COLD CEO IN LOVE

COLD CEO IN LOVE
Khawatir



"Devano, ayo kita kerumah sakit"


"Nggak usah Syah"


"Kalau begitu aku telpon dokter aja biar kesini".


Lalu mencari nomor dokter di hpnya .


"Bukankah aku sudah minum obat. Kenapa harus panggil dokter"


"Tapi aku takut salah obat kasih ke kamu tadi"


"Sudahlah tidak perlu"


"Tapi kau semakin menggigil"


"Aku rasa sebentar lagi juga baikan. Bukankah kau sudah memberi ku obat"


"Tapiii" belum selesai berbicara devano sudah memotong ucapannya


"Kau tidak perlu khawatir, istirahatlah disini bersamaku. Bukankah kau juga perlu istirahat"


"Apa kau yakin tidak ingin memanggil dokter"


"Istirahatlah bersamaku, Jangan sampai kau juga sakit. Bukankah kau tidak tidur semalaman"


Resyah pun berbaring disamping devano. Dia yang melihat tubuh devano yang tak berhenti menggigil dan wajah yang semakin pucat. Langsung masuk ke dalam selimut dan memeluk devano.


"Apakah, begini terasa lebih baik"


"Bisakah lebih erat" resyah pun semakin mendekatkan tubuhnya ke devano dan mengeratkan pelukannya. Devano pun memeluk resyah juga


"Apakah lebih baik" devano menganggukan kepala. Beberapa saat kemudian mereka berduapun sama-sama terlelap dalam tidurnya.


------


Sementara itu Delia memberi tahu Sarah keadaan devano


"Ma, ayo kita pergi"


"Kemana"


"Kerumahnya kak resyah"


"Kenapa, memangnya. Mereka pasti sedang bekerja sekarang"


"Kak devano sakit ma. Kak resyah yang beritahu aku tadi"


"Apa? Devano sakit"


" Iya ma,ayo buruan kesana. Aku mau lihat keadaan kak devano"


"Nanti dulu. Mama akan memasak makanan untuk mereka dan makanan kesukaan kakakmu"


"Terlalu lama ma, aku mau cepat-cepat lihat keadaan kakak"


"Kamu tuh ya, kalo dekat aja bertengkar terus sama kakakmu. Sekarang dia sakit khawatirkan kamu"


"Kak devano itu nyebelin. Tapi walaupun begitu dia tetap Kakak aku satu-satunya. Dan aku aku sangat menyayanginya tentu saja aku khawatir"


"Kalo begitu kamu telpon papamu dulu. Mama akan segera masak tidak akan lama mama akan minta bantuan bibi supaya cepat"


Deliapun kembali ke kamarnya dan menelpon papanya.


"Hallo pa"


"Ada apa Delia ini papa ada meeting"


"Aku cuma mau bilang kak devano sakit. Aku sama mama mau jengukin dia"


"Apa kakakmu sakit. Oke-oke papa pulang sekarang. Kamu sama mama tungguin papa kita kesana bareng-bareng"


"Iya pa" lalu memutuskan sambungan telpon.


Lea yang berada disamping defrapun berucap "apa tuan muda devano sakit tuan"


"Iya, kamu handle saja meetingnya sebisa kamu. Saya ingin jengguk devano dulu"


"Apa saya boleh ikut tuan, menjenguk tuan muda"


"Jika kamu ikut siapa yang akan menghadiri meeting nanti. Jika kamu ingin menjenguk devano datanglah kerumah istrinya, resyah pemilik perusahaan utama. Kamu tahu kan"


"S-saya tahu tuan, kebetulan resyah juga teman saya"


"Baguslah kalo begitu saya pergi dulu"


"Devano pasti berdua-duaan sama resyah sekarang, ishhh aku harus cepat-cepat selesaikan meeting ini agar cepat ketemu devano. Lagian devano ngapain sih,sakit nggak ngabarin aku" ucap Lea kesal lalu memasuki ruang meeting.


"Apa kalian sudah menunggu lama"


"Nggak kok pah, pas banget kita baru selesai memasukkan makanan kedalam rantang" ucap Sarah


"Baguslah kalo begitu ayo kita pergi, papa tadi juga sudah membeli buah-buahan untuk mereka"


--------


20 menit kemudian Meraka pun sampai dirumahnya resyah.


"Bagaimana kita bisa masuk, resyah sama devano pasti ngak bakalan dengar kalo kita tekan bel" ucap defra


"Iya pa, soalnya kamarnya mereka diatas. Sudah pasti tidak kedengaran" ucap sarah


"Kalian tenang aja. Aku tahu sandinya" lalu menekan sandi dipintu dan pintu pun terbuka.


"Kau tahu dari mana sandi rumah ini"ucap sarah


"Kak resyah sendiri yang ngasih tahu"


"Ya sudah ayo kita ke kamar mereka" mereka bertiga pun naik keatas ke kamar resyah. Sarah mengetuk-ngetuk pintu kamar itu namun tidak ada yang menjawab ataupun membukanya.


"Kok nggak ada yang nyahut" ucap Sarah


"Langsung buka aja mah pintunya, Mungkin kak resyah di kamar mandi".


"Nggak sopan Syah masuk ke kamar orang nggak ngentuk pintu dulu"


"Mama kebanyakan mikir mereka itu anak mama sendiri. Udah biar aku aja yang bukain pintunya" lalu membuka pintu kamar resyah dan tidak ada orang di dalamnya.


"Lah pa,kok ngak ada orang" ucap Sarah


"Coba aku cek di kamar mandi siapa tahu mereka ada disana" ucap Delia lalu memeriksa dikamar mandi dan ternyata nggak ada orang.


"Nggak ada siapapun di kamar mandi"


"Kalo gitu coba kamu telpon resyah" ucap Sarah ,Delia pun menelpon Sarah tapi tidak diangkat karena resyah terlalu lelap tidur dengan saling berpelukan dengan devano.


"Nggak di angkat mah"


"Yasudah kalo gitu kita mencar saja dan cari mereka di seluruh kamar rumah ini dan kalo pun ada apa-apa sana devano resyah pasti akan hubungi kita" ucap defra


"Tapi pah, rumah ini terlalu besar dan begitu banyak kamar"


"Sudahlah jangan mengeluh. Kamu cek semua kamar yang ada di bawah"


"Gini nih kejadiannya. Kalo rumah besar tapi nggak ada pembantu" ucap Delia. Dia lalu menuruni tangga kemudian duduk di sofa.


"Rumah bak istana ini disuruh ngecek kamar satu per satu yang benar aja. Kalo aku orang asing udah pasti tersesat di rumah ini. Walaupun sebenarnya aku sangat khawatir sama kak devano tapi untuk ngecek kamar di rumah ini aduhh ngebayangin pun aku nggak sanggup. Lebih baik aku ngecek kamar rumah sakit. Eh ngomong-ngomong rumah sakit, apa kak devano di bawah kerumah sakit ya. Aku coba telpon ke nomor kak devano aja siaoa tahu diangkat" lalu menelpon devano. Namun suara dering hp devano berada di dekatnya.


"Kok, suara hp nya kak devano ada di dekat sini" lalu mencari-cari hp devano di sofa. Dan benar saja hp devano terselip di sofa tempat devano berbaring tadi.


"Lah ini dia hpnya." Kemudian dia melihat kamar di hadapannya.


"Aku baru nyadar kalo di sana ada kamar. Coba aku cek siapa tahu mereka ada disana" lalu menghampiri kamar itu dan membuka pintu. Dan benar ternyata devano dan resyah ada disana sedang tidur saling berpelukan.


"Dicariin malah peluk-pelukan disini. Tapi baguslah kalo gitu. Aku fotoin dulu ahh" lalu mengambil foto kedua kakaknya itu.


"Kalian lanjutin aja aku nggak bakalan ganggu" lalu menutup pintu kamar dan kembali duduk disofa.


Sementara itu defra dan Sarah turun dari atas dan duduk di sofa.


"Kamu disuruh nyariin kakak dan kakak iparmu malah duduk disini" ucap defra.


"Lah pelankan suara papa,Kedua kakakku itu lagi romantis-romantisan" ucap Delia berbicara sepekan mungkin


"Maksud kamu apa sih Delia, kakakmu itu lagi sakit loh" ucap Sarah


"Mah ngomongnya pelan-pelan aja. Kalo nggak percaya ini aku kasih lihat buktinya sama kalian". Memperlihatkan foto devano dan resyah yang dia ambil tadi.


Sarah dan defra hanya tersenyum


"Sekarang kalian percayakan sama aku" ucap Delia


"Ya sudah kalau begitu, kita jangan ganggu mereka dan tunggu mereka bangun saja" ucap defra


"Mama akan meletakkan makanan di dapur" ucap Sarah lalu pergi ke dapur. Diapun melihat dapur yang berantakan karena resyah memasak bubur tadi dan mangkuk bekas makan devano. Sarah hanya tersenyum. Kemudian kembali duduk disofa.


"Sepertinya kita pulang saja" ucap Sarah


"Lah, kok pulang sih ma"


"Kita hanya akan menganggu kalo tetap disini, ayo pulang" menarik tangan defra dan Delia untuk pergi dari sana