
Liem berjalan santai menuju ke kelas nya, ia mengabaikan setiap tatapan mengagumi dari para siswi siswi tingkat 1 dan 2. Kapten basket itu memang lebih cuek ketimbang anak wolf yang lain.
Tak jauh dari sana, Jasmin dan Cantika tengah duduk di depan kelas nya. Jasmin langsung merapikan penampilannya agar terlihat makin cantik.
Jasmin berdiri dari duduknya ketika Liem lewat di depan mereka.
"Hai Kak Liem... " sapa Jasmin tersenyum centil. Cantika menatap acuh dengan apa yang Jasmin lakukan.
Liem awal nya acuh pada sapaan Jasmin, namun ada yang menarik perhatian nya.
"Oh hay, Kekei.. " balas Liem salah menyebutkan nama Jasmin, membuat gadis itu langsung cemberut.
"Kenapa? " tanya Liem bingung.
"Nama gue bukan Kekei kak! " gerutunya.
Dasar playboy, dari kelakuan lo aja udah tahu sifat lo.
Cantika tertawa dalam hati melihat kelakuan Liem dan Jasmin.
"Eh sorry, gue lupa" balas Liem lagi. Ia berbicara dengan Jasmin, tapi mata nya melirik ke arah Cantika.
"Keliatan banget playboy nya" sindir Cantika.
"What? lo ngomong apa? " tanya Liem, ia menarik Jasmin yang berdiri di hadapannya, kemudian menyingkirkan nya.
Kini mereka sudah saling berhadapan dengan tatapan mata sama sama menajam.
Semua siswa siswi yang ada di situ langsung mengerumuni mereka.
"Dari penampilan si oke yah, tapi dari segi tampang. Gak bener.. " Kata Cantika menantang, ia benar-benar terlihat tidak takut pada Liem.
"Huh,,, " Liem tidak menyangka ada yang mengatakan hal ini padanya. Baru kali ini seorang murid di sekolah ini berani sama anak Wolf.
"Cantika.... " panggil Jasmin berusaha menghentikan Jasmin. Namun gadis itu seolah olah di setani, ia tidak memiliki rasa takut apapun pada Liem.
"Udah deh Jasmin, lo diem aja. Cowo modelan dia gak perlu di takuti. Kemarin iya, dia mentor kita. Tapi sekarang, dia hanya senior yang tidak berkelas. " ucap Cantika lantang.
Liem masih belum mengatakan apapun, ia hanya menatap pada gadis yang benar-benar menarik perhatiannya. Penampilannya biasa saja, cewe tomboy yang benar-benar bukan tipe cewe Liem.
Tapi, ada satu hal yang membuat Liem tertarik pada nya. Yaitu, sikapnya yang berani dan lugu ketika ia sudah ketahuan salah.
"Jadi, menurut lo cowo yang baik itu seperti apa? "
Cantika berubah menjadi gugup, Liem melangkah lebih dekat dengannya dan menyudutkan dirinya yang sudah terduduk di kursi depan kelas nya.
"Ehm... " Cantika tidak tahu harus ngomong apa lagi, seluruh sekolah heboh melihat adegan yang tak pernah Liem tunjukkan sebelumnya.
"Ini kah tanda tanda Liem jatuh cinta??? "
"Wah beruntung banget Cantika. "
"Tapi dia cantik sih"
"Pengen banget jadi Cantika!!! "
Jasmin melirik setiap teman temennya yang membicarakan Cantika. Ia merasa kesal karena tahu fakta bahwa Cantika menarik perhatian kakak senior. Sementara dirinya tidak sama sekali.
"Apa bagusnya sih gadis itu! " pikir Jasmin kesal. Ia pergi begitu saja dari kerumunan itu.
"Wowww...!!!!!! Heboh!! Heboh!!!! " teriak si biang gosip yang baru saja masuk ke kantin.
Alviri merasa terganggu dengan suaranya, sehingga Alviro memanggil gadis dengan penampilan yang serba serbi berlebihan.
"Sindi!!! " Suara lantang Alviro menggema.
"Aduh.. Gue lupa ada dia di sini" rutuk Sindi pada dirinya sendiri.
Jihan terkekeh pelan melihat ekpresi Sindi.
"Ada apa? " tanya Sindi takut takut.
"Kenapa lo teriak teriak seperti kucing ke pincut busway gitu? " Alviro.
"Tau ih, ganggu lagi makan aja" lirih Jihan mendramatis.
"Maaf jihan, gue gak liat kalian di sini" lirih Sindi merasa bersalah.
"Jelasin sedetail mungkin apa yang lo beritakan hari ini? " tegas Alviro.
Mata Sundi berubah menjadi berbinar, ia teringat dengan berita hot yang ia bawa.
"Aduhhhh Kalian tahu gak sih guys!!!! Liem di lorong kelas 1 lagi kepincut sama anak kelas satu"
"Liem noh, lagi berantem sama siswi kelas satu" ulang Sindi.
"Asoy!! " gumam Babas. Mereka langsung bergegas keluar dari kantin. Meninggalkan Sindi yang mulai menggerutu.
"Yeee, udah tau info malah pergi! "
"What?? semuanya ikut pergi??? " ucap Sindi tak percaya, semua anak di kantin sudah pergi bersama geng Alviro.
"Sindi!!!!!!!!!!! " ibu kantin menatap garam-garam pada Sindi. Gara-gara informasi yang ia bawa, semua murid malah pergi begitu saja.
"Seperti nya gue harus kabur!!! " teriak Sindi keluar dari kantin.
Di depan lorong kelas 1 Liem masih menatap Cantika dari dekat. Semakin dekat, semakin Liem merasa tertarik pada gadis itu.
"Coba katakan sama gue, seperti apa cowo yang baik menurut lo" ulang Liem mengulum senyum.
Sementara Cantika menundukkan pandangannya tidak berani menatap ke mata Liem. Jantung nya berdegup kencang, Cantika menggigit bibir bawah nya takut Liem mendengar suara gemuruh jantungnya yang berdetak semakin kuat.
"Jangan menggoda gue" bisik Liem pelan, membuat Cantika mendongakkan kepalanya.
Cup~
"What???? "
"OMG? "
"Liem??? "
semua siswa siswi kaget, melihat adegan tanpa sensor yang terjadi di depan mata mereka.
Termasuk Anak anak Wolf dan geng Jihan. Ketiga gadis itu menutup mulut nya tidak percaya.
"Terimakasih" lirih Liem tersenyum tipis. Cantika tidak sengaja mencium bibir Liem karena kaget, mendengar bisikan Liem.
Mata Cantika melebar, jantung nya semakin berdegup kencang. Suara sorakan teman teman sekolahnya tidak terdengar lagi oleh nya.
"Lo gila? " ucap Cantika penuh penekanan.
"Tapi, lo cium gue" balas Liem lagi.
Bug~
"Aww.. " Liem terhuyung kebelakang menerima bogeman dari Cantika.
"Jangan harap gue akan memaafkan kelakuan lo! " kata Cantika penuh penekanan, ia menunjuk ke wajah Liem.
Lalu kemudian Cantika membela kerumah dan masuk ke dalam kelas nya.
"Wahhh Liem hm romantis juga yah" gumam Fela menatap kagum pada sahabat suaminya.
Mendengar ucapan istri nya, Babas langsung menutup mata Fela kemudian membacakan matra seperti dukun yang sedang mengobati pasiennya dan pura-pura seperti menyembur.
"Dah, lihat gue aja! " ujar Babas.
"Ada ada aja lo" kekeh Ringgo.
Kerumunan itu mulai bubar, karena suara bel masuk sudah berbunyi.
"Wahhh Liem udah mulai jatuh cinta nih" goda Albi.
Liem tersenyum sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Akhirnya" lirih Jihan.
"Ah sudah sudah, ayo ke kelas. Bentar lagi bu Lidia datang. " ujar Alviro.
Mereka pun pergi ke kelas dengan terus menerus menggoda Liem yang baru saja merasakan jatuh cinta.
Liem mengulum senyum ketika mengingat kecupan singkat dari gadis tomboy yang menarik hati nya.
"Lumayan menghibur diri" pikir Liem. Keberuntungan bagi nya ketika pergi dari Kantin karena ingin mengejar Eldi. Eh malah mendapat kecupan manis.
Liem berpikir harus mentraktir Eldi makan sepuasnya. Karena dirinya ia mendapat ke beruntungan.
"Apa gue bilang, Liem itu gak sekalem yang lo liat. Dia itu cuma belum menemukan mainan yang membuat hidupnya berwarna" kata Alviro pada istrinya yang masih belum percaya dengan sifat asli Liem.
"Baguslah, kita semua sudah punya pasang" lirih Jihan.
"Udah gak usah gosipin gue lagi!!! " seru Liem kesal. Eldi juga menatap tajam pada kedua suami istri itu.