COLD CEO IN LOVE

COLD CEO IN LOVE
Tidak perlu di anggap serius



Bab 118


Saat berada di lift, delia melepaskan kalung yang di berikan oleh Leon.


"Kenapa.di lepas?" Ucap Leon


"Ini, aku balikin kalungnya sama kakak" ucap Delia meletakkan kalung itu di tangan Leon


"Lho kenapa dibalikin?"


"Itu terlalu mahal kak.benar kata kak Lea, seharusnya kakak kasih kalung itu ke kak Lea"


"Tapi kalung ini memang buat kamu, aku sampai keliling-keliling Jepang lho Del buat beliin Kamu hadiah. Dan kamu malah nolak, nggak ngehargain perjuangan aku banget sih. Lagain kamu itu nggak bisa balikin kalung ini kalo udah Nerima"


"Tapi, aku nggak pernah Nerima kalung itu. Kakak yang langsung pasang saja tadi"


"Udah, aku nggak mau tahu. Pokoknya kalung ini buat kamu dan nggak ada penolakan" ucap Leon memasang kembali kalung itu ke leher Delia, kali ini dia memasangkannya dari depan. Sehingga, jika di lihat dari kejauhan mereka seperti sedang berpelukan.


Gilang menatap lekat ke arah mereka. Dia mengepalkan tangan menahan amarah, karena tidak suka melihat kemesraan Leon dan Delia.


Sedetik kemudian pintu lift terbuka, Delia dan Leon keluar dari lift. Sementara Gilang dan Reyhan masih di dalam lift, karena ruangan delia berada satu lantai di bawah ruangan mereka.


Delia masuk ke ruangannya, diikuti oleh Leon.


"Kakak ngapain ngikutin aku"


"Sesuai janji. Jika aku di sini, aku akna menemanimu seharian"


"Emang kakak pernah janji kayak gitu"


"Ya"


"Ah, jangan di anggap serius kak. Kitakan cuma pura-pura"


"Biar reel aja Del. Biar orang-orang pada percaya kalo kita itu pasangan benaran"


"Aku nggak nyangka kita bakalan ngelakuin hal sejauh ini"


"Kita harus ambil resiko untuk mencapai jalan keluarnya Dari Masalah ini. Lagian, resiko ini juga nggak ngebahayain siapapun kan"


"Emang nggak ngebahayain sih. Tapi, jika nanti kita bilang ke media kalo kita udah nggak ada hubungan lagi, apa itu tidak akan mempengaruhi karir kita nanti"


"Entahlah. Kita lihat saja nanti"


"Ihh, kakak kok nggak ada raut khwatir-khawatirnya sih"


"Ngapain juga mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Udah, jangan terlalu di pikirkan. Sekarang cepat kerjakan pekerjaan kamu. Entar nggak bisa pulang tepat waktu lagi"


"Iya, iya. Lagian aku juga nggak yakin kalo kita bakalan pulang tepat waktu. Palingan juga kita akan terjebak di perusahaan karena wartawan-wartawan itu" ucap Delia berkutik di layar keyboard dan layar monitor.


Beberapa saat kemudian hanya ada keheningan. Leon yang memainkan ponselnya merasa bosan, kemudian menghampiri Delia. Karena Leon semulanya duduk sofa


"Del"


"Hemm"


"Nggak"


"Singkat banget jawabannya"


"Aku lagi serius kerja lho kak"


"Iya deh iya. Kali aja perlu bantuan"


"Emangnya kakak nggak ada kerjaan apa"


"Banyak"


"Di kerjain lah. Udah tahu banyak kerjaan malah gangguin aku di sini"


"Kerjaannya nggak bisa lewat hp. Laptop juga ketinggalan di rumah"


"Kalo gitu pulang aja"


"Aish, kamu ini gimana sih. Kan aku bilang mau nemanin kamu seharian"


"Aku juga bilang nggak usah di anggap serius"


"Tapi laki-laki itu, yang di pegang omongannya Del"


"Kakak butuh laptop?"


"Hemm"


"Ikut aku. Kak Reyhan punya dua laptop. Kakak bisa meminjamnya"


"Aku nggak yakin bakalan di kasih"


"Dia itu orang baik. Pasti di kasihlah. Sebaiknya kakak dekatin dia deh. Baru tahu entar baiknya dia gimana" ucap Delia beranjak masuk ke lift.


Sesaat kemudian, merekapun memasuki ruangan Reyhan dan Gilang.


"Kak Rey" ucap Delia membuka pintu ruangan mereka.


Reyhan dan Gilang menoleh ke sumber suara.


"Delia, ada apa"


"Boleh pinjam laptopnya nggak"


Baca terus kelanjutan ceritanya ya ☺️


Dan jangan lupa baca juga Karya author yang berjudul "BAD GIRL" dan "SILENT DEADLY" ya reader's tercinta 🙏🏻☺️