
Bab 32
"Baiklah, kita akan pulang. Tapi nanti aku akan memanggil dokter dan kamu harus diperiksa"
Resyah tidak menjawab, matanya tertutup menahan sakit dan dingin.
Beberapa menit kemudian merekapun sampai di mansion. Devano mengendong resyah ala bridge style sampai ke kamarnya. Dia lalu menyelimuti resyah dan menaikkan suhu AC supaya menjadi panas.
Devano duduk dilantai disamping resyah. Dia mengamati lekat-lekat wajah istrinya itu. Kemudian mengambil benda pipih di kantongnya dan menelpon dokter Alina sebagai dokter pribadinya resyah.
"Hallo, cepat kemari. Nona resyah sakit" tanpa menunggu jawaban dari sang penerima telpon devano langsung memutuskan sambungan telpon.
"Aku sudah menelpon dokter Alina, sebentar lagi dia akan datang" ucap devano mengelus-elus rambut resyah.
"Apa masih dingin" ucap devano
Resyah mengangguk. Devano lalu mengenggam tangan meniup-niup tangan resyah supaya bisa menghangatkannya. Sementara dia sendiri kepanasan di kamar itu.
30 menit kemudian dokter Alina datang.
"Kenapa lama sekali" ucap devano setelah membukakan pintu
"Maaf vano, dirumah sakit banyak pasien yang membutuhkan saya"
"Kamu itu dokter pribadinya resyah, jadi kamu harus mengutamakan dia dari pada orang lain"
"Maafkan saya vano, tapi semua pasien sama bagi saya"
"Sudahlah, ayo ke kamar" ucap devano lalu berjalan menuju kamar diikuti dokter Alina.
Setelah sampai di kamar dokter Alina mulai memeriksa resyah.
Setelah selesai memeriksa resyah dokter Alina pun berucap "apa kamu sudah menstruasi bulan ini nona"
Resyah menggeleng pelan.
"Apa nona makan dengan teratur akhir-akhir ini"
"Saya kehilangan nafsu makan beberapa hari ini"
"Baiklah kalau begitu, Saya curiga ini adalah efek dari kehamilan. Dulu saya juga memiliki pasien dengan gejala yang sama dan ternyata dia hamil. Dan tidak ada Yang serius mengenai kesehatan nona resyah. Tapi" ucap dokter Alina memberhentikan ucapannya
"Tapi apa dok" ucap devano mulai panik
"Nona resyah kan belum menikah, bagaimana dia bisa hamil jika dugaanku itu benar"
"Astaga, saya pikir ada masalah dengan kesehatan resyah. Saya ini suaminya dok kita sudah 1 bulan menikah"
"Kalian sudah menikah, kenapa saya tidak di beritahu"
"Pernikahan itu terjadi di jari yang sama di saat kakek meninggal. Dokter sebagai dokter pribadinya kakek dulu kenapa bisa tidak tahu"
"Karena tidak ada yang memberitahu. kalau begitu, besok bawalah resyah ke dokter kandungan untuk memeriksa. Besar kemungkinannya kalian akan segera memiliki anak" ucap dokter alina dengan senyum manisnya.
Devano mencoba bersikap biasa-biasa saja dengan apa yang dia dengar. Karena dia tidak tahu harus senang, sedih ataupun kecewa jika benar resyah hamil.
"Kenapa kamu terlihat binggung seperti itu vano. Apa mungkin kamu gugup karena ini anak pertama kalian"
Devano hanya tersenyum masam.
"Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu saya sudah meletakkan vitamin untuk nona resyah beri dia vitamin itu setelah makan. Pastikan dia makan dengan teratur. Jika tidak saya khawatir jika memang nona resyah hamil itu akan menganggu nutrisi pada bayi dalam kandungannya"
di depan pintu
"Ingatlah untuk memberikan vitamin itu pada resyah di pagi dan malam hari dan pastikan dia meminum vitamin itu setelah makan, sebagai calon seorang ayah kamu harus siap siaga 24 jam untuknya"
"Baiklah dok, terimakasih"
"Saya pergi dulu" ucap dokter Alina lalu beranjak pergi. Sedangkan devano kembali kekamar.
-------
Sementara itu dilain tempat Reyhan pusing menemani resyah yang selalu menanyakannya baju mana yang cocok untuknya.
"Kak baju ini cocok nggak sama warna kulit aku" ucap Delia menunjukkan stelan jas warna navy
"Astaga Delia, kita sudah dua jam disini. Dan kamu belum beli baju satupun" ucap Reyhan yang sudah kelelahan
"Kakak sih di tanya bilangnya bagus semua"
"Di bilang bagus aja kamu nggak jadi beli apalagi kalo di bilang jelek"
"Kak Rey nggak ikhlas banget sih bantuin aku"
"Bukan gitu Delia, kita harus ngejar waktu ini udah mau malam mana kita masih harus ke universitas"
"Kita nggak jadi ke universitas.kak Rey daftarin aja aku ke universitas kalian dulu"
"Kamu yakin, kamu nggak mau lihat-lihat dulu"
"Aku sudah pernah kesana dulu. Waktu acara kelulusan kalian apa kakak lupa"
"Maksudku melihat-lihat universitas lainnya"
"Nggak mau buang-buang waktu aja"
"Terus kamu pikir kita di sini nggak buang-buang waktu"
"Nggak"
"Kelakuan perempuan ya, hobi banget belanja sampe nggak ingat waktu"
"Ya begitulah kami" ucap Delia yang sibuk mengaca mengukur baju.
"Oh iya aku kok ngerasa ada yang aneh dari kamu yang tiba-tiba ingin pindah dan devano yang menjual semua aset miliknya. Maaf nih ya, kalo boleh tahu apa kalian ada masalah"
Delia hanya terdiam
"Kenapa? Kok diam aja. Apa memang ada masalah"
"Ah, nggak kok kak. Mungkin itu hanya kebetulan aja. Alasan aku pengen pindah ke sini ya karena ingin lebih dekat sama keluarga" bohong Delia
"Apa benar begitu"
"Ya, apa aku terlihat seperti pembohong"
"Kalo ada masalah apapun itu jangan sungkan-sungkan ngomong ke kakak. Sekarang cepat pilih bajumu dan pulang"
"Iya, nggak sabaran banget sih. Di rumah juga nggak ngapa-ngapain. Lebih abik disini kan" Delia mengedumel