
Bab 76
Delia baru bangun dari tidurnya. Dia melihat jam di meja. Pukul 10:30. Dia lalu beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Setelah selesai bersiap-siap Delia berjalan menuju caffe.
Delia tidak berniat naik taksi atupun ojek padahal jika dia mau dia bisa saja membayarnya.
Delia lebih memilih jalan kaki ke caffe, yang jaraknya lumayan jauh dari mansion.
Hari makin siang dan teriak matahari semakin memanasi bumi. Delia yang kelelahan berjalan memilih untuk duduk di kursi yang ada di dekatnya.
"Astaga, panas banget" ucap Delia mengipas-ngipasi wajahnya dengan tangan.
"Kaki gue juga pegal banget. Lebih baik gue cari taksi aja deh " ucap Delia lalu memijat betisnya.
Dari kejauhan Delia melihat mobil hitam dengan kecepatan tinggi. Dengan sekejap mobil itu melewati Delia, namun tidak jauh dari Delia mobil itu menabrak sebuah pohon yang ada disana.
Delia yang melihat kejadian itu pun kaget.
"Astaga kecelakaan" ucap Delia berlari menghampiri mobil itu.
Delia mengetuk-ngetuk pintu mobil itu, "apa kau baik-baik saja" ucap Delia.
Delia tidak bisa melihat orang yang ada di dalamnya dengan jelas. Dia lalu menarik pintu mobil yang ternyata terkunci.
"Hey, jika kau masih sadar keluarlah. Mobil ini sudah berasap" ucap Delia mengetuk-ngetuk pintu mobil itu.
Mobil itu lalu terbuka, pemiliknya keluar dengan memegangi kepalanya yang berdarah. Delia membantu pemilik mobil itu keluar.
Setelah pemilik mobil itu keluar Delia melihat ke dalam mobil apakah masih ada orang di dalam sana. Ternyata pengendara mobil itu hanya sendirian.
Seketika Delia terkejut melihat wajah orang yang kecelakaan itu. Orang itu adalah Leon, dia mengendarai mobil dengan kecepatan penuh karena kecewa orang yang selama ini dia cari-cari ternyata ingin menikah dengan orang lain.
"Kak Leon" ucap Delia. Sementara Leon hanya meringis kesakitan
"Kakak mau cari mati ya. Bawa mobil kebut-kebutan kayak tadi"
Leon tidak menjawab dia berjalan menjauhi Delia.
"Kak Leon, ayo aku bawa kakak kerumah sakit"
Ucap Delia mengikuti Leon
"Tidak usah. Aku baik-baik saja"
"Kakak yakin".Leon hanya mengangguk
"Aku mau ke caffe"
"Kau hanya memikirkan makanan"
"Enak saja. Itu caffe milikku"
"Benarkah. Gadis kecil Sepertimu memiliki cafffe"
"Jika kakak tidak percaya, ayo ikut aku kesana. Sekalian aku obati luka kakak" Leon mengangguk.
---------
Resyah masuk ke ruangan Reyhan dan Gilang.
"Ini sudah waktunya jam makan siang. Aku mau pergi ke caffe kalian berdua ikutlah denganku" ucap resyah.
"Delia nggak bekerja hari ini. Apa masih ada ujian di kampusnya" ucap Reyhan
"Aku lupa memberitahu kalian, Delia sudah resign dari kantor"
"Kenapa" ucap Reyhan
"Dia bilang terlalu lelah bekerja di dua tempat. Jadi dia memilih untuk fokus ke ceffe. Lagi pula suasana hatinya sedang tidak terlalu baik sekarang. Kita tunggu saja sampai dia kembali ke kantor"
Reyhan hanya mengangguk. Sementara Gilang hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Gimana kalian mau ikut, ke caffe. Lagi pula kita kesana juga untuk melihat perkembangan caffe itu dan tentunya mengawasi pekerjaan Delia"
"Yasudah, ayo kita berangkat" ucap Reyhan. Mereka pun beranjak pergi ke caffe.
Sementara itu Delia dan Gilang baru sampai di caffe.
"Cepat ambilkan obat p3k" ucap Delia pada salah satu karyawannya.
"Ternyata kau benar-benar pemilik caffe ini"
"Kakak bisa mengartikannya sendiri" Leon mengangguk.
Tak lama kemudian karyawan Delia membawa kotak p3k "ini nona, kotaknya" ucapnya.
"Terimakasih. Bawakan minuman dan makanan terbaik di caffe kita"
"Baik nona" ucap karyawan itu lalu pergi.