
Bab 59
"Aku nggak mau pergi dari sini. Karena devano nggak mungkin ninggalin mansion ini"
"Saya sudah bilang bawa sekalian devano bersama anda. Dan jangan menginjak kaki anda lagi di mansion saya ini"
"Aku nggak mau. Pokoknya aku akan tetap disini" ucap Lea menerobos masuk namun tangannya dipegang oleh Gilang yang berada tak jauh dari pintu mansion.
"Lepasin" ucap Lea menarik tangannya namun Gilang malah mempererat genggamannya.
"Ikut aku" ucap Gilang menarik Lea menghampiri Reyhan dan delia
"Kak tolong beresin barang-barang aku, kita pulang ke apartemen sekarang. Dan dekia tolong beresin barang-barang Lea kirim ke rumahnya"
"Nggak gue nggak mau pulang"
Tanpa menghiraukan ucapan lea, Gilang menarik Lea keluar dari halaman mansion.
"Lho apa-apaan sih" ucap Lea emosi
"Lho yang apa-apaan. Pake rencana tinggal disini segala. Lho itu benar-benar nggak punya malu ya"
"Bilang aja kalo lho itu cemburu kan lihat gue sama devano"
"Cemburu, sama orang kayak lho yang benar saja. Gue bahkan Nyesal udah pacaran sama lho"
"Oh iya. Tapi kenapa setelah putus dari gue lho nggak pernah pacaran lagi" Gilang hanya diam
"Diam kan lho. Bearti selama ini lho belum bisa lupain gue. Itu udah lama Lang, lho harus lupain gue"
"Gue udah lama lupain lho. Bahkan sejak lho tinggalin gue"
"Oh ya. Tapi kenapa gue nggak ngerasa kayak gitu. Dan jangan lupa waktu lho tinggal dua Minggu lagi untuk kenalin pacar lho ke gue".
"Nggak perlu nunggu waktu dua Minggu lagi. Gue udah ada disini" ucap Delia yang mendengar semau pembicaraan mereka.
"Maksud lho"
"Kalian pacaran. Tapi kok gue nggak yakin ya. Bukannya kalian ini belum lama kenal"
"Kita memang belum lama kenal, tapi yang namanya cinta bisa tumbuh dalam waktu satu detik" ucap Delia
"Gilang kok diam aja. Kalo memang kalian pacaran buktiin dong sama gue". Gilang hanya diam
"Kenapa lang, kok diam. Apa jangan-jangan kalian pacaran pura-pura"
"Siapa bilang. Pacarku ini cuma ngehargain kamu sebagai mantannya. Siapa tahu kak Lea yang masih ada perasaan sama pacarku ini. Makanya kita nggak pernah pamer kemesraan di depan kakak"
"Oh iya. Kalo gitu ciuman sing gue mau lihat apa kalian benaran pacaran atau cuma bohongan"
"Jangan bodoh kamu. Kita nggak mungkin ngelakuin hal itu di depan orang" ucap Gilang
"Kenapa tidak, kau tidak berani. Atau tebakan ku benar kau menyuruhnya menjadi pacar pura-puramu"
Karena kesal dengan ucapan lea, Gilang lalu melingkarkan tangannya pada pinggang Delia memperdekat jarak mereka.
Refleks Delia memejamkan matanya. Gilang menyatukan dahi mereka. Beberapa saat kemudian, mencium dahi, mata, pipi, dan mengecup bibir Delia sebentar.
"Nggak mungkin. Kalian pasti pura-pura" ucap Lea yang melihat mereka.
"Terserah kakak mau percaya atau tidak" ucap Delia dengan pipi yang merona
"Sekarang ayo pulang" ucap Gilang menarik tanagn Lea, karena jantungnya terasa tidak aman.
"Nggak mau"
"Kalo lho tetap nggak mau. Gue bakal telpon kak Leon biar dia bawa ke new York"
"Lho ngancam gue"
"Terserah lho mau menganggapnya bagaimana"
"Nih, bawa balik koper lho" ucap Delia mendorong koper Lea.