COLD CEO IN LOVE

COLD CEO IN LOVE
Merepotkan!



Hari pun pagi. Di rumahnya resyah dia mengetuk-ngetuk pintuk kamarnya devano.


Tokk


Tokk


Tokk


"Devano apa kau sudah bangun" tidak ada jawaban


"Devano" sambil terus mengetuk pintu kamarnya devano. Devano pun terbangun karena resyah mengetuk pintu kamarnya sangat keras.


"Iya,iya bentar"ucap devano duduk mengumpulkan nyawanya kemudian membukakan pintu.


"Ada apa sih" ucap devano menggaruk-garuk kepalanya


"Baru bangun.apa kamu ngak kerja hari ini. Ini tuh udah pagi,Sebagai CEO kamu harus memberikan contoh yang baik untuk karyawan"


"Iya iya aku tahu.tadi malam itu aku ngak bisa tidur karena mikirin lea.telponnya ngak aktif semalaman,Reyhan di minta bantuan juga ngak ngangkat telpon"


"Sekarang kamu cepat-cepat deh mandi dan pergi ke kantor.kalian bisa bertemu di kantor nantinya"


"Ahhh,iya.kami benar juga." Lalu mau menutup pintu.


"Tunggu"


"Ada apa lagi. Tadi nyuruh buru-buru mandi"


"Aku ke sini karena mau ngasih ini sama kamu" memberi kartu akses rumahnya.


"Kenapa ngasih ke aku"


"Sekarang kamu juga penghuni rumah ini. Dan kita sama-sama kerja,jam pulang kita juga ngak teratur. Jadi aku kasih ke kamu supaya kamu bisa masuk rumah ini tanpa kendala nantinya"


"Oh iya.aku sampe ngak kepikiran kesana" resyah lalu beranjak pergi dari sana.


"Ehh tunggu mau kemana"


"Berangkat kerja"


"Ngak mau bareng aja"


"Aku Bisa telat kalo ikut kamu"


--------


Sementara di rumah Lea,Lea baru saja terbangun. Dia melihat-lihat sekelilingnya


"Kenapa aku bisa tidur disini". Ketika menoleh kesamping kanannya dia pun kaget dengan keberadaan Reyhan.


"Aaaaaaaa" ucap Lea duduk. Menutupi tubuhnya dengan jas Reyhan Reyhan pun terbangun karena teriakan Lea.


"Ka-kamu ngapain disini. Kamu pasti macam-macam kan tadi malam" Reyhan Yang berusahan mengumpulkan ke sadarannya.


"Ngomongin apaan sih kamu"


"Kamu yang apa-apaan.ngapain kamu di rumah aku. Dan kenapa pakaian ku terlepas kamu pasti macam-macam kan" ucap Lea lalu melempar bantalan sofa ke arah Reyhan.


"Di bantuin bukanya makasih malah nuduh yang nggak-nggak."


"Maksud kamu apa"


"Kamu udah lupa dengan kejadian tadi malam"


"Memangnya apa yang terjadi" ucap Lea yg tidak bisa mengingat apapun


"Tadi malam kamu pergi dari rumah resyah dengan keadaan marah.dan devano menyuruhku mengikutimu.kamu masuk bar meminum banyak alkohol dan akhirnya mabuk. Untung aku sama Delia ngikutin kamu kalo ngak kamu mungkin udah di apa-apain sama gigolo-gigolo yang ada disana"


"Apa aku merepotkanmu tadi malam"


"Sangat merepotkan! kamu muntah di bajuku dan di bajumu. Terpaksa malam-malam aku harus mencuci muntahanmu. Dan di saat ingin pulang kamu menggenggam tanganku dengan menyebut-nyebutkan nama Reyhan. Sehingga aku harus tidur senderan di sofamu itu. Mana leher aku pegel banget lagi" ucap Reyhan menggerak-gerakkan lehernya.


"Ya maaf kalau gitu.aku juga ngak bermaksud"


"Makanya kalo sedih jangan minum kalo ngak bisa minum.mabuk malah ngerepotin orang" Lea hanya cemberut.


"Aku pulang dulu,ini udah jamnya masuk kerja"


"Kamu ngak mau mandi dulu disini"


"Ngak usah, aku juga mau ganti baju.baju ini masih ada bau muntahanmu" ucap Reyhan kesal


--------


Sementara itu di kantornya resyah dia sedang mencari keberadaan Reyhan di ruangannya.


"Dimana Reyhan"


"Dia belum datang nona" ucap fio asistennya resyah.


"Belum datang"


"Iya nona"


"Ini sudah satu jam masuknya jam kerja,tidak biasanya dia datang terlambat.atau mungkin dia mengambil cuti"


"Coba kamu tanya sama sekretarisnya"


"Maaf nona, bukannya selama ini pak Reyhan tidak pernah ingin punya sekretaris"


"Ya sudah kalau gitu kamu lanjutkan pekerjaanmu"


"Baik nona" memberi hormat lalu pergi dari ruangan resyah.


-----------


"Ini ngak bisa dibiarin,Pokoknya kak devano sama kak Lea ngak boleh bercerai. Aku harus cari cara buat mereka berdua tetap bersama. Tapi bagaimana caranya. Ayo Delia mikir" ucap Delia dengan berjalan mondar-mandir dalam kamarnya.


"Apa aku kasih tau aja ya sama papa mama apa yang terjadi. Ah, nggak nggak nggak bisa-bisa nanti mama sama papa kepikiran terus. Itu bukan ide yang bagus. Ah terus aku harus apa dong" lalu merebahkan tubuhnya di ranjang.


"A hah, aku punya ide. suami istri itu aku terus terhubung kalo mereka punya anak. Kalo misalkan kak devano dan kak resyah punya anak mereka Ngak mungkin dong bercerai mama papa pasti ngak bakal ngebjarin mereka berpisah. dan mereka akan terikat terus dengan kehadiran anak itu. Sungguh ide yang sempurna.tapi, mereka sudah melakuy perjanjian tidak melakukan hubungan badan. Tapi apapun itu aku akan buat mereka punya anak biar mereka Ngak bisa cerai"


Diruangan kerjanya Reyhan.


"Kamu baru datang, kemana aja kamu semalam sampai-sampai ngak bisa dihubungi" ucap Reyhan ketika Lea memasuki ruangannya.


"Ini berkas yang harus tuan devano tanda tangani. Silahkan tuan periksa" ucap Lae memperlihatkan dokumen tersebut kepada devano.


"Jawab, aku" ucap devano menatap tajam kearah Lea dan berbicara penuh penekanan.


"Kalo begitu saya pergi dulu" ucap Lea ingin pergi dari ruangan devano namun kalah cepat karena devano menghalangi pintu dengan tubuhnya.


"Maaf tuan,saya banyak pekerjaan" ucap Lea mencoba mendorong tubuh Reyhan agar tidak menghalanginya keluar.


"Keluar lah jika kamu bisa keluar" ucap Reyhan menahan tubuhnya tetap berada di depan pintu.


Karena kesal tidak bisa keluar Lea pun mulai emosi "mau kamu apa sih hah"


"Jawab pertanyaan aku"


"Oke,aku akan jawab. tadi malam aku mabuk, sekarang minggir aku mau keluar"


"Apa kamu pergi ke bar dan minum disana"


"Menurutmu"


"Lea,kamu tau kan itu tempat banyak laki-laki mesum. kalo sampai kamu di apa-apain gimana"


"Sekarang kamu khawatir? Lalu,kenapa tadi malam bukannya kamu yang nemenin aku tapi malah kak Reyhan. Hemm kenapa?"


"Reyhan itu aku yang suruh ngikutin kamu"


"Oh ya. Woww terimakasih banyak. Tapi pernah nggak kamu mikir kalo misalkan kak Reyhan itu nggak bakalan ngikutin aku"


"Ya nggak mungkinlah reyhan itu orang yang dapat di percaya dan kalo tadi malam dia Ngak bisa aku yang bakalan anteri kamu pulang"


"Apakah kamu yakin ingin nganterin aku pulang di depan adikmu hemm"


"Oke-oke,aku salah. sayang,aku minta maaf" ucap Reyhan menatap lekat Lea dan kedua tangannya memegang bahu Lea.


"Kamu pikir dengan maaf bisa nyembuhin luka yang menganga di dalam sini" menunjuk hati.


"Sekarang,mau kamu apa. Agar kamu bisa maafin aku"


"Aku mau tinggal bersama kalian. Aku nggak tenang kalo kalian cuma tinggal berdua"


"Tapi itu rumah resyah sayang bukan rumahku"


"Jadi kamu nggak mau tinggal bersamaku"


"Oke-oke jangan marah lagi. Nanti pulang kerja kita omongin ini dengan resyah.semoga aja dia nggak keberatan.sekarang jangan marah lagi nanti cantiknya hilang. senyum dong ini tuh masih lagi mukanya udah cemberut aja" Lea pun senyum lalu memeluk reyhan.


"Tepati janjimu,jangan tinggalin aku. Dan setelah satu setengah tahun kalian akan bercerai dan menikahi aku"


"Iya,sayang aku janji" ucap devano mengelus-elus rambut lea


--------


Jam makan siang.


Resyah yang ingin keluar makan berpapasan dengan Reyhan yang baru memasuki kantor.


"Rey,kamu baru datang jam segini"


"Aku benar-benar minta maaf Syah, aku tadi kejebak macet"


"Kejebak macet selama berjam-jam?"


"Sebenarnya ada kendala lain juga Syah"


"Apa ada masalah? Apa kau sakit" lalu menyentuh dahi Reyhan untuk mengukur suhu.


"Memang agak panas, kenapa nggak ambil cuti aja untuk beristirahat"


"Nggak apa-apa kok Syah. Aku baik-baik aja"


"apa kamu sudah sarapan" Reyhan menggeleng sebagai jawaban,karena dari tadi pagi memang dia belum makan apapun.


"Aku mau makan keluar,apa mau pergi makan bersama" Reyhan mengganguk. Dan merekapun pergi makan kerestoran yang biasanya mereka ngumpul