COLD CEO IN LOVE

COLD CEO IN LOVE
Gadis Kecil Pemberani



Bab 66


"Kenapa kakak tidak bilang dari tadi" ucap Gilang beranjak ingin menekan bel namun di cegah oleh Leon.


"Sudah jangan menekan bellnya. Dia mungkin baru tertidur. Biarkan saja dia"


"Aku harus melihatnya kak. Bagaimana jika dia melarikan diri" ucao gilang


"Melarikan diri bagaimana dia tidak mengenal kota new York ini. Sepertinya kau sangat mengkhawatirkannya. Ini, kartu akses apartemen itu. Kau bisa melihatnya Sekarang"


Gilang lalu mengambil kartu akses itu menempelkan dipintu lalu masuk ke apartemen diikuti oleh Leon.


Gilang melihat Delia tidur di sofa. Diapun menghampirinya. "Kenapa kau tidur disini" ucao gilang dia lalu melepaskan jaketnya untuk menyelimuti Delia.


"Kenapa kau tidak angkat saja dia ke kamar"


"Tidak kak. Dia akan menganggapku macam-macam padanya nanti. Dia sangat cerewet aku tidak tahan mendengar celotehannya"


"Kau ingin disini atau ikut aku ke


apartemen sebelah"


"Aku ikut kakak saja. Aku hanya ingin memastikan bahwa dia benar-benar ada disini"


Leon dan Gilang lalu beranjak pergi ke apartemen sebelah. Leon memberikan minuman untuk Gilang.


"Aku mengirimkan kau pesan tapi tidak kau balas. Aku pikir kau tidak terlalu mempedulikan gadis ini"


"Bagaimana tidak peduli, dia adik ipar boss ku. Lagi pula aku baru membaca pesan dari kakak dan langsung pergi kesini. Dia membuat semua orang khawatir saja. Dia bilang ingin pergi ke London tapi malah kesini"


"Kau menyukainya"


"Bagaimana mungkin aku menyukai bocil itu"


"Tapi gerak gerikmu Seperti menyukainya. Terbukti kau snagat mengkhawatirkannya"


"Gadis kecil itu sepertinya sangat kecapek'an. Aku melihatnya duduk di luar kantor. Dan ternyata dia sudah menungguku seharian disana"


"Kenapa dia menemui kakak"


"Dia menceritakan apa yang tidak kau ceritakan padaku"


"Dia menceritakan semuanya"


"Ya. Dia benar-benar gadis yang berani"


"Dia memang benar-benar berani, lucu, menyebalkan, cerewet dan banyak maunya" ucap Gilang tersenyum dia lalu teringat waktu Delia mengaku-ngaku menjadi pacarnya dan mengingat bagaimana dia mencium Delia. Dia lalu mengeleng-gelengkan kepalanya untuk melupakan kejadian ciuman itu.


"Aku hanya mengatakan bahwa dia berani. Kau tidak perlu menceritakan tentangnya sedetail itu padaku"


Di pagi hari di sisi lain negara. Resyah terbangun dari tidurnya dia melihat tangan devano melingkar diperutnya. Dia lalu menatao wajah devano sebentar lalu ingin berangkat pergi. Tapi devano malah mengeratkan pelukannya.


"Berbaringlah sebentar lagi" ucap devano dengan suara khas bangun tidurnya.


"Ini sudah pagi. Kita harus siap-siap ke kantor"


"Please. Kali ini saja. Dulu, waktu kecil kita sering tidur bersama tapi setelah dewasa dan bahkan setelah menjadi suamimu kau tidak ingin tidur bersama denganku dan menjauhiku"


"Sudah berapa kali aku bilang, aku tidak menjauhimu"


"Iya ya. Kau tidak menjauhiku. Tapi kau sibuk" ucap devano memejamkan kembali matanya dan mengeratkan pelukannya.


Sementara itu di London sudah jam delapan pagi. Delia bangun dari tidurnya, dia kaget melihat jaket yang menyelimuti tubuhnya.


"Inikan jaket kak Gilang. Apa mungkin dia ada disini"


"Kau sudah bangun. Cepatlah bersiap-siap kita akan kebandara secepatnya" ucap Gilang lalu duduk disamping delia.


"Kak Gilang. Kau benaran ada disini. Tapi bagaimana bisa" Ucap delia