
Bab 143
"Ayo naik, aku antarin ke hotel" ucap Gilang. Delia pun naik ke atas motor dan mereka juga pergi meninggalkan rumah sakit.
"Jadi, Leon nggak ada kabarnya selama satu Minggu ini? Lebih baik, aku liat dia di rumahnya" ucap frislya, kembali masuk ke dalam taksi, menuju rumah Leon.
"Bisa-bisanya, aku lupa soal Lea. Dia pasti ngira aku hanya menjebaknya untuk nyerahin diri ke mereka" ucap Reyhan di perjalanan menuju kantor polisi.
Sementara itu, frislya sampai di depan pagar rumah Leon. Setelah membayar taksi dia pun berjalan mendekati pagar.
"Permisi....permisi" teriak frislya.
"Nggak ada orang, dimana penjaga rumah ini" gumam frislya kebingungan.
Dia kemudian mendorong pagar itu, yang ternyata tidak di kunci
"Nggak terkunci. Apa nggak ada orang ya di rumah ini, apa Leon sudah kembali ke new York" ucapnya, meskipun begitu dia terus melangkahkan kakinya, hingga sampai di depan pintu.
Frislya menekan bel berkali-kali, namun tidak ada orang yang membukanya.
"Apa benar nggak ada orang" gumamnya. Dia kemudian melihat sekelilingnya, dia melihat mobil Leon ada di bagasi.
"Mobilnya ada, jika dia kembali ke new York dia pasti ngabarin Delia dulu kan? Aku, yakin dia pasti ada di rumah"
Frislya menekan bel lagi, namun tetap tidak ada yang membukakan pintu. Frislya mendorong pintu yang ternyata juga tidak terkunci.
"Pintunya juga nggak di kunci" ucap frislya kemudian masuk ke dalam rumah.
Frislya kaget melihat rumah itu sangat berantakan.
"Ada apa Dengan rumah ini. Apa kemalingan" saat melangkah masuk, kaki frislya menendang botol minuman.
Setelah di perhatikannya lebih jelas, ternyata sangat banyak botol-botol minuman yang berserahkan dimana-mana.
"Nggak, rumah ini nggak kemalingan" ucap frislya. Dia lalu mengikuti arah botol-botol yang berserahkan itu, dan banyak juga pecahan-pecahan dari botol minuman itu.
Sampailah frislya di depan kamar Leon, dia membukakan pintu, gelap. Kamar itu sangat gelap.
Frislya mengambil ponsel dari tasnya dan menghidupkan center. Dia mencari-cari keberadaan saklar listrik untuk menghidupkan lampu agar dia bisa melihat ruangan apa yang dia masuki sekarang.
Setelah lampu menyala, lagi-lagifrislya terkejut melihat ruangan itu, yang tidak jauh berbeda dengan ruang bawah tadi.yang mana banyaknya pecahan-pecahan kaca dimana-mana. Dan Leon yang tergeletak di lantai.
"Astaga Leon!"
"Leon, Leon. Hey bangun" ucap frislya menepuk-nepuk pipi Leon
"Dia mabuk" gumam frislya yang mencium bau alkohol sangat menyengat dari tubuh Leon. Dengan susah payah frislya mengangkat tubuh Leon dan membaringkan di ranjang.
Frislya membuka lemari, tidak ada satupun baju di sana. Frislya mengedarkan pandangannya, dia melihat koper Leon. Dia langsung membuka dan mengambil 2 baju kaos Milik leon.
Frislya masuk ke kamar mandi, dia membasahi salah satu baju kaos yang di pegangnya, kemudian duduk di sisi ranjang samping Leon.
Frislya, mengelap tubuh Leon. Setelah itu, dia melepaskan kemeja putih yang sangat kotor dan memakai kaos yang di ambilnya tadi ke Leon.
Frislya menatap Leon sejenak, kemudian dia mulai membersihkan kamar itu, dan seluruh ruangan rumah yang berantakan.
---------------------
"Maaf Lea, kakak baru bisa menjenggukmu. Banyak pekerjaan yang harus di selesaikan"
Lea hanya diam, penampilannya acak-acakan dan sangat tidak terurus. Lingkaran mata yang hitam dan sembab karena terus-menerus menangis.
"Leaa" panggil Reyhan menggenggam tangan Lea
Lea menatap Reyhan tanpa ekspresi apapun kecuali raut menyedihkan.
"Aku bahkan, sudah berhenti berharap jika kakak akan datang dan menolongku"
"Maaf Lea sekali lagi kakak benar-benar minta maaf. Kakak benar-benar sibuk karena pekerjaan, karena devano sampai sekarang belum masuk bekerja"
"Mereka sengaja melakukan itu, agar kakak tidak ada waktu untuk menolongku"
"Bukan seperti itu Lea. Kakak juga tidak bisa bantu untuk membebaskanmu. Karena Leon pun, juga nggak ada kabar sama sekali setelah dia membawamu ke sini"
"Mungkin dia kembali ke new York, karena dia sudah berhasil memasukkan ku ke sini. Dan menjalani hidupnya dengan damai"
"Memangnya dia harus kenapa? Sedih karena aku di sini, itu nggak mungkin. Karena dia yang membuatku seperti ini"
"Leon itu ingin yang terbaik buat kamu Lea"
"Jika dia ingin yang terbaik untukku, dia tidak mungkin memenjarakan aku seperti ini"
"Tenanglah dulu, oke. Berhentilah bersedih, kakak sudah bilang sama kamu akan selalu ada di samping kamu. Dan kakak janji, jika ada waktu kakak akan sering-sering jenguk kamu disini, dan semoga kamu cepat bebas. Kakak akan memberikan nomor hp kakak ke polisi. Mereka bisa mengabari kakak, jika sesuatu terjadi padamu"
-------------
Berjam-jam membereskan rumah yang besar itu, akhirnya rumah itu sudah bersih dan barang-barang tertata rapi.
"Akhirnya selesai juga" ucap frislya masuk kembali ke kamar Leon.
Hp Leon berdering, saat frislya ingin mengangkatnya tiba-tiba hp mati.
Frislya membuka hp Leon, dia membawa pesan dari asistennya Leon yang mengatakan bahwa tugas Leon dari Minggu lalu, tidak satupun yang selesai. Dan banyak lagi, ucapan-ucapan kekesalan asistennya untuk Leon.
Frislya kembali membuka koper loen, dia lalu mengambil laptop Leon dan membantueon menyelesaikan pekerjaannya.
Pukul 4:45 shubuh. Frislya berhasil menyelesaikan semua pekerjaan Leon.
"Finish!" Ucapnya. Frislya melihat jam di hp
"Masih ada waktu satu jam lagi" gumamnya. Dia lalu memesan taksi online yang ternyata tak satupun driver yang menerimanya.
Karena ngantuk yang teramat, akhirnya frislya tertidur. Dengan kepala berada di sisi ranjang menghadap laptop dan badan yang berada di lantai.
PUKUL 11:30.....
Leon bangun dari tidurnya. Dia memposisikan dirinya duduk, dan memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. Karena selama satu Minggu ini Leon terus menerus mabuk, agar dia tidak teringat dengan Lea dan menyesali perbuatannya telah memenjarakan adik kesayangannya itu.
Leon mengedarkan pandangannya, kamarnya terlihat sangat rapih dan bersih.
Saat menoleh kesamping, dia mengerutkan dahinya melihat sosok wanita berada di kamarnya. Karena tidak ingin menduga-duga, dia mengambil laptopnya dan terkejut melihat siapa wanita itu.
"Frislya? Ngapain dia Di sini" gumamnya.
Leon lalu menepuk-neouk tangan frislya, dan frislya pun terbangun.
"Ngapain kamu di sini?"
"Kamu sudah bangun" ucap frislya memijat-mijat kepalanya. Dia lalu menghidupkan hpnya dan kaget melihat jam yang menunjukkan
Hampir waktunya makan siang.
"Astaga, mati aku" ucap frislya buru-buru bangun dan mengambil tas-nya.
"Hey, kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau ada di sini?"
"Menurutmu kenapa aku ada di sini? Berhentilah minum dan mabuk-mabukan. Dan coba hubungi Delia, dia mengkhatirkanmu" ucap frislya sebelum keluar dari kamar Leon.
Leon mengambil hpnya, dia terkejut melihat jam, yang tertera di hpnya
"Sudah hampir jam makan siang. Diakan harus bekerja". Leon pergi mengejar frislya dan mengambil kunci mobilnya, namun Frislya sudah berada di lantai satu.
"Frislya tunggu" teriak Leon dari atas
"Apa lagi? Aku harus buru-buru ke hotel" ucap frislya menatap leon
"Biar aku antar"
"Nggak usah, kamu masih terpengaruh alkohol, aku nggak mati sia-sia"
"Bisa bawa mobil?"
"Bisa"
Leon melempar kunci mobilnya.
"Bawa mobilku, biar cepat sampai di hotel"
Frislya mengambil kunci mobil yang berada di lantai "aku akan mengembalikan mobilmu nanti. Datang saja ke rumah sakit nanti sore. Oh ya, ada makanan di kulkas, panaskan jika kau ingin memakannya nanti" Ucap frislya berlari keluar dari rumah itu karena buru-buru