
Setelah istirahat kedua, jihan dan kedua sahabat nya pergi ke taman belakang. Mereka ingin duduk santai dan menenangkan pikiran yang selama pindah ke sekolah ini selalu saja ada masalah.
"Bruk"
"Aw.. "
"Jihan!! "
Ria dan Fela langsung membantu Jihan. Fela histeris ketika melihat lutut Jihan berdarah.
"Lika!! lo apa apaan sih, kenapa lo selalu mengganggu kita terus huh! " bentak Ria, ia sudah muak dengan wanita ini, wanita yang tidak tahu diri.
"Lo nanya gue? harusnya kalian tu ngaca! Semenjak kalian pindah ke sini, sekolah ini jadi kacau! " balas Lika tak kalah sengitnya.
Sementara Jihan memegangi lututnya, meskipun dia terlihat kuat, Jihan adalah anak manja yang tidak mau terkena luka.
"Kaki gue terluka, dan semua ini karena lo! " gumam Jihan dengan suara tertahan, ia masih menahan diri agar tidak melawan Lika. Jihan tidak mau terkena masalah lagi.
"Cih, luka sedikit saja lo udah mau nangis" ledek Lilie.
"Bentar lagi nangis... huhuhuhu... " timpal jejei, kemudian tertawa terbahak bahak bersama Lilie.
"Lo udah keterlaluan yah! " teriak Fela hendak menyerang Lika, namum Jihan menahan nya.
"Udah Fel, gak usah ladeni dia. Hanya orang bodoh yang meladeni dia" ucap Jihan melirik lika dengam ekor matanya.
"Bodoh? apa bego kaya kalian" cibir Lika dengan nada mengejek.
Bug!
"Lo udah terlalu memuakkan!! " ucapan Jihan, Ia tidak bisa membiarkan Lika lagi,kali ini Jihan benar-benar sudah kehabisan ke sabaran. Ia langsung menyerang Lika dengan begitu tiba-tiba, sehingga lika tidak bisa membuat persiapan apa apa.
Namun dengan cepat Lika bangkit, ia malah menyerang Jihan balik, Namun Jihan tidakbiarkannya begitu saja, ia dengan sigap menghindari serangan Lika, dan membalas nya dengan cara menambah rambut Lika kuat.
"Lo pikir, dengan gue diam, gue takut sama lo huh??" teriak jihan tepat di telinga Lika.
"Sialan lo! lepasin gue!!!! " bentak Lika.
"Heh Jihan, lepasin lika!!! " teriak Jejei, namun mereka tidak bisa melakukan apapun.
Jihan tersenyum miring, ia melirik ke sudut bangunan, ada sebuah kamera yang mengarah pada nya. Ia semakin menguatkan jambakan tangannya di kepala Lika, membuat gadis itu semakin merintih.
"Lepas? coba aja lepasin diri sendiri. Tunjukin ke hebatan lo sama gue! " cibir Jihan.
"Lepasin bodoh!!! " maki Lika menahan sakit di rambutnya.
"Tolong!!! Tolong!!!! Jihan menyerang Lika!!! " teriak Lilie. Seketika halaman belakang sekolah langsung ramai di kerumuni oleh siswa siswi.
Tak jauh dari sana, ada bu Mirna yang tersenyum miring.
"Kamu tidak akan merasakan kedamaian Jihan, takdir mu akan selalu menderita jika terus bersama Alviro! " gumamnya, kemudian berlalu pergi sebelum ada yang melihat nya.
"Eh kenapa jihan? kenapa dia mejambak Lika? "
"Iya yah, kok Jihan sekejam itu yah"
"Gak nyangka gue"
Bisik demi bisikan masuk ke telinga Jihan, membuatnya sedikit merasa risih. Bukannya dia yang di bela, tapi malah mereka kasian pada Lika.
"Huhuhuhu.... Sakit Jihan, kenapa lo malah jambak gue? gue hanya penggemar Alviro. Tapi kenapa lo sangat marah? " ucap Lika dramatis, ia menangis terseduh seduh agar orang orang mengasihani nya dan malah menatap sinis pada Jihan.
"He, jangan asal ngomong deh lo!! " bentak Ria.
"Lo yang asal, kalian nyerang lika tiba-tiba, padahal kami cuma lagi nongkrong di sini!!! " tukas Jejei memutar balik fakta. Semua orang semakin kaget, mereka tidak mengira Jihan dan teman temannya akan seperti itu.
"Parah yah Jihan, dia sudah memperlihatkan sikap aslinya"
"Iya, "
"Sepertinya dia pindah juga karena masalah ini"
Jihan semakin geram, rahangnya mengeras. Di tatapnya semua orang yang ada di sana dengan tatapan tajamnya.
Sementara di depan kelas, geng Alviro baru saja tiba dan hendak memasuki kelas. Namun langkah mereka terhenti ketika melihat banyaknya siswa siswi berlari menuju ke taman belakang.
"Eh ada apa itu ,mereka lari lari ke belakang?" ujar Babas menatap semua orang yang berbondong-bondong lari ke taman belakang sekolah.
"Yuk yuk lihat" sahut Albi. Mereka ikut berlari bersama siswa siswi lainnya menuju ke taman belakang sekolah.
Ketika tiba di halaman belakang sekolah, mereka di suguhkan dengan pemandangan Jihan tengah mejambak Lika yang tidak bisa melawan sedikit pun. Di sana juga sudah banyak kerumunan.
"What? Jihan dan Lika berantem?" gumam Babas dan Albi kaget. Mereka langsung membela kerumunan, mendekati jihan yang masih mejambak rambut Lika.
"Ji, lepasin anak orang" ujar Babas.
"Alviro, lepasin. Tolong gue Alviro" rengek Lika mengeluarkan air mata buayanya. Namun Alviro tidak bergeming, ia menatap lurus ke wajah jihan yang sama ketika 7 tahun yang lalu. Sorot mata tajam dan nafas yang tidak beraturan karena menahan emosi yang sangat memuncak.
"Ji, lo baik baik aja kan? " tanya Alviro.
"Kok lo malah nanyain dia sih Alviro, yang tersakiti gue!! " protes Lika.
"Ji, lepasin dia. Wanita seperti dia tidak perlu di ladeni" bujuk Alviro. Perlahan Jihan melirik ke arah Alviro.
"Awh.. " Lika meringis kesakitan, ia dengan cepat merapikan rambutnya yang sudah berantakan.
"Lika, lo gak papa kan? " Jejei memeriksa rambut lika dan juga tubuh lika.
"Yuk cabut" ujar Jihan pada kedua sahabat nya.
"Awas lo" ujar Fela pada Lika sebelum berlalu pergi menyusul Jihan.
"Makasih yah Al" gumam Lika tersenyum. Namun Alviro tidak menanggapinya, ia malah ikut pergi.
Alviro hanya melirik Lika sebentar, kemudian berlalu dari sana, di ikuti oleh yang lainnya.
Jihan berjalan cepat di lorong kelas, ia mengabaikan panggilan Alviro yang sejak tadi seperti mengejarnya.
"Fela, tolong bawa tas gue nanti ketika pulang" ujar Jihan.
"Lo mau kemana? "tanya Fela bingung.
"Jangan bilang lo mau bolos" tebak Ria.
"Udah, lo pada gak usah banyak tanya. Gue muak sekolah di sini! " balas Jihan.
"Tapi ji, kita juga mau ikut tahu" rengek Fela.
"Gak boleh, otak lo butuh belajar dengan baik. Jadi lo harus masuk ke kelas nanti. " titah Jihan.
"Yahhhh"
"Udah deh, ikutin ajah apa kata jihan Fela! " ucap Ria menarik tangan Fela menuju ke kelas. Sementara Jihan berjalan menuju parkiran, bukan. Tapi jihan berjalan menuju gerbang sekolah. Ia sengaja berpisah dengan kedua sahabat nya agar Alviro tidak menduga jika dirinya akan bolos.
"Mau kemana non? " tanya pak satpam.
"Itu pak, saya mau pulang. Tadi kak Advan udah ngasih ijin" jawab jihan. Pak satpam terlihat berpikir.
"Udah lah pak, kan bapak tahu kedekatan saya sama kak Arvan. Lagian sekarang kan saya udah gak telat telat lagi " Jihan terus meyakinkan pak satpam untuk mempercayai nya.
"Tapi Non"
"Udah deh pak, masa bapak gak percaya sih" desak Jihan, karena tak kunjung di percaya padanya.
"Dia akan pergi sama saya pak" ucap Seseorang. Jihan menoleh ke sumber suara.
"Bu mirna" ujar pak Satpam menunduk memberikan hormat. Jihan sedikit kaget melihat kehadiran Mirna, kenapa tiba-tiba bu Mirna ada di sini. Cepat cepat jihan mengangguk mengikuti drama bu Mirna, yang penting dirinya terbebas dari pak Satpam.
"Jika pergi bersama saya, apa tidk boleh juga? "
"Ohh yaudah bu, silahkn" balas pak Satpam, ia terpaksa mengijinkan Jihan.
"Yuk jihan, kita bisa terlambat"
"Iya bu" sahut Jihan. Mirna membawanya masuk ke dalam mobilnya yang entah sejak kapan ada di belakang mereka.
Sementara di dalam kelas, Alviro mencari jihan. Ia tidak melihat kehadiran jihan di antara kedua sahabat jihan.
"Di mana Jihan? " tanya Alviro.
"Hemm... "
"Jawab, di mana Jihan?? " ulang Alviro, karena tak kunjung di jawab oleh kedua gadis itu.
"Jihan bolos" Jawab Ria singkat.
"What?? Bolos? " gumam Ringgo.
Cio yang tak jauh dari sana bisa mendengar percakapan Alviro dan teman teman Jihan.
Jika jihan bolos, berarti semua ini sesuai skenario yang Mirna buat. Cio menggeleng pelan, sebenarnya ia tidak tega pada jihan. Wanita itu tidak bersalah.
"Alviro! " panggil Cio dengan suara gemetar, kilasan anak anak wolf memukulinya masih jelas di matanya.
Alviro menoleh ketika mendengar namanya di sebut. "Ada apa? "
"Lo pasti rencanain sesuatu kan!! " ujar Eldi pada Cio.
Alviro langsung berjalan mendekati cio, ia mengangkat kera baju Cio.
"Maaf Alviro tapi ini serius, lo harus selamatin Jihan. Dia dalam bahaya! " ucap Cio gemetar.
"Apa? lo apain Jihan huh!!! " teriak Alviro di depan wajah Cio, membuat pria itu memejamkan matanya ketakutan.
"Mirna membawa Jihan, lo harus selamat kan dia!!!! " cicit Cio menahan sakit di lehernya.
"Sial" umpat Alviro menjatuhkan Cio, kemudian berlari keluar dari kelas.
"Alviro? lo mau kemana? " tanya Arvan yang tidak sengaja berpapasan dengan Alviro. Ia baru saja mendapat berita tentang pertengkaran Jihan dan Lika.
"Gue gak punya banyak waktu, gue buru buru" jawab Alviro langsung berlari menjauh.
...----------------...