
Bab 145
"Kalo gitu, kak leon langsung aja ke hotel" ucap Delia, dia juga menginginkan Leon baikan dengan frislya
"Kamu ngusir aku Del?"
"Bukan gitu kak, tapi aku lagi sibuk banget sekarang. Jika juga nggak tahu perusahaan kak devano gimana keadaannya. Jadi, lebih baik kak Leon ke hotel bantu-bantu kak frislya"
"Padahal aku mau nemanin kamu lho hari ini"
"Tapi kan ada kak Gilang yang nemanin aku. Kalo aku ajak kakak ke sana, yang ada ntar jadi pembicaraan karyawan"
"Oke, kalo gitu mau kamu". Leon lalu masuk lagi ke dalam taksi, menuju hotel. Sementara Gilang dan Delia juga meninggalkan perusahaan utama menuju perusahaan devano.
20 menit kemudian, Leon sampai di hotel. Untungnya dia tidak terjebak macet.
"Saya ingin bertemu dengan frislya, dimana ruangannya?" Ucap Leon pada resepsionis
"Nona frislya sedang meeting sekarang. Apa sudah buat janji sebelumnya"
Leon menggeleng "saya temannya"
"Kalo begitu, mari saya antar ke ruangannya. Mungkin, sebentar lagi rapatnya selesai"
Leon mengangguk, resepsionis itupun mengantar Leon ke ruangan frislya
"Ini dia ruangannya tuan. Saya tinggal dulu" ucap resepsionis
"Terimakasih"ucap Leon, resepsionis itu pun beranjak pergi.
Setelah menunggu 30 menit di ruangan frislya, akhirnya frislya kembali ke ruangannya.
Frislya yang tidak menyadari bahwa ada Leon di ruangannya, dia malah duduk di kursi kerja dan fokus bekerja.
Untuk beberapa saat Leon menatap wajah serius mantan kekasih yang masih sangat ia cintai itu. "kalo lagi serius, cantiknya nambah" batin Leon
"Ehemmmm"
Suara deheman Leon pun berhasil menarik perhatian frislya. Sehingga frislya beralih menatapnya.
"Kamu... Ngapain di sini"
"Mau ambil mobil"
"Oh ya, tunggu bentar" frislya mengambil kunci mobil Leon dari tasnya, kemudian mengaliri Leon yang tengah duduk di sofa.
"Ini kuncinya, terimakasih" ucap frislya meletakkan kunci mobil di atas meja dan kembali duduk di meja kerjanya
Leon berpindah duduk di kursi yang berhadapan dengan frislya.
"Terimakasih kembali" ucap Leon
Frislya tidak menjawab, dia tetap fokus dengan pekerjaannya.
"Urusannya sudah selesaikan, silahkan pergi" ucap frislya tanpa Melihat ke arah Leon
"Maunya sih gitu. Tapi, calon istri yang minta aku buat datang ke sini, jadi mau nggak mau ya harus di turuti"
"Maksud kamu?"
"Ya, Delia dan Gilang di pindahkan kerja ke Perusahaan devano. Dan dia minta aku buat bantuin kamu di sini"
"Devano juga udah bilang soal itu. Tapi, tanpa kamu bantu pun aku bisa mengerjakan pekerjaanku sendiri"
"Jangan terlalu membanggakan diri"
"Jika kamu lupa, pekerjaan kamu yang menggunung itu aku yang menyelesaikannya. Jadi, nggak usah ngekhawatirin tentang pekerjaanku, kau urus saja sendiri pekerjaaanmu dengan baik"
"Jika aku tidak datang ke rumahmu, kau mungkin masih tergeletak di lantai dan mungkin akan kembali mabuk-mabukan" ucap frislya kemudian kembali fokus ke layar monitor
"Yaudah kalo nggak mau di bantuin. Tapi aku akan tetap disini, karena itu permintaan Delia"
Frislya tidak menjawab apapun lagi.
Hari beranjak sore, semua orang berkumpul di rumah sakit.
"Kami akan kebandara sekarang" ucap papa devano
"Aku ikut, aku mau nganterin kalian. Ah, pasti nanti kangen banget sama kalian"
"Kamu tuh, ada di sini pun jarang pulang ke rumah"
"Hehe, sibuk ma"
"Aku ingin mengantar kalian ke bandara, tapi...."
Ucap devano mengantungkan ucapannya
"Udah nggak apa-apa, kamu di sini aja jaga anak dan istri kamu" ucap mama devano yang mengerti perasaan anaknya itu
"Biar aku yang antar om dan Tante ke Bandara" ucap Leon
"Tapi kak, habis dari bandara aku harus ke hotel sama kak Gilang. Kak frislya juga habis dari ini harus balik ke hotel lagi kan? Jadi, lebih baik kak Leon antarin kak frislya aja" ucap delia
"Kalo gitu, Gilang kamu bawa mobil kakak aja, nganterin mereka ke bandara. Biar motor kamu kakak yang bawa"
Gilang hanya mengangguk. Mereka semua pun pergi ke tempat tujuan mereka masing-masing, tinggal devano yang sendirian di rumah sakit.
Dokter Renata datang untuk memeriksa resyah.
"Devano kan?"
"Iya dok"
"Ikut saya masuk ke dalam. Kamu pasti, ingin melihat istri kamu kan"
Devano mengangguk, dia kemudian menyusul dokter Renata masuk ke ruangan resyah.
Dokter Renata memeriksa infus resyah dan alat-alat lainnya yang menempel di tubuh resyah
"Apa ada perkembangan dok?"
"Untuk saat ini belum Van. Awalnya saya ingin membawanya ke rumah sakit saya di LA. Tapi, melihat kondisi tubuhnya yang lemah, kita tidak bisa membawanya berpergian sejauh itu. Saya juga tidak ingin ambil resiko"
"Apa ada kemungkinan, buat resyah sadar dok?"
"Kemungkinannya hanya 15% devano. Tapi, kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Semuanya Allah lah yang menentukan, kami sebagai dokter hanyalah perantara. Kita berdo'a saja agar resyah cepat sadar, tidak ada yang tidak mungkin jika sang maha kuasa sudah berkehendak"
"Terimakasih dok"
"Saya tinggal dulu. Untuk membantu agar dia cepat sadar, Berbicara terus dengannya, karena dia pasti bisa mendengarnya. Walaupun kecil kemungkinan"
Dokter Renata keluar dari ruangan resyah, devano duduk di kursi samping berankar samping resyah.
"Assalamualaikum Syah, kamu bisa dengar aku kan?" Ucap devano menggenggam tangan resyah.
"Setelah satu Minggu, akhirnya aku bisa masuk ke ruangan kamu Syah. Anak kita sudah lahir Syah, mereka kembar dan cantik sama seperti kamu. Namanya keyra nalista Xander dan karya nalista Xander. Aku nggak tahu kamu suka apa nggak dengan namanya, tapi nanti setelah kamu sadar kalo kamu nggak suka kamu bisa ganti namanya. Aku sengaja letak nama belakang kita jadi nama belakang anak kita, nggak apa-apa kan Syah. Maafin aku ya Syah, padahal kamu kayak gini karena ingin anak kita terlahir selamat. Tapi, aku gagal nyelamatin mereka Syah, dedek kayra pergi ninggalin kita tanpa melihat kita dulu" ucap devano yang sudah terisak, dia mencium tangan resyah yang berimpus, sementara tangan yang satunya lagi mengelus-elus rambut resyah.
"Kakak keyra juga sama kayak kamu Syah. Sudah satu Minggu ini dia nggak mau membuka matanya dan mengeluarkan suara tangisnya Syah. Aku bahkan nggak bisa gendong dia sekarang. Maafin aku ya Syah, jika aku gagal jadi suami yang baik buat kamu. Aku nggak bisa berbuat apa-apa untuk kamu dan keyra. Tapi, bolehkan Syah, aku manggil keyra Dengan nama belakang kamu. Aku sangat berharap kalian cepat sadar dan kita pulang ke mansion. Dedek kayra juga aku makamkan di halaman mansion, biar dia selalu dekat dengan kita"
"Cepat bangun Syah, jangan hukum aku kayak gini. Aku tahu aku gagal nyelamatin anak kita, tapi kamu juga udah janji sama aku bakal baik-baik aja Syah. Cepat sadar Syah, biar kamu bisa lihat secantik dan setangguh apa anak kita melawan penyakitnya. Aku mohon Syah, buka matamu" air mata devano sudah tak tertahankan lagi dan berlomba-lomba untuk keluar. Devano berkali-kaki mencium dahi resyah