
Bab 155
"Delia, jangan pergi. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan sama kamu" ucap Gilang pelan, karena sudah tidak lagi bisa bicara Dnegan lantang. Delia bahkan mendekatkan telinganya ke mulut Gilang untuk mendengarkan apa yang Gilang ucapkan
"Kakak mau ngomong apa?" Ucap delia yang sudah terisak menangis
"Jangan pergi"
"Nggak aku nggak bakalan pergi. Kakak bertahan ya kita ke rumah sakit"
"Nggak dengarin aku dulu. Aku belum selesai ngomong"
"Iya aku dengarin, kakak mau bilang apa?" Ucap Delia membenahi rambut gilang yang mana air matanya menetes ke pipi Gilang
"Aku sayang sama kamu Del. Kamu mau kan menikah sama aku?"
"Iya, aku mau menikah sama kakak. Tapi kakak harus bertahan. Kita harus mengadakan pertunangan dan pernikahan yang meriah" ucap Delia semakin terisak
Gilang hanya tersenyum kemudian kehilangan kesadarannya.
"Kak, kak Gilang. Kak Gilang bangun" teriak delia
--------------
Delia nangis tersedu-sedu di kursi tunggu operasi. Tak lama kemudian, devano dan Resyah datang. Begitupun Dengan yang lainnya.
"Delia, gimana keadaan gilang" ucap devano
Delia mendongakkan kepalanya, dia langsung memeluk devano sambil menangis sekencang-kencangnya.
"Delia, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Gilang bisa kecelakaan"
"Aku nggak tahu kak, yang jelas supir truk bilang kak Gilang hampir tabrakan dengan dia. Dan untungnya, kak Gilang menghindar. Itu membuatnya, jatuh dari motor dan terpental jauh" jelas dia, karena memang supir truk itu menunggu Gilang kembali dan membawanya ke rumah sakit untuk bertanggungjawab. Tapi, Gilang malah di bopong beberapa orang keluar dari bandara, supir truk itupun menawarkan diri untuk mengantarkan Gilang. Dan di perjalanan menuju rumah sakit, supir truk itu menceritakan ke Delia bagaimana Gilang kecelakaan. Hal itu membuat Delia semakin merasa bersalah
"Astaghfirullah, udah ya kamu tenang dulu" ucap devano mengelus-elus punggung Delia
"Gimana bisa tenang kak. Kak Gilang kecelakaan itu karena mau nemuin aku. Supir truk itu bilang kak Gilang nolak buat di antar ke rumah sakit buat nemuin aku di bandara. Motornya juga hancur"
"Nggak usah nyalahin diri kayak gitu del, ini udah takdir. Kita berdo'a agar Gilang nggak kenapa-kenapa" ucap Reyhan
"Kamu dengarkan apa yang Reyhan bilang. Ini tuh udah takdir, jika kamu menyalahkan diri kayak gini, kakak juga merasa bersalah karena udah ngasih tahu Gilang kalo kamu di bandara"
"Iya Del. Tenang dulu, kita berdo'a agar operasinya lancar dan Gilang cepat sembuh" ucap Resyah
"Delia sebegitu khawatirnya sama Gilang. Sepertinya dia suka sama Gilang. apa itu penyebab Delia dan kak Leon putus" batin Lea melihat ke arah Leon lekat-lekat
"Kenapa?" Ucap Leon yang sadar di lihat oleh Lea. Lea hanya menggeleng
2 x 24 jam sudah setelah berada di ruang operasi. Akhirnya, dia sadar. Dan selama itu pula, Delia menunggunya.
"Kakak kau sudah sadar, dokter. DOKTER!" Delia memanggil dokter dan tak lama kemudian dokter pun datang.
Sementara, devano, resyah dan baby keyra, Reyhan, Lea, Leon dan frislya ikut masuk ke ruangan Gilang.
"Ada apa?" Tanya Reyhan
"Alhamdulillah, pasein sudah melewati masa kritisnya" ucap dokter.
Delia mendekati Gilang, terang-terangan dia menggenggam erat tangan Gilang sambil berucap "kakak, kau sudah sadar?" Sambil mengusap rambut gilang.
Semua orang yang ada di sana saling pandang, bingung dengan apa yang mereka lihat.
Gilang mengernyitkan dahinya "Kau siapa?" Ucapnya.
"Apa yang kau bicarakan, aku tidak mengenalmu" ucap Gilang melepaskan tangannya dari genggaman Delia
"What! Kak aku Delia, lihat baik-baik. Kakak datang ke Bandara buat nemuin aku dan meminta aku untuk menikah dengan kakak. Aku calon istri kakak, bisa-bisanya kakak melupakanku" amuk Delia memukul-mukul Gilang.
Semua orang nampak terkejut dengan ucapan delia
Devano menjauhkan Delia dari brankar Gilang. "Del jaga sikap Kamu, Gilang baru sadar" ucapnya
Delia memberontak kemudian kembali mendekati Gilang. "Kau jahat. Setelah mengajakku menikah kau malah melupakanku, AKU BENCI KAK GILANG, AKU BENCI" teriak delia
Gilang menarik Delia ke dekapannya kemudian berucap "ya, ya, ya aku minta maaf. Aku lupa kalo calon istri ku ini sangat cengeng dan ngambek kan"
Delia mendorong tubuh Gilang, kemudian berucap "kau membohongiku! Ih, nyebelin, nyebelin, nyebelin, nggak tahu apa orang khawatir" ucap Delia memukul-mukul Gilang dengan bantal.
"Ah, ampun-ampun" ucap Gilang sambil tertawa
"Heum. Jangan lupakan, bahwa ada kita di sini" ucap devano melihat Delia dan Gilang dengan tatapan kengintemidasi
Delia pun berhenti memukul Gilang.
"Bisa kalian jelas kan? apa yang terjadi" ucap devano
"Aku ingin menikahi Delia" ucap Gilang menatap Delia
"Bukankah dulu kau menolak untuk menikah dengan Delia. Kenapa sekarang malah ingin menikah dengannya, Gilang?"
"Kakak!" Ucap Delia yang tidak suka devano memojokkan Gilang
"Karena dulu aku baru beberapa hari bekerja di perusahaan boss, dan aku juga tidak punya apa-apa. Aku tidak tahu kemampuan ku seperti apa. Waktu itu aku takut, aku tidak bisa memenuhi kebutuhan Delia jika kami menikah"
"Tapi, sekarang kan kamu masih tetap sama, tidak punya apa-apa. Bahkan hanya menumpang di apartemen Reyhan"
"Kakak, omongan kakak udah keterlaluan ya. Kakak lupa, bagaimana kita dulu. Aku nggak peduli kakak setuju atau nggak aku nikah sama kak Gilang, aku akan tetap nikah sama kak Gilang sekalipun papa menolaknya. aku....."
Delia tidak jadi melanjutkan ucapannya, karena Gilang mengenggam tangannya Dnegan erat, agar Delia berhenti bicara.
"Apa yang Delia bilang itu benar Van. Ucapan kamu itu udah melewati batasnya. Aku nggak nyangka kamu bakal ngomong kayak gitu" ucap reyah
"Nggak apa-apa, apa yang di ucapkan devano itu nyata adanya. Aku memang, nggak punya apa-apa, tapi aku akan bekerja keras buat memenuhi semua kebutuhan Delia, walaupun nantinya aku di pecat dari perusahaan, aku akan mencari pekerjaan yang lain, dan pekerjaan apapun itu demi bisa memenuhi kebutuhannya" jelas gilang
"Sepertinya, kalian memang saling mencintai. Gue setuju kalian menikah. Gilang, maaf jika kata-kata ku tadi menyinggung perasaanmu. Karena, aku tidak ingin adikku nantinya jatuh di tangan yang salah"
"Nggak apa-apa. Seharusnya aku yang berterima kasih, karena telah merestui kami. Lagi pula, apa yang kamu bicarakan itu, juga nggak ada salahnya"
"Gimana, kalo kita nikahnya barengan aja. Lebih cepat kalian menikah maka lebih baik kan" ucap resyah
"Benar, niat baik jangan di tunda-tunda lagi" sahut Reyhan
"Tapi kak, pernikahan kalian kan 3 hari lagi. Kalo kita nikah bareng kalian, kita nggak ada persiapan. Apa lagi gaun pernikahannya" ucap Delia
"Kita bisa feeting baju pengantin untuk Delia hari ini" ucap Sarah dan defra yang baru kembali dari Paris. Mereka juga mendengarkan semua pembicaraan mereka.
"Mama" Delia, resyah dan devano bergantian menyalami Sarah dan defra
"Cucu Oma. Akhirnya Oma bisa ketemu sama kamu ya sayang" ucap Sarah mengambil alih keyra dari gendongan Resyah
"Ma, biar papa dulu yang gendong. Papa juga ingin gendong keyra"
"Papa, nggak lihat. Mama belum juga satu menit gendong keyra tapi papa udah mau rebut aja" ketus sarah