
Bab 77
"Kenapa karyawan disini memanggilmu nona"
"Karena aku tidak suka di panggil boss" ucap Delia mulai mengobati luka di dahi Leon yang terbentur setir
"Kenapa"
"Aku merasa tua jika di panggil boss"
"Lho kan bagus. Masih muda sudah jadi boss"
"Tetap saja aku tidak suka"
"Pelan-pelan saja ini sakit" ucap Leon
"Ini juga udah pelan-pelan kak. Tahan, bentar lagi juga udah selesai" ucap Delia dia lalu mengambil kapas dan mendorong plaster lalu menutupi luka di dahi Leon "selesai" ucapnya
"Ternyata kau punya keterampilan untuk mengobati juga"
"Di London, aku kuliah mengambil jurusan kedokteran. Tapi setelah pindah kesini aku ambil jurusan bisnis" Leon mengangguk mengerti
"Terus apa rencana kakak untuk menjauhi kak Lea dari kak devano"
"Mendekat"
"Mau ngapain"
"Bukankah kau ingin tahu rencana ku"
Delia mengangguk lalu mendekatkan wajah ke arah Leon
"Maksudku kupingmu"
"Makanya bicara yang jelas" ucap Delia kesal
Leon lalu membisikkan rencananya.
Sementara itu, Lea dan devano baru datang.
"Delia" ucap devano dengan suara agak tinggi
Delia dan Leon pun terkejut. Sontak melihat ke sumber suara.
"Apaan sih kak, teriak-teriak" ucap Delia kesal
Lea yang melihat Leon pun berucap "kakak, ngapain disini. Kakak tadi habis cium Delia"
"Nggak usah mikir yang aneh-aneh deh. Kalian nggak butakan, kak Leon cuma bisikkin sesuatu sama aku"
"Bisikkin apa" ucap devano
"Itu rahasia kita. Kalian tidak perlu tahu tentang itu" tungkas Leon
"Kakak ngapain disini" ucap lea
"Jika memang ada urusan kenapa aku nggak ngelihat pengawal-pengawal kakak di luar"
"Aku datang sendiri kesini"
"Apa? Sebenarnya apa urusan kakak kesini. Dan sudah berapa lama Kakak disini"
"Aku baru sampai dua jam yang lalu. Dan aku kesini karena ada urusan bisnis"
"Jika memang ada urusan bisinis. Kenapa tidak membawa bodyguard"
"Kenapa kau banyak sekali pertanyaan"
"Sudahlah, nggak usah ribut disini. Menganggu pelanggan yang sedang makan saja" ucap Delia
Devano dan Lea lalu ikut bergabung dengan Delia dan Leon. Pelayan menyajikan makanan di meja mereka.
Beberapa saat kemudian resyah, Reyhan dan Gilang pun datang.
"Kebetulan sekali, Semua orang ada disini" ucap Reyhan.
"Kami memang sudah janjian makan disini" ucap devano. Diangguki oleh Reyhan
"Janjian dengan siapa" ucap Lea
Devano hanya diam menyantap makanan yang ada di depannya
"Jangan bilang kamu janjian sama resyah dagang kesini"
"Apa sih Lea, Udah deh nggak usah ribut. Aku juga nggak ngajak kamu kesini. Kamu sendiri yang memaksa untuk ikut" ucap devano.
Lea terdiam kesal.
"Kalian kemari" ucap Delia memanggil dua karyawannya. Dia karyawan itupun menghampirinya
"Kau ambilkan lagi makanan dan minuman. Dan kau tolong ambilkan tas dan ponselku di ruanganku" ucap Delia
"Maaf nona, ruangan nona terkunci, berikan kuncinya padaku, akan aku ambilkan tas nona"
"Kau yakin itu terkunci"
"Iya nona. Tadi pagi saya ingin membersihkan ruangan nona tapi pintunya terkunci. Saya juga tidak tahu dimana kunci cadangannya"
"Kenapa Del, apa kau lupa menaruh kuncinya" ucap resyah.
Delia laku mengingat-ingat, ternyata Delia menjatuhkan kuncinya, di saat dia bertengkar dengan Gilang tadi malam.
"Astaga, aku menghilangkan kuncinya. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu" ucap delia
"Kau ini ceroboh sekali. Bisa-bisanya menghilangkan kunci Rungan sendiri" ucap devano
"Semua ruangan di caffe ini memiliki kunci cadangan. Oh iya, Gilang kalau nggak salah waktu itu kunci-kunci itu kamu kan yang menyimpannya"