
"Kamu bisa bawah dokumen-dokumen itu kerumah Syah. Nggak mesti disini juga meriksanya" ucap reyhan
"Terlalu merepotkan"
"Masih ada hari besok Syah, jika sekedar memeriksa dokumen kenapa harus lembur kayak gini"
Dengan muka datar dan tatapan tajam resyah menjawab "tidak ada yang menyuruh kalian untuk tetap disini. Aku juga sudah meminta kalian pulang tadi. Jadi jika kalian ingin pulang, tidak perlu mengomentari apa yang aku lakukan"
"Kak Rey, lebih baik kita pulang. Kayaknya kehadiran kita nggak di inginkan disini. Seperti dia sengaja menyibukkan dirinya"
"Baiklah kalau gitu kita pulang dulu. Ini kunci mobilmu" meletakkan kunci mobil di atas meja
"Kalian bawa saja mobil itu"
"Nggak perlu. Tadi Gilang juga bawa motor kesini. Kamu pergi dulu"
"Hem" ucap resyah Reyhan dan Gilang pun beranjak pulang.
Jam 9 pagi resyah belum juga selesai memeriksa dokumen-dokumen itu. Sementara Reyhan dan gilang sudah datang untuk bekerja.
"Boss kau masih disini, apa kau tidak pulang semalaman" ucap gilang
"Hem"
"Pulanglah dan beristirahat. Aku akan menyelesaikannya" ucap Reyhan
"Tidak perlu sedikit lagi juga selesai"
"Setelah menyelesaikannya kau pulanglah. Harri ini juga tidak ada meeting"
"Selesai" Ucap resyah meregangkan otot-otot tangannya.
"Devano pasti sudah berangkat kerja sekarang, sebaiknya aku pulang sekarang" batin resyah.
"Aku akan pulang dulu, Gilang kamu simpan dokumen-dokumen ini nanti. Dan kalo ada masalah langsung hubungi aku"
"Baik boss" ucap Gilang. Resyah pun beranjak pulang.
"Kak Rey, bukankah si boss sengaja nggak pulang tadi malam"
"Kayaknya sih begitu"
"Terlalu pekerja keras"
"Dia memang pekerja keras. Tapi ada hal lain yang membuat tidak ingin pulang"
"Apa itu"
"Rencana kalian"
"Tapi kak, aku hanya bantuin Delia"
"Bukankah rencana ini malah membuat mereka semakin jauh"
"Aku juga nggak tahu"
10 menit kemudian resyah sampai dirumahnya.
Devano yang mendengar suara pintu dibuka pun menoleh."Kau sudah pulang. Kenapa tidak mengangkat telponku"
Resyah yang terkejut melihat devano ada dirumah pun berucap "k-kau masih dirumah"
"Aku menunggumu disini semalaman"
"Kalau begitu cepatlah mandi dan pergi ke kantor"
"Ada yang ingin aku omongin sama kamu"
"Aku ingin istirahat, bicaranya nanti saja"
"Kalo begitu istirahatlah kamu pasti capek bekerja semalaman" tanpa menjawab apapun resyah langsung naik ke atas dan masuk kekamarnya. Untuk bersih-bersih dan beristirahat.
Sedangkan devano masih berbaring di sofa. Kepalanya terasa bertambah pusing dari kemarin. Suhu badannya pun sangat panas.
Resyah yang selesai mandi duduk di ranjangnya.
"Kenapa mobilnya devano belum kedengaran pergi. Apa dia nggak bekerja hari ini. Tapi wajahnya sangat pucat tadi apa dia sakit. Lebih baik aku lihat keadaannya dari pada menebak-nebak" lalu menghampiri devano yang masih stay berbaring disofa.
"Kenapa masih berbaring disini, bukannya berangkat ke kantor"
Devano membukakan matanya "kenapa kau tidak beristirahat bukannya kau bilang capek tadi"
"Aku bertanya padamu kenapa balik nanya.wajahmu juga sangat pucat apa kau sakit" lalu menempelkan tangannya di dahi devano
"Aku ingin berbicara mengenai kemarin malam"
"Kau demam, Badanmu juga sangat panas. Kalau sakit kenapa nggak tiduran di kamar"
"Aku mau bicara sama kamu Syah, apa kamu sengaja menghindariku karena kejadian malam itu"
"Berhentilah membicarakan hal itu. Lihatlah kau juga menggigil. Ayo aku bantu kau ke kamar"
"Biarkan aku bicara dulu. Setelah itu aku akan pergi ke kantor"
"Pergi ke kantor apanya. Badanmu ini sangat panas. Ayo aku bantu ke kamar"
"Aku tidak akan kemana-mana. Dan kenapa juga aku harus bersembunyi darimu. Mengenai malam itu, lupakan saja. Saat itu kita sama-sama tidak sadarkan diri. Tidak ada yang harus di salahkan"
"Lalu kenapa kau menghindariku"
"Kapan aku menghindarimu"
"Waktu itu di apartemen kau langsung pergi meninggalkanku, aku menelpon tidak di jawab di chat pun tidak di balas. Sampai-sampai kau tidak pulang semalaman. Apa itu tidak menghindari"
"Kemari itu aku terlalu sibuk dan banyak sekali pekerjaan. Sudahlah tidak ada yang harus di omongin lagi ayo aku bantu kamu ke kamar"
"Kau yakin tidak menghindariku"
"Aku yakin"
"Kau tidak berbohong"
"Kalau aku memang ingin menghindarimu sekarang aku tidak akan ada di hadapanmu. Sudahlah ayo ke kamar"
Resyah pun membatu devano ke kamarnya.
"Apa kau sudah minum obat tadi" devano menggeleng.
"Kemarin kau makan apa"
"Aku tidak makan apa-apa dari kemarin. Aku hanya berbaring disofa dan menunggumu" .
"Kau tidak makan dari kemarin, apa kau sudah sakit dari kemarin"
"Tidak, hanya sedikit pusing"
"Kalau begitu kau tidurlah, aku akan memasakkan bubur untukmu"
"Tidak usah, aku tidak lapar"
"Jika kau tidak makan, maka kau tidak akan sehat. Sudahlah jangan ngebantah lagi tidurlah yang nyaman" lalu membenahi selimut devano.
Karena badan devano menggigil
"Apakah dingin" devano hanya mengangguk tanpa membuka matanya.
"Aku akan mengambil satu selimut lagi untukmu" lagi mengambil selimut di dalam lemari dan menyelimuti devano. Lalu beranjak pergi
"Mau kemana"
"Aku akan membuat bubur untukmu. Kau istirahatlah dulu". Lalu bergegas kedapur dan membuat bubur.
30 menit kemudian resyah pun kembali ke kamar devano dengan membawa semangkuk bubur,segelas air hangat dan obat.
"Devano bangunlah dulu, sarapan lalu minum obat,oke" devano membuka matanya lalu beralih duduk.
"Biar aku bantu" ucap resyah membantu devano duduk dan menyusun bantal di belakang devano agar devano merasa nyaman.
"Ini bubur kau makankah dulu". Namun badan devano begitu menggigil.
"Apakah masih dingin" devano mengangguk. Resyah pun dengan cepat menyelimuti tubuh devano kembali.
"Kalau begitu biar aku suapin ya" lalu menyuapi devano makan bubur. Namun baru dua kalu suapan devano tidak mau lagi makan
"Sudah cukup Syah"
"Lho, kan baru dua suapan. makan lagi ya"
"Aku nggak ada selera Syah"
"Kalo gitu satu kali suapan ya" devano mengangguk dan resyah pun menyuapinya kembali.
"Sekarang minum obatnya" memberi obat kepada devano dan segelas air. Devano pun menurut
"Air hangat" ucap devano
"Kenapa? Minumlah lebih banyak. Itu baik untuk tubuhmu" devano pun meminumnya kembali. Kemudian kembali berbaring. Resyah kembali membenahi selimut devano. Kemudian meletakkan mangkuk bekas devano makan tadi ke dapur.
"Lebih baik aku kasih tahu Delia keadaan devano. Siapa tahu Tante akan kesini nanti" lalu menelpon Delia
"Hallo kak"
"Delia, kakak cuma mau ngasih tahu kalo devano sakit"
"Kak devano sakit, pantas saja kemarin dia cuma tiduran di sofa. Tapi dia nggak bilang ke aku kalo lagi sakit. Malah mau antarin aku ke kantor kakak"
"Kamu datanglah kesini. Kasih tahu Tante eh maksud kakak mama juga ya"
"Oke, oke kak. Aku pasti kasih tahu mama"
"Kalo gitu kakak tutup dulu" lalu mematikan sambungan telpon. Dan kembali lagi ke kamar devano.
Betapa terkejutnya resyah melihat devano yang semakin menggigil di atas kasur dengan wajah semakin pucat dan bibirnya sudah agak membiru.
"Devano ya ampun" lalu duduk disamping devano dan menempelkan tangannya untuk memeriksa suhu tubuh devano.
"Kenapa semakin panas. Apa aku tadi salah kasih obat. Tapi aku rasa itu sudah benar" ucap resyah yang berbicara pada dirinya sendiri.