
Bab 67
"Kak Gilang. Kau benaran ada disini. Tapi bagaimana bisa"
"Bagaimana bisa, bagaimana bisa. Ini semua karena kamu. Bilangnya ke London tapi malah ke new York. Kamu bikin semua orang khawatir terutama devano"
"Dari mana kakak tahu aku disini"
"Kak Leon yang mengirimiku pesan"
"Dia benar-benar pengadu. Terus apa Kakak menceritakan pada kak devano aku disini"
"Tidak"
"Terus dari mana dia tahu bahwa aku tidak ada di London"
"Aku juga tidak tahu, yang pastinya waktu itu devano menelpon si boss menanyakanmu dan bilang kau tidak ada di London"
"Apa mungkin selama ini kak devano punya orang untuk memata-matai ku di London"
"Mungkin saja. sekarang cepat mandi, aku tidak ingin berlama-lama lagi disini. Pekerjaan sudah menungguku"
"Iya, iya sabar. Dasar penggila kerja" ucap delia menarik kopernya masuk ke salah satu kamar
15 menit kemudian Delia pun keluar dari kamar dan menghampiri Gilang.
"Sudah selesai" ucap Gilang
"Kakak lihat sendiri" ucap Delia
"Ayo pergi" ucap Gilang menarik koper Delia.
Keduanya sama-sama malu karena kejadian ciuman malam itu. Makanya Gilang berjalan lebih dulu karena canggung.
Leon menunggu Gilang dan Delia di parkiran setelah keduanya keluar Leon menghampiri mereka.
"Akhirnya kalian keluar juga. Ayo aku antar kalian ke bandara" ucap Leon
"Kak nggak usah repot-repot. Kakak pasti sangat sibuk sekarang"
"Aku bisa menghandlenya nanti. Lagian ini untuk pertama kalinya kalian kesini"
Mereka lalu masuk kedalam mobil Leon menuju Bandara diikuti dua mobil lainnya yaitu pengawal-pegawalnya Leon.
"Kak Leon, kenapa kau selalu pergi membawa banyak pengawal" ucap Delia
"Bahaya jika aku pergi sendirian"
"Kenapa"
"Para pesaing perusahaan mengincarku"
"Itu karena tidak ada yang menganggapnya sebagai musuh"
"Benar juga. Kak resyah kan baik mana mungkin punya musuh"
"Itu karena tidak ada yang mengancam perusahaanya"
"Ada"
"Oh,ya"
"Kak Leon sendiri orangnya. Kak Leon bahkan ingin mengambil ahli perusahaan kakakku"
Gilang memegang tangan Delia memberi kode agar Delia tidak meneruskan omongannya.
"Hahahaha. Jadi kau menganggapku sebagai musuh kakakmu"
Beberapa saat kemudian merekapun sampai di bandara dan menunggu penerbangan.
"Kak Gilang menyuruhku cepat-cepat kesini. Dan ternyata penerbangan masih satu jam lagi"
"Aku takut kita terjebak macet. Lebih baik datang lebih awal dari pada terlambat"
"Jika tahu begini, lebih baik tadi kita cari makan dulu"
"Kalian ingin makan. Kebetulan tak jauh dari sini ada sebuah caffe"
"Ya jelas maulah. Aku nggak mau kelaparan seperti kemarin"
"Dasar bocil tengil nyebelin. Nggak ada malu-malunya" ucap Gilang mendorong pelan kepala Delia.
"Lebih balik mengesampingkan malu. Dari pada mati kelaparan"
Mereka lalu beranjak ke caffe itu mengisi perut mereka. Tiba-tiba hp Gilang berdering dan yang menelpon adalah frislya.
Leon yang melihat nama frislya mengernyitkan dahinya.
Gilang mengangkat panggilan telpon itu.
"Hallo, fris ada apa"
"Kenapa kau tidak datang ke hotel tadi malam"
"Oh, itu. Aku masih ada sedikit urusan. Apa boss tidak memberitahumu"
"Tidak"
"Aku benar-benar minta maaf. Tapi nanti malam aku akan kesana"
"Baiklah. Aku menunggumu ada hal yang harus kita diskusikan tentang hotel" ucap frislya memutuskan sambungan telponnya