
Bab 142
"Heh! Lho pikir lho siapa hah, bentak-bentak gue. Lho pikir gue takut sama lho"
"Nantangin ya lho bocah tengil. Sini lho maju"
Dan terjadinya aksi perkelahian antara Lea dan 4 larang tawanan lainnya.
Salah satu polisi yang mendengar keributan itupun menghampiri mereka
"Hey hey hey, ada apa ini" ucap polisi memukul-mukul sel, sehingga berbunyi nyaring.
"Dia ini pak, baru masuk penjara udah mau ngebossy banget. Mana songgong banget lagi. Dai mau nindas kita pak" bohong salah satu tawanan tadi
"Nggak pak, mereka bohong, mereka yang mau menindas saya" ucap Lea. Terlihat penampilannya yang acak-acakan, tak seperti Lea seperti biasanya.
Polisi itu membukakan pintu sel "kamu ikut saya" ucap polisi itu menunjuk Lea.
Lea pun mengikutinya. Sekarang, Lea di pisahkan dari tawanan-tawanan tadi. Dia di sel seorang diri.
"Kamu diam di sini, dan jangan membuat ke onaran lagi" ucap polisi, lalu beranjak pergi
"Akhhhh" teriak Lea frustasi dan mengacak-acak rambutnya sendiri.
Gilang dan Delia dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Kak Gilang perhatian banget sama kak Lea tadi. Apa benar ya, dia masih punya perasaan sama kak Lea" batin delia
Sementara itu, Leon sampai di rumahnya. Dia melempar semua barang yang ada di dekatnya, sehingga rumah itu sangat berantakan layaknya Kapal pecah.
"Maafkan kakak Lea, kakak harus lakuin ini. Kakak takut, jika orang lain yang melaporkan kamu, kamu bisa selamanya di dalam sana. Dan kakak juga nggak rela, kalo ornag lain yang ngelaporin kamu. Bisa-bisa kakak hilang akal, dan dendam ke mereka. Maaf kan kakak Lea, untuk sementara waktu kamu harus berada di sana" gumam Leon melihat fotonya dan Lea yang ada di galeri hpnya.
Gilang dan delia sampai di rumah sakit.
"Gimana keadaan Lea?" Tanya Reyhan
"Kak Leon melaporkannya ke polisi, dan sekarang dia berada di penjara" jelas Gilang
"Jadi Leon benar-benar melaporkannya?"
"Memang itu yang seharusnya terjadi, bahkan membiarkan dia membusuk di penjara pun tidak akan pernah bisa menghapus kesalahan dan dosa-dosanya" ucap devano tanpa terus berdiri dan menatap resyah.
"Van, duduklah. Kamu juga butuh beristirahat" ucap Reyhan mengalih pembicaraan
"Gue harus jaga resyah Rey, gue nggak bolrh lenggah sedikitpun"
"Van... Kalo lho terus-terusan kayak gini, yang ada lho juga bakalan sakit. Dan nggak bisa ngejaga anak dan istri lho"
Devano hanya diam.
"Ayolah Van, gimana kalo lho antarain gue ke ruangan bayi lho. Gue mau lihat bayi kalian kayak apa" ucap Gilang merangkul devano. Dan hanya di angguki oleh devano.
"Del, tetaplah di sini sampai aku kembali" ucap devano beranjak pergi.
--------------
Devano dan Reyhan sampai di ruangan keyra di rawat.
"Ma, pah. Sebaiknya kalian pulang dan istirahat. Aku bisa jaga resyah dan nalista"
"Mama sama papa akan di sini nemanin kamu Van" ucap mama devano
"Baiklah, jika itu mau kamu. Kami akan pulang, apapun yang terjadi cepat hubungi kami" ucap papa devano menepuk-nepuk pundak devano kemudian beranjak pergi.
"Namanya nalista? Sama seperti nama belakang ibunya" Tanya reyhan manatap bayi yang berada dalam box kaca itu. Dan di tubuhnya terdapat banyak alat-alat medis yang menempel
"Keyra nalista Xander" ucap devano Reyhan hanya mengangguk mengerti
"Dia putri pertamaku Rey. Sementara putri keduaku, kayra nalista Xander. pergi meninggalkan kami bertiga, tanpa melihat kami dulu, ataupun sekedar mengeluarkan suaranya" tanpa terasa air mata devano lagi-lagi keluar tanpa permisi
"Sabar Van, Allah sedang mengujimu. Dan dia tidak pernah menguji umatnya melebihi batas kemampuannya"
"Devano, apa kau ingin melihat putrimu. Tapi, hanya boleh satu orang yang masuk, dan harus memakai pakaian khusus" ucap dokter viola yang baru keluar dari ruangan keyra
"Sana masuk Van" ucap reyham mendorong devano masuk.
Devano memakai pakaian khusus, kemudian berdiri di samping box keyra.
"Assalamualaikum, malaikat kecilnya mama papa. Bobonya lama banget sih sayang, papa belum dengar lho, suara tangisan cantiknya mama papa ini kayak apa" setetes demi setetes air mata devano keluar membasahi pipinya.
"Pasti sakit banget ya sayang, karena tubuh kamu yang kecil di penuhin alat-alat itu. Bertahan ya sayang, dan cepatlah bangun. Mama sudah berjuang keras untuk melahirkan kamu. Dan sekarang, kamu juga harus berjuang untuk bertahan. Mama sekarang juga lagi bertahan, sama kayak kamu. Sehatlah nak, agar kamu bisa melihat wajah wanita tangguh yang selama ini mengandungmu". Devano lalu mencium keyra yang terhalang box kaca itu. Al-hasil, yang dia cium hanyalah box itu.
Reyhan yang mendengar dan melihat itupun, hatinya ikut tersayat-sayat. Dia mencoba untuk tetap tegar dan tidak mengeluarkan air mata, agar bisa menyemangati devano.
SEMINGGU BERLALU....
dan selama itu pula devano tidak masuk kerja. Dia menjaga resyah dan keyra 24 jam. Dan di saat malam hari dia selalu berpindah tempat antara ruangan resyah dah keyra. Karena mereka tidak bisa di satukan dalam satu ruangan.
Sementara, resyah dan keyra tidak ada perkembangan apapun.
Delia, Reyhan, dan Gilang selalu mempir ke rumah sakit setiap pulang kantor. Walaupun hanya menjenguk sebentar, karena Delia harus mengawasi caffenya, Gilang masih harus menghadle hotel dan Reyhan harus menghandle hotel dan seluruh data-data perusahaan dari luar negeri.
"Kak, kakak harus kembali bekerja. Kakak nggak boleh terpuruk kayak gini terus" ucap Delia
"Ada papa yang ngurus perusahaan Del"
"Perusahaan utama butuh kakak"
"Ada Reyhan, Gilang dan kamu kan yang handle perusahaan utama"
"Kak, kakak nggak boleh kayak gini. Kasihan kak Rey dan kak Gilang harus lembur terus tiap hari buat nyelesain pekerjaan. Mereka bahkan bolak balik ke sini, caffe, kantor, dan hotel. Apalagi kak Rey, dia bahkan harus ngehadle semua cabang perusahaan di luar negeri. Ayolah kak, ada mama yang bisa jaga keyra dan kak resyah. Kakak akan tetap pulang tepat waktu, dan bisa jagain kak resyah dan keyra dari sore sampai pagi. Sementara di siang harinya, ada mama yang bakalan jaga mereka. Dan kalopun kakak lembur, kita bertiga yang bakalan selesaiin pekerjaan kakak" ucap Delia
Devano berpikir sejenak, kemudian berucap "besok, bawakan pakaian kantor ke rumah sakit"
"Baik kak" ucap Delia tersenyum manis. Delia sengaja meminta devano bekerja, karena kalo kakaknya terus-menerus di rumah sakit, Yanga da kakaknya malah makin terpuruk dan tak terurus.
Delia, Reyhan dan Gilang berada di parkiran. Bersamaan dengan itu, frislya juga baru sampai di halaman rumah sakit, dan mendengar percakapan mereka.
"Aku nggak pernah liat kak Leon, setelah dia laporin Lea ke polisi?" Ucap Delia
"Emangnya dia nggak ngabarin kamu selama ini?" Ucap resyah
Delia menggeleng. "Aku juga sibuk banget hari ini, mau ke rumahnya buat mastiin dia baik-baik aja, selalu terhambat karena pekerjaan"
"Kenapa? Kengen ya sama calon suami" ledek Gilang, yang padahal dia sendiri tidak suka dengan ucapannya
"Bukan kayak gitu. Aku hanya khawatir sama dia"
"Aku duluan ya. Lea sudah satu Minggu di penjara, tapi aku belum sempat ngejenguk dia selama ini" ucap Reyhan masuk ke mobilnya dan beranjak pergi.