COLD CEO IN LOVE

COLD CEO IN LOVE
Ancaman



Bab 24


"Sebenarnya kita semua kaget mendapatkan warisan. Karena aku pikir semua harta kakek diberikan kepada resyah" ucap devano


"Aku tidak keberatan sama sekali kalian mendapatkan warisan dari kakek, justru aku senang karena kalian memang pantas menerimanya. Dan untuk Reyhan kau tidak ada alasan untuk menolaknya. Terima saja, oke"


"Tapikan" belum sempat meneruskan ucapannya resyah sudah memotong pembicaraannya


"Nggak ada tapi-tapian terima saja, oke. Kalau kau tidak mau maka silahkan tinggalkan perusahaan dan pergilah yang jauh dari kita semua"


"Nona resyah ini ada surat dari tuan Nino untuk nona.mau saya bacakan" ucap pengacara. Resyah mengganguk


"Resyah cucuku jaga dirimu baik-baik sayang. Maaf jika kakek selama ini merepotkanmu. Mengenai rumah yang kita tempati aku berikan itu untuk anak-anakmu nanti. Namun,jika kau tidak memiliki anak kau bisa menjual rumah dan perusahaan devano dan uang dari hasil penjualan itu kamu sumbangkan untuk sosial. Setelah membaca surat ini kau pindahlah kemansion bersama suamimu. Kakek tidak mau kau akan terus terbayang-bayang mengingat kakek jika kau tetap tinggal disana. Di brangkas kamar kakek ada uang sejumlah 25 miliar kau sumbangkan semuanya kepada yang membutuhkan. Tertando Dino adinata. Baiklah semuanya sudah saya bacakan. Sekarang saya pergi dulu" ucap pengacara.


"Terimakasih pak,sudah repot-repot datang." Ucap resyah


"Ini adalah tugas saya nona"


"Kalau begitu hati-hati" pengacara itupun beranjak pergi.


"Jika semuanya sudah selesai saya pulang dulu, mari om tente" ucap Reyhan berpamitan


"Ingatlah perkataan ku tadi Rey, jika kamu menolaknya besok kamu dan Gilang tidak perlu masuk lagi ke perusahaan"ucap resyah


"Kenapa Gilang di bawa-bawa Syah,dia tidak ada hubungannya dengan ini."


"Kau pikirkan saja baik-baik. Semua keputusan ada ditanganmu besok" Reyhan tidak menjawab lalu beranjak pergi menghampiri Gilang dan Lea.


"Gilang, ayo kita pergi"


"Apa sudah selesai kak"


"Sudah. pengacaranya pun sudah pergi"


"Aku juga melihatnya tadi"


"Dan kamu Lea, sebaiknya sekarang kamu pulang juga. Di dalam sana adalah urusan pribadinya mereka. Jika kamu masuk orang-orang akan curiga padamu. Dan mungkin kamu akan dipecat oleh ayahnya devano."


"Memangnya apa yang kalian bicarakan tadi. Kenapa ada orangtuanya devano ada disini"


"Warisan. Sekarang kau mengerti kan mengapa aku menyuruhmu pergi dari sini" Lea mengganguk.


"Ayo Gilang kita pulang" Gilang hanya mengangguk dan mereka pun pergi. Begitu juga dengan Lea.


Sementara itu di rumah resyah.


"Jadi bagaimana, kalian akan tetap disini atau pindah ke mansion" ucap Sarah


"Kalo papa saranin kalian lebih baik pindah ke mansion. Apa yang kakek bilang di surat itu ada benarnya juga. Itu demi kebaikan resyah"


"Aku akan memikirkannya nanti"


"Sudah larut kami pulang dulu. Kalian berdua istirahatlah juga"


"Iya pa" ucap devano defra,Sarah dan Delia pun beranjak pergi.


"Jangan terlalu dipikirkan Syah. Jika kamu tidak ingin pindah kita akan tetap tinggal disini" ucap devano


"Tapi itu hanya dalam jangka satu tahun, aku akan kehilangan rumah ini dan kamu akan kehilangan perusahaan. Karena kita tidak mungkin mempunyai anak. Kenapa kakek memberi syarat yang sangat sulit"


"Aku tidak masalah jika harus kehilangan perusahaan dan masalah rumah ini, kamu bisa membelinya, bukan"


"Kamu bukan hanya hilang perusahaan tapi jabatan dan pekerjaan juga"


"Kalo begitu nanti aku akan melamar pekerjaan di perusahaanmu"


"Tapi kan"


"Sudahlah jangan banyak pikir. Lihat kita sudah punya solusi untuk segala permasalahan. Sekarang pergilah ke kamarmu dan tidur"


"Kau istirahatlah juga"


"Tentu saja. Aku akan tidur lebih awal" merekapun masuk ke kamar masing-masing dan tidur.


Di pagi harinya resyah sedang sibuk memasak didapur. Devano yang baru bangun mau mengambil minum didapur melihat resyah masakpun menghampirinya.


"Kau sedang masak"


"Ya, mama bilang kemarin kau harus makan sebelum berangkat kerja"


"Tidak usah repot-repot. Kita bisa makan diluar"


"Mama sudah membelikan bahan makanan untuk kita tadi malam. Jika tidak di masak semuanya akan membusuk di dalam kulkas"


"Kau sudah rapi kenapa harus repot-repot masak"


"Sudahlah, pergi mandi. Ini juga hampir masak"


Tak lama kemudian semua masakan resyah sudah tersaji di atas meja. Dan devano pun sudah selesai mandi dan rapih


"Kau sudah masak."


"Ya, ayo makan" merekapun memulai makan sambil berbincang-bincang.


"Nanti sore kita akan pindah ke mansion" ucap resyah


"Apa kamu yakin"


"Ya.aku sudah memikirkannya. Dan menuruti semua keinginan kakek. Bagaimana kau ingin tinggal disana"


"Kalo aku terserah kamu saja"


Beberapa saat kemudian merekapun selesai makan. Resyah membereskan meja makan.


"Kau tunggulah dimobil. Aku akan mencuci piring dulu ini tidak akan lama"


"Apa nggak sebaiknya kita cari pembantu saja syah, kau terlihat sangat kerepotan"


"Bukankah kita sudah pernah membahas ini sebelumnya. Aku tidak suka orang asing masuk kerumah" ucap resyah sambil mencuci piring


"Tapi kamu akan kecapek'an jika harus mengurus rumah dan kantor" ucap devano. Lalu menggenggam rambut resyahdan berucap "Kau terlihat terganggu dengan rambutmu"


"Hanya sedikit panas"


"Apa sudah merasa lebih baik"


"Ya, terimakasih".


Setelah mencuci piring mereka pun pergi bekerja. Devano mengantar resyah terlebih dahulu kemudian baru ke perusahaannya.


 


Sementara itu Reyhan hanya duduk diapartemen .


"Kak Rey, ayo berangkat kerja. Kenapa diam saja disana. kita sudah terlambat kekantor" Reyhan hanya diam


"Kak Rey, ada apa. Apa kakak tidak enak badan"


" aku baik-baik saja"


"Apa Kakak tidak ingin berangkat bekerja hari ini"


"Aku ingin bekerja, tapi"


"Ada apa kak, apa ada masalah. Semenjak kakak keluar dari rumah resyah kakak hanya diam saja"


"Tadi malam adalah pembacaan surat warisan. Dan anehnya aku juga dapat warisan dari kakeknya resyah. Aku tentu saja tidak ingin menerimanya. Karena aku bukan bagian dari keluarga mereka. Lalu resyah mengancam ku jika aku menolak maka aku dan kamu harus meninggalkan perusahaan dan menjauh dari mereka semua"


"Lalu, apa yang kakak pikirkan"


"Aku juga tidak tahu"


"Jika kakak memang tidak ingin menerimanya tidak apa-apa kita pergi saja dari sini dan mencari pekerjaan lain"


"Aku tahu itu. Tapi untuk menjauh dari mereka itu rasanya tidak mungkin. Mereka sudah 10 tahun berada disekitarku. Aku juga sudah menganggap mereka semua sebagai keluarga"


"Kalau begitu kakak terima saja apa yang diberikan kepada kakak. Itu juga kan pemberian orang yang sudah meninggal seharusnya kita terima dan jaga dengan baik"


"Aku hanya merasa tidak pantas menerimanya."


"Mereka sudah memberikannya kepada kakak, bearti kakak pantas menerimanya"


"Tapikan"


"Sudahlah Kak terima saja dan ayo berangkat kerja.jangan buang-buang waktu lagi kita sudah 2 jam telat ke kantor. Bukankah kakak sangat benci telat"


Sedangkan resyah berada diruagannya.


"Ini sudah 2 jam. Apakah Reyhan benar-benar menolaknya dan meninggalkan kantor" batin resyah. dia melihat ke jendela diluar sana dia melihat Reyhan dan Gilang baru saja sampai di parkiran kantor.


"Dia datang" ucap resyah lalu pergi masuk keruangan Reyhan menunggunya datang.


Reyhan dan Gilang terkejut melihat resyah dberada diruangan Reyhan.


"Boss aku baru saja akan keruanganmu" ucap Gilang


"Kalian datang. Aku pikir kalian meninggalkan perusahaan ini"


"Kami hanya telat boss"


"Jika kalian terlambat lebih lama lagi tadi maka ini bukan ruangan kalian lagi. Dan untungnya aku belum menyuruh orang untuk membereskan barang-barang kalian"