
Bab 60
Resyah tiduran dikamar mendiang Orangtuanya. Dia menahan sakit di perutnya.
Beberapa saat kemudian devano juga masuk ke kamar itu dia membawa beberapa buah yang sudah di potong-potong, dan susu untuk resyah.
Resyah yang melihat kedatangan devano langsung beranjak duduk.
"Ngapain kamu disini. Keluar" ucap resyah yang masih emosi karena Lea memasuki kamar Mendiang orangtuanya. Resyah bahkan tidak ingin barang-barangnya disentuh. Apalagi barang kedua orangtuanya, dia begitu sensitif akan hal itu.
"Aku membawakan beberapa buah, dan susu yang sudah ku campurkan dengan vitamin. Gilang bilang kamu lupa meminumnya, karena itukan kondisimu memburuk"
"Aku bisa sendiri sekarang keluarlah. Aku tidak ingin melihatmu berada disini"
"Kau membenciku Syah"
"Kenapa aku harus membencimu"
"Satu Minggu ini, kau terlihat menghindar dariku"
"Aku tidak menghindari siapapun. Aku sibuk satu Minggu ini kau tahu kenapa alasannya"
"Benarkah sibuk. Tapi kenapa harus pulang jam dua pagi. Kamu pemilik perusahaan itu kamu bisa bekerja dari dirumah"
"Perusahaan adalah sebagian dari hidupku. Sekarang kau keluarlah"
"Makanlah buah dan minumlah susu ini sampai habis. Setelah itu aku akan keluar"
Resyah pun dnegan cepat menghabiskan buah dan susu yang diberikan devano.
"Sekarang aku sudah selesai kau keluarlah"
"Suhu AC disini menghangat. Apa kau merasa kedinginan lagi"
"Kau bilang kau tidak membenciku kan. Tapi kenapa kau mengusirku"
"Aku tidak mau ada orang lain yang masuk ke kamar orangtuaku"
"Aku mengerti. Tapi Syah, izinkan aku disini bersamamu. Aku ingin menjaga kamu dan calon anak kita. Biar bagaimanapun aku bertanggung jawab atasmu dan calon bayi kita. Satu Minggu ini aku bahkan tidak bisa melihatmu walau hanya lima menit sehari"
"Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Ada Gilang yang selalu menjagaku. Karena aku sudah mengangkatnya sebagai asisten pribadiku. Jadi kemanapun aku pergi dia akan ikut bersamaku"
"Gilang itu beda Syah"
"Apanya yang beda"
"Gilang itu asistenmu. Tapi aku suami kamu, dan anak yang kamu kandung itu anakku. Jadi yang boleh menjaga kamu dan kandungan kamu itu aku hanya aku Syah"
"Cukup devano. Aku tidak ingin membahas masalah ini lagi. kita tunggu saja sampai anakku lahir dan kita akan secepatnya bercerai"
"Anakmu? Itu juga anakku Syah. Cerai, kamu selalu saja bilang cerai cerai cerai dan cerai. Aku nggak bakalan cerain kamu apapun resikonya. Dan aku akan bakal jaga kamu dan membesarkan anak kita dengan baik"
Delia mendengar pertengkaran kedua kakaknya itu di luar kamar. Karena hanya kamar itu yang tidak kedap suara.
"Aku harus temuin kakaknya kak Lea sekarang. Dan suruh dia bawa kak Lea pergi jauh-jauh dari sini. Semua keributan terjadi karena Kak Lea" batin Delia lalu beranjak masuk lift turun ke lantai satu dan masuk ke kamarnya.
"Aku harus cari tahu nomornya kak Leon. Tapi yang punya nomor kak Leon cuma kak Gilang" Delia lalu mengingat saat Gilang menciumnya tadi.
"Nggak, nggak, nggak. Kejadian tadi cukup memalukan. Untuk mempertanyakannya pada kak Gilang. Terus aku cari informasinya dimana"
Ucap Delia berjalan mondar mandir.
"Ah, kak Leon kan pengusaha cukup terkenal. Informasinya pasti ada di internet" ucap Delia lalu cepat-cepat membuka laptopnya dan mencari informasi tentang Leon.
"Perusahaannya cukup besar. Tidak susah mencarinya ke new York. Aku harus cari alasan agar bisa ke new York, untuk bertemu dengan kak Leon" ucap Delia setelah melihat semua informasi tentang Leon di internet