COLD CEO IN LOVE

COLD CEO IN LOVE
Trauma RS



Bab 84


"Kenapa dia bisa terluka apa yang terjadi" ucap devano


Gilang memikirkan alasan yang tepat, dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Kalau Delia terluka saat bersama Leon. Dia tidak ingin Delia terkena masalah lagi.


"Aku juga nggak tahu pasti. Aku baru pulang dari hotel, dan ingin memberi kunci cadangan caffe padanya. Tapi, tak jauh dari hotel aku melihat Delia yang sedang pingsan, dengan kakinya terluka. Aku juga tidak tahu berapa lama dia pingsan disana"


"Baiklah terimakasih. Telah membawanya ke sini" Gilang hanya mengangguk


Sementara resyah tidak bersuara apapun. Dia hanya melihat seisi rumah sakit itu, yang membuatnya teringat saat-saat terakhir kakeknya. Keringat membasahi dahinya.


Gilang yang melihat resyah pun berucap "boss kenapa" Resyah hanya menggeleng. Dengan nafas tak beraturan.


"Astaga. Aku lupa" ucap devano memegang bahu resyah


"Ada apa"


"Dia trauma ruang sakit, semenjak kakek meninggal"


"Apa. Sebaiknya kau bawah boss pulang sekarang. Dia terlihat sangat panik"


"Tapi bagaimana dengan Delia"


"Aku akan menunggunya. Dokter juga bilang besok pagi dia akan sadar"


"Baiklah aku titip Delia padamu. Kabari aku jika ada sesuatu" Gilang mengangguk.


"Ayo kita pulang" ucap devano menuntun resyah berjalan hingga ke mobil.


Resyah masih ketakutan, devano dengan cepat melajukan mobil ke mansion.


Sesampainya di mansion devano langsung turun dari mobil. Dia membukakan pintu mobil untuk resyah.


"Syah, ayo turun. Kita sudah berada di mansion"


Tapi resyah tidak menjawab apapun. Dia hanya menatap kosong sama seperti saat dia defresi dulu.


Devano pun mulai panik, tidak menerima respon dari resyah.


"Syah" ucap devano mengoyang-goyangkan tubuh resyah. Namun masih tidak ada responf dari resyah.


Devano lalu mengendong resyah ala bridge style ke kamarnya.


"Syah, kamu bisa dengar aku kan" ucap devano


Namun resyah hanya menatap devano yang duduk di depannya dengan tatapan kosong


"Syah please jangan buat aku takut" ucap devano mengoyang-goyangkan tubuh Devano


"Syah, please jangan kayak gini lagi. Oke, aku janji nggak bakalan bawa kamu ke rumah sakit lagi. Aku juga nggak tahu kalo trauma kamu sampai kayak gini. Dan maaf karena udah lupa dan bawa kamu ke rumah sakit" ucap devano memeluk resyah.


Jam menunjukkan pukul lima subuh. Delia terbangun dari pingsannya.


"Kau sudah sadar" ucap Gilang


Delia tidak menjawab, dia melihat sekelilingnya "rumah sakit" gumamnya


"Ya kau berada di rumah sakit sekarang"


Delia lalu beranjak duduk lalu berucap "aku ingin pulang"


"Kau baru sadar dan ini juga baru jam lima shubuh kau istirahatlah lagi. Besok siang kita tanyakan pada dokter apa kau sudah boleh pulang"


"Aku mau pulang sekarang. Aku juga nggak kenapa-kenapa" ucap Delia beranjak turun dari brankar menuju pintu keluar dari ruangannya.


"Oke. Aku akan bawa kamu pulang"


Gilang membayar administrasi Delia dia lalu mencari taksi untuk mengantar Delia pulang ke mansion.


Beberapa saat kemudian mereka pun mendapatkan taksi.


PERJALANAN MENUJU MANSION


"Devano mungkin akan menanyakan hal kenapa kau bisa terluka" Delia hanya mengangguk


"Jangan bilang kau terluka saat bersama kak Leon. Jika kau tidak ingin dimarahi"


"Baiklah. Terimakasih" ucap Delia yang tak sedikitpun melihat ke arah Gilang. Dia malah melihat keluar dari kaca mobil.


Mereka sudah sampai di mansion, Delia turun dari mobil tanpa sepatah kata pun.


Gilang melihat Delia sudah masuk ke dalam mansion "ke hotel redgreat" ucap Gilang kepada supir Taksi. Karena dia ingin mengambil motornya yang dia tinggal disana