! " Teriak Jihan sekeras mungkin.


Alviro ikut berdiri, ia tersenyum pada Jihan. Pola pikir Jihan memang sangat berbeda dengan pola pikir gadis lain. Persis seperti Icha nya. Alviro semakin merasa yakin, jika Jihan benar-benar adalah Icha nya.


"Btw, gue mau ngulang perkenalan kita. Sebelumnya kita kan tidak pernah kenalan. Yang ada hanya insiden yang memalukan! " ujar Alviro sembari mengulurkan tangan.


"Baiklah" Jihan menyambut uluran tangan Alviro dengan senyum yang mengembang.


"Gue, Alviro Reiyen Nugra"


Deg. Ada sesuatu yang mengetuk hati Jihan ketika mendengar nama yang terasa tidak asing di telinganya. Namun, cepat cepat Jihan mengendali ekspresi nya.


"Gue, Jihan Aisyah Rafier" ucap Jihan.


Keduanya saling melempar senyum, tangannya masih saling bertautan. Mata saling berpandangan, hanya detak jantung dari kedua nya yang saling berbicara.


"Lepasin bege"


"Eh iya" kekeh Alviro, ia langsung melepaskan tautan tangannya.


Icha, kenapa gue yakin ini lo. Apa lo benar-benar Icha? tapi, kenapa lo gak ngenalin gue?


Cukup lama Jihan dan Alviro berada di atap sekolah, mereka mulai berbincang bincang soal sekolah, muridnya bagaimana. Sekarang Jihan sudah mengetahui banyak hal tentang SMA ini. Boleh di katakan, mereka sekarang dalam tahap pendekatan.


Jihan dan Alviro berjalan di Koridor sekolah, dari arah yang berlawanan, Ria dan Fela berlari sembari berteriak memanggil Jihan. Mereka terlihat sangat panik sekali.


"Jihan!! "


Fela dan Ria memeriksa setiap inci tubuh Jihan.


"Aduh kalian ngapain sih" serga Jihan menepis tangan kedua sahabat nya.


"He, Alviro! lo bawa Jihan kemana? "


"Lo apain dia? awas aja kalo Jihan kenapa kenapa! " ancam Fela dan Ria bersama.


"Ihh Ria, Fela. Gue gak di apa apain kok! lihat ni, gue sehat sehat ajah, semua anggota tubuh gue masih utuh! "


"Ya kali gue ambil sebelah tangannya" cibir Alviro santai.


"Ih malah ngeledek lo yah!! " geram Fela bersiap ingin menghajar Alviro, namum di tahan oleh Jihan.


"Jihan kok lo nahan gue sih, gue tahu tu cowo pasti udah apa apain lo kan! " sungut Fela ingin menyerang Alviro lagi, namun tetap di tahan oleh Jihan.


"Dia gak apa apain gue kok serius. Kita udah meluruskan semuanya" jelas Jihan. Alviro mengangguk, membenarkan apa yang Jihan katakan.


"Kalian udah Damai? " tanya Ria dan Fela bersamaan.


"Fela, Cubit gue! "


"Tampar gue Ria"


Plak!! Plak!!


"Awh... Sakit bege! " teriak Fela dan Ria bersamaan Jihan dengan tidak berperasaan menampar keduanya. Alviro tercengang melihatnya.


"Gak mimpi gue, kalian beneran udah Damai? " tanya Ria lagi, ia ingin memastikan pendengaran nya tidak salah.


"Ehhhh Stop!!! Stop!!! stop!!! " tiba-tiba lika dan kedua kacung nya berlari dan menyingkirkan Jihan dari sisi Alviro.


"Ayang Alviro, kenapa Damai sih sama murid baru itu! "


"Lah kenapa emang, kayak dajjal aja lo. Suka sama pertengkaran" celetuk Fela mencibir pada Lika.


"Eh eh diam lo yah. Ini gak ada hubungannya sama lo! " bentak Lika pada Fela.


"He Lika, lo apa apaan sih! ganggu aja! " ucap Alviro, kemudian berlalu dari sana dengan menarik tangan Jihan.


"Lah lah.... Pegangan tangan" ujar Ria sengaja memanas manasin Lika.


"Fela, tarik tangan gue juga dong..... "


"Ayukkk.... " Sahut Fela.


"Panas!! Panas!! Panas!! "


"Ihhhh!!!! mereka kok makin hari makin menyebalkan sih!! " gumam Lika mencak mencak.


"Yang sabar yah Lika, kita gak bisa bantu. Ada Alviro sih" ujar Lilie.


"Iya Lika, takut ntar di buli" sambung Jejei.


"Udah ah yuk Cabut! " dengus Lika. Mereka berlalu dari sana.


...----------------...


Mirna masuk ke dalam ruangannya, ia baru saja selesai menghubungi adiknya yang berada di London. Mirna merasa sangat pusing, urusannya belum selesai, tetapi adiknya sudah tidak sabaran ingin tinggal di Indonesia.


"Arrrrr!!!!!!! " teriak Mirna frustasi. Masalahnya semakin rumit, ia tidak bisa melakukannya secepat mungkin. Apalagi Alviro seperti nya sudah mencurigainya.


"Anak keparat itu selalu saja menggagalkan rencana ku! " Gumam Mirna.


Tuk!!! Tuk!!!


Mirna kaget, ia menatap pintu ruangannya lekat. Enaknya di sekolah elit ini, setiap guru memiliki ruangan pribadi masing masing.


"Masuk! " teriak Mirna dari dalam.


Setelah mendengar sahutan dari yang punya ruangan,orang itu pun membuka pintu,kemudian menutupnya kembali setelah masuk.


"Permisi bu, saya sudah melakukan semua yang ibu perintah kan! " ucap orang itu, ia hanya berdiri tak jauh dari pintu. Mirna tidak memperbolehkannya mendekat.


Mirna tersenyum, perlahan rencananya berjalan lancar.


"Bagus, kamu boleh keluar sekarang" titah Mirna. Orang itu mengangguk pelan, kemudian beranjak keluar dari ruangan Mirna.


"Bagus, aku harus membuat gadis itu tidak betah di sekolah ini, sebelum adik ku kembali. Jika dia masih berada di aini, maka adik ku tidak akan bisa menjalankan aksinya" Gumam Mirna tersenyum misterius. Entah apa lagi yang ia rencanakan.


Sementara di depan pintu utama masuk kantor ruang guru, Eldi mengerut melihat seorang siswa keluar seperti menyelinap dari ruangan bu Mirna.


"Ngapain dia masuk ke ruangan bu Mirna? " Gumam Eldi. Ia menatap wajah murid itu, ternyata teman satu kelasnya.


Eldi bersembunyi di balik tembok ketika Murid itu berlari melewatinya.


"Mencurigakan" pikir Eldi. Ia harus mencari tahu apa yang sedang siswa itu lakukan di ruangan bu Mirna.


...----------------...


Sementara itu,di dalam kelas. Geng Wolf menatap heran pada Jihan dan Alviro. Keduanya duduk bersebelahan bak orang sedang pacaran. Baru kemarin mereka mendengar teriakan Jihan yang memaki Alviro. Sekarang mereka sudah lengket bak perangko.


"Gue gak lagi mimpi kan Bas? "


"Entahlah, gue merasa gue juga gak sadar sekarang" sahut Babas.


"Apa jangan jangan dokter di UKS salah ngasih suntikan? " pikir Albi konyol. Babas menegakkan tubuhnya, ia mulai bertingkah bodoh.


"Kalau begitu, gue mau ajak ayang Fela kesana" ujar Babas sembari menarik tangan Fela.


Peletak!!!!


Jihan dan Alviro hanya tertawa melihatnya, seperti nya akan ada berita hot besok pagi. Pasti seluruh penjuru sekolah akan di kejutkan dengan berita Alviro dan Jihan berdamai.


"Au sakit Beb..... Entar aku amnesia gimana? " rengek Babas pada Fela yang entah mengapa tiba-tiba menjidak keningnya.


"Biarin, sekalian masuk ICU" tukas Fela.


"Sungguh kejamnya dikau beb.... " Babas mulai mendramatisir.


"Entar malem, nonton yah. Kita ada pertandingan balap " ucap ringgo.


"Di mana? kalian suka balapan? " sahut Fela.


Ringgo mengangguk, mereka akan melawan anji dan beberapa penantang dari sekolah lain.


Sementara Liem, sejak tadi hanya diam sembari memutar mutar bola basket di tangannya. Ia berusaha untuk menenangkan hatinya yang berkecamuk. Liem sedang mendalami hatinya. Sebenernya apa yang sedang ia rasakan, apakah karena melihat Jihan dan Alviro berdekatan. Atau malah hal lain.


Hufff....


Lagi lagi Liem menghela nafas, ia sengaja tidak bergabung dengan geng Wolf yang sedang berkumpul di meja Jihan. Yah walau jaraknya cuma beberapa langkah doang.


...----------------...