COLD CEO IN LOVE

COLD CEO IN LOVE
BAB 139



Bab 139


Devano yang baru selesai memakai bajunya pun, langsung menghampiri resyah.


"Syah, kenapa?"


"Sa... Sakit Van" ucap resyah dengan suara yang hampir berbisik itu.


Devano langsung mengendong resyah ala bridge style. "Bertahanlah, oke. Aku akan bawa kamu ke rumah sakit secepatnya"


Devano menuruni tangga dnegan sangat cepat, dia juga berteriak memanggil Delia.


"DELIA...DELIA BURUAN KELUAR...."


Delia yang mendengar teriakkan devano pun langsung keluar dari kamarnya.


"Kak devano apa-apaan sih teriak-teriak. Waktu masuk kerja juga 30 menit lagi" ucap Delia sambil terus menuruni anak tangga dengan langkah cepat.


Devano memasukkan resyah ke dalam mobil.


"DELIAAAA...!!" teriak devano


"Apaan sih kak, aku udah ada di sini, nggak usah teriak-teriak juga"


"Buruan masuk" ucap devano langsung masuk ke mobil


Delia pun ikut masuk ke mobil, dia terkejut melihat resyah yang sedang kesakitan.


"Lho kak, kak resyah kenapa"


"Nggak tahu, tiba-tiba aja perutnya sakit" ucap devano melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


"Kak, kakak bertahan ya. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit" ucap resyah mengenggam tangan resyah.


Sementara resyah tidak merespon apapun. Dia menahan rasa sakitnya, sehingga keringat dingin bercucuran di dahinya.


Mereka sampai di rumah sakit. Devano langsung mengendong resyah dan membawanya masuk ke rumah sakit.


"Bertahanlah, oke" ucap devano dnegan raut wajah panik dan khawatir


"Kamu akan selamatkan anak kita kan Van"


Devano tidak menjawab


"Van...kamu bakalan selamatkan anak kita kan"


Resyah di masukkan ke ruangan, devano dan Delia menunggu di luar.


"Bapak devano, dokter biola meminta anda untuk masuk" ucap seorang suster


Devano melihat Delia, Delia mengangguk lalu berucap "masuklah kak, kak resyah pasti baik-baik aja. Aku bakal ngasih tahu mama papa biar mereka ke sini"


Devano mengangguk kemudian masuk ke ruangan resyah.


"Tanda tangani ini, kita harus cepat menyelamatkan resyah" ucap dokter memberi surat ke devano


"Maksud dokter?"


"Kondisi resyah sangat lemah. Semakin besar kandungannya, semakin besar pula resiko keselamatannya. Jadi, kamu cepat pilih, menyelamatkan resyah atau bayi dalam kandungannya"


"Selamatkan keduanya dok"


"Tidak bisa Van, sudah berapa kali saya bilang ke kamu. Hanya satu di antara mereka yang harus kami selamatkan"


"Tapi dokter, jika kita menyematkan resyah, bagaimana dengan anak kami. Kandungan resyah sudah 7 bulan 2 Minggu, bayinya pasti sudah berbentuk manusia"


"Jangan menanyakan hal, yang kamu sendiri sudah tahu jawabannya. Cepat tanda tangani itu, jangan terlalu lama berpikir. Atau kamu akan kehilangan keduanya"


"Maafkan aku Syah" batin devano


"Kalo begitu, selamatkan resyah". Ucap devano, saat dia ingin menandatangani surat itu, resyah memegang tangannya, sambil menitikkan air mata.


"Selamatkan bayi kita Van, aku mohon. Kamu sudah janji" ucap resyah, yang setengah sadar itu


"Tapi Syah..."


"Van, aku mohon... Selamatkan dia"


Surat dan pena yang di pegang devano terjatuh ke lantai, devano langsung menciumi kening resyah. Dia sangat binggung harus memilih siapa


"Selamatkan, dia. Aku mohon"


Devano mengangguk, kemudian berucap "kita akan biarkan dia lahir, tapi aku mohon bertahanlah. Karena aku nggak bisa ngerawat dia tanpa kamu" ucap devano mengenggam tanga resyah. Yang hanya di angguki pelan oleh resyah.


"Biarkan, bayi kami lahir dokter"


"Kamu yakin dengan pilihan kamu Van?" Ucap dokter viola tak percaya dengan pilihan devano


"Saya yakin dokter" ucap devano dengan deraian air mata dan terus memandangi resyah.


-----------------


Di bagian lain negara, Reyhan dan devano tengah makan bersama di sebuah restoran.


Mereka berdua semakin dekat semenjak pertemuan mereka 2 Minggu yang lalu.


Reyhan sengaja mendekati Lea, agar dia tidak merasa sendirian dan bisa mengkhilaskan devano bersama resyah.


Reyhan menerima telpon dari Delia, dia pun langsung menerima panggilan telpon itu.


"Ya, Del ada apa?"


"Kak, kak resyah masuk rumah sakit. Keadaannya sangat mengkhawatirkan" ucap Delia di seberang sana


"Apa! Aku akan ke sana sekarang" ucap reyhan langsung memutuskan sambungan telpon


"Ada apa kak" tanya Lea


"Resyah masuk rumah sakit, dan keadaannya sangat mengkhawatirkan. Aku harus pulang ke Indonesia sekarang. Sebaiknya kamu ikut, atau kamu tidak punya kesempatan bertemu dengan resyah lagi nanti"


"Apa sebegitu membahayakannya?"


"Itu tergantung devano, siapa yang dia pilih untuk di selamatkan"


"Aku harus pergi, kalau kamu tidak mau ikut, tidak apa-apa. Itu terserah kamu saja" ucap Reyhan melangkah pergi


"Tunggu..."


Reyhan membalikkan tubuhnya


"Aku ikut dengan kakak"


--------------------


2 jam resyah berada di ruang operasi. Akhirnya, dokter viola keluar juga dari ruang operasi.


Sementara di bangku tunggu, semua orang menunggu dengan perasaan tak menentu.


"Dok, gimana keadaan resyah" ucap devano menghampiri dokter viola


"Masuklah ke dalam"


"Resyah nggak apa-apakan dok?"


Dokter viola tak menjawab, dia langsung kembali masuk ke ruang operasi di susul oleh devano.


Devano langsung menciumi kening resyah,


"Apa yang ingin dokter katakan? Resyah baik-baik aja kan dok?"


"Maaf devano, sekarang saya tidak bisa mengatakan bahwa resyah dalam keadaan baik-baik saja. Detak jantungnya lemah begitupun dengan denyut nadinya. Dan bayi kalian sudah lahir, mereka kembar. Tapi maaf devano, salah satu dari bayi kalian tidak bisa di selamatkan. sementara yang satunya lagi, dalam keadaan kritis, dan harus melakukan perawatan khusus"


"Bayi kami kembar?"


"Heum, kamu bisa melihatnya, bayi kalian di sana" dokter viola menunjuk ke arah sebelah brankar resyah.


Yang mana ada dua box kaca, dan kedua bayi mereka berada di dalam sana.


Satu bayi, kakinya di infus. Dan di hidungnya terdapat selang oksigen. Sementara, satu bayi lagi sudah membiru.


Tangis devano pecah melihat kedua putrinya itu.


"Sabar devano.... Berdo'a lah yang terbaik untuk putri dan istrimu. Putri pertama kalian, harus kami bawa ke ruang khusus untuk pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Sedangkan, putri kedua kalian, kamu bisa membawanya pulang dan memakamkannya"


Devano melantunkan adzan dekat box bayi pertama mereka, Denhan suara pilu dan siapapun yang mendengarnya akan merasakan ke sedihan.


Bagaimana tidak sedih, jika istri kecil kemungkinan akan bertahan hidup, bayi pertama kritis, dan bayi kedua meninggal.


Setelah selesai adzan, devano mengendong putri kedua mereka dengan tangan yang gemetar.


"Apa kamu sudah punya nama untuk bayi kalian devano?"


"Nama putri pertamaku keyra nalista Xander dan putri cantikku yang satu ini bernama kayra nalista Xander" air mata demi air mata membasahi pipi devano.


Devano keluar membawa bayi keduanya itu.


Mama dan pap devano pun langsung menghampiri devano, begitu juga dengan Leon, Delia dan Gilang.


"Anak kalian sudah lahir" ucap mama devano melihat wajah cucunya itu


"Kenapa tubuhnya membiru Van?" Tanya Vava devano


"Dia, dia nggak selamat pa, ma" ucap devano terisak


"Bukankah kakak memilih menyelamatkan bayi kalian, terus kenapa seperti ini. Dan kak resyah gimana keadaannya" ucap Delia


"Aku nggak tahu, aku nggak tahu" ucap devano menangis dan merosot ke lantai sambil terus mengendong bayi keduanya itu.