
Bab 44
"Jadi seperti ini rasanya tak dianggap dan ditinggalkan" ucap Lea yang melihat mobil devano sudah menjauh
"Sudahlah, ayo bantu aku berkemas" ucap Reyhan yang tengah merapikan semua peralatan kemping mereka dan memasukkan kedalam mobil.
"Kamu nggak sakit hati lihat devano sama resyah"
"Kenapa aku harus sakit hati. Itu hal yang wajar bahkan mereka berhak melakukan hal yang lebih intim"
"Bukannya kau mencintai resyah"
"Aku memang benar mencintainya. Bahkan sekarang pun masih. Tapi dia sudah jadi istri orang aku nggak bisa ngapa-ngapain lagi selain mengikhlaskannya"
"Apa kau rela kehilangan sebelum memiliki untuk selamanya"
"Cinta itu tak harus saling memiliki. Terbukti disaat aku mengikhlaskannya aku bisa lebih akrab dengannya. Lagi pula aku nggak mau memaksakan kehendak, karena aku tak ingin jiwaku tak tenang. Jika mengikhlaskan bisa membuat hati tenang kenapa harus memaksakan kehendak" ucap Reyhan penuh penekanan disetiap katanya agar Lea mengerti maksud dari ucapannya.
"Tapi pernikahan mereka hanya akan bertahan selama satu setengah tahun. Apa kakak tidka ingin memperjuangkannya"
"Jika dia masih istrinya devano aku tidak akan melakukan apapun. Namun, jika nanti mereka benar-benar bercerai akan ku pikirkan cara untuk mendapatkan hatinya"
DI RUMAH SAKIT
Devano duduk di kursi tunggu menunggu resyah yang sedang diperiksa. Gilang dan Delia yang baru selesai membayar administrasi pun duduk bersebelahan dengan devano.
"Kak, bagaimana keadaan kak resyah" devano hanya menunduk dan menggeleng sebagai jawaban.
Tak lama kemudian defra dan Sarah datang.
"Devano, apa yang terjadi dengan resyah" ucap defra
"Kami semua juga nggak tahu pa. Tadi malam kak resyah baik-baik aja. Dan tiba-tiba pingsan di kamar mandi" ucap Delia karena takut papanya akan memarahi devano karena tidak menjaga Resyah.
Suster keluar dari ruangan resyah lalu berucap "kalian sudah boleh masuk keruangan" lalu beranjak pergi.
"Dokter, resyah ngak kenapa-kenapa kan" tanya devano
"Apa anda suaminya" devano mengangguk cepat.
"Selamat, sebentar lagi Anda akan menjadi seorang ayah.karena istri anda sedang hamil, dan kehamilan sudah 3Minggu"
Deg
Semua orang kaget mendengar ucapan dokter.
"Jadi resyah sedang hamil dok" ucap Sarah
"Iya nyonya. Namun kondisi tubuh dan kandungannya sangat lemah. Itulah penyebab perutnya selalu sakit dan merasakan kedinginan. Terlebih lagi Sepertinya dia mengidam tak ingin memakan apapun. Ini cukup beresiko pada kandungannya. Karena bayi yg masih di dalam perut akan kekurangan nutrisi. Bisa jadi lahirnya pun dengan cara yang tidak normal. Kalau begitu saya tinggal dulu" dokterpun beranjak pergi.
"Jika tidak ada hal yang mengkhawatirkan tentang boss . pak, Bu, devano saya pergi dulu" pamit Gilang
"Gilang, terimakasih" ucap devano. gilang hanya tersenyum dan mengangguk lalu beranjak pergi
"Ma, pa. aku pergi dulu" ucap Delia lalu mengejar Gilang tanpa menunggu jawaban dari mama ataupun papanya.
"Kak Gilang tunggu" Gilang pun menghentikan langkahnya.
"Ngapain kamu ngikutin aku"
"Ya aku cuma mau bilang aja, kalo misalkan rencana kita waktu itu benar-benar berhasil. Dan aku akan punya keponakan" ucap Delia kesenangan
"Stttt, pelankan suaramu. Bagaimana jika tiba-tiba devano kemari" ucap Gilang menutup mulut Delia
"Maaf, aku kesenangan jadi nggak bisa ngontrol emosi" bisik Delia
"Gini nih kelakuan bocil, senang ngomong sampe teriak-teriak. kalo Sedih, nanggisnya sampai jatoh-jatoh" ucap Gilang sedangkan Delia hanya memanyunkan bibirnya.