
Bab 97
Karena memakai sepatu hak tinggi, resyah kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Dia mengadu kesakitan sambil terus memegangi perutnya.
"TOLONGGG," teriak resyah. Namun di perusahaan itu sudah tidak ada orang. Semua pegawai sudah pulang kecuali para satpam yang tidak mungkin mendengar suara resyah. Karena resyah berada di lantai paling atas. Dan satpam pun jarang ke sana.
Resyah berkali-kali teriak, namun tetap tidak ada satupun orang yang datang.
Resyah mencoba menjangkau tasnya. Sangat sulit menjangkau tas karena dia tidak bisa bangkit. Setelah berusaha keras, akhirnya resyah berhasil menjatuhkan tasnya.
Resyah mengambil ponselnya lalu menghubungi devano.
"Hallo Syah. Kamu tunggu saja di sana, aku sudah dekat Perusahaan" ucap devano di seberang sana
"Cepatlah" ucap resyah kesakitan. Karena menahan sakit, dia berkeringat dingin dan ponsel yang di pegangnya jatuh.
"Hallo, hallo syah. Kamu kenapa"
Bukannya mendapat jawaban dari resyah, devano malah mendengar suara resyah kesakitan. Devano langsung menambahkan kecepatan mobilnya, sehingga beberapa saat kemudian dia sampai di parkiran perusahaan resyah.
Devano berlari masuk ke perusahaan, di dalam lift dia sangat gelisah. Dan ketika lift terbuka dia langsung berlari ke ruangan resyah.
Devano berlari menghampiri resyah."Kamu kenapa" ucapnya. Dan dia bertambah khawatir ketika melihat darah di tempat duduknya resyah.
Devano langsung mengendong resyah, memasuki lift.
"Bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit".
"Tidak, Kita pulang ke mansion saja" devano mengangguk karena dia ingat trauma resyah terhadap rumah sakit.
Sementara itu, Delia dan Leon bertemu dengan Gilang yang juga ingin masuk ke dalam hotel.
"Kalian di sini" ucap Gilang
"Ahh, kebetulan bertemu denganmu di sini. Aku ingin mengembalikan kartu akses ini" ucap Leon memberikan kartu akses itu pada Gilang.
"Ada apa" ucapnya.
"Kami hanya mengantarkan kartu akses kamar utama yang kak Leon hilangkan kemarin malam" ucap Delia.
"Oh, aku akan segera pulang. Namun, jika kalian ingin makan bersama di sini aku akan menemani kalian"
"Menemani?"
"Ya, mungkin kalian akan sungkan nantinya, jadi sebagai manager di sini aku akan menemani kalian agar nyaman"
"Kenapa harus sungkan. Jika kau lupa, biar aku ingatkan bahwa perusahaan ini milik kakak iparku.urusan makanan, kami tidak berniat makan di sini. Aku memiliki caffe, kami akan makan di sana nanti. Terlebih lagi aku tidak suka jika ada orang lain yang menganggu acara makan kami. Lagi pula kedatangan kami ke sini hanya untuk mengembalikan kartu itu, tidak lebih"
Ponsel Leon berdering, dan Leon pun langsung mengangkatnya tanpa menjauhkan diri dari mereka.
"What! Urusan seperti itu saja kalian tidak bisa menyelesaikannya"
"Okee. Aku akan segera kembali ke sana" ucap Leon mematikan sambungan telpon
"Ada apa kak" ucap Delia
"Aku harus kembali ke new York sekarang,ada Masalah di kantor. Sebelum itu, aku antarkan kamu ke caffe dulu"
"Eh nggak usah kak. Kalo gitu kakak pergilah. Aku bisa ke caffe sendirian"
"Kau yakin" Delia menganggukkan kepala.
"Kalo gitu aku pergi dulu. Aku janji, nggak bakalan lama. Dalam dua Minggu, aku akan kembali ke sini untuk melamarmu" ucap leon mengusap-usap kepala Delia.
Leon lalu memeluk Delia "aku pasti akan sangat merindukanmu" ucapnya
BACA TERUS KELANJUTAN CERITANYA YA ☺️ DAN JANGAN LUPA BACA JUGA KARYA BARU AUTHOR YANG BERJUDUL "BAD GIRL" DAN "SILENT DEADLY" YA READER'S TERCINTA ☺️🙏🏻