
Bab 74
Di DR.G CAFFE
Delia sampai di caffe "jika ada yang mencariku, bilang aku tidak ada disini dan kalian jangan datang keruanganku,jika aku tidak meminta kalian untuk datang. Kalian mengerti" ucap Delia pada seluruh karyawannya.
"Baik, boss" ucap karyawan secara bersamaan. Delia lalu beranjak pergi keruangan miliknya dan mengunci pintu
Delia menghempaskan tubuhnya di sofa "aku menyesal kembali ke sini. Niatku ingin melakukan yang terbaik demi kakak-kakak ku. Tapi malah aku yang harus menanggung dampak buruknya. Ini benar-benar nggak adil" ucap Delia memejamkan matanya.
Jam menunjukkan pukul 22:30, Delia sudah seharian mengunci diri di ruangannya.
Devano menunggu Delia di ruang utama mansion. "Delia belum pulang" ucap resyah duduk di samping devano.
"Belum"
"Dia mungkin masih di caffe sekarang"
"Maka dari itu aku menunggunya disini"
"Delia Sepertinya benar-benar tidak ingin menikah. Dia bahkan resign dari kantor"
"Dia resign"
"Ya. Dia bilang ingin fokus ke caffe dan terlalu capek bekerja di dua tempat"
"Selama ini, dia tidak pernah bekerja. Dan sekalinya dia dapat pengalaman bekerja dia harus bekerja di dua tempat"
"Dia masih terlalu muda untuk memahami semuanya"
"Aku akan menjemputnya" ucap devano
"Lebih baik kau telpon dia dan tanyakan apakah dia ingin di jemput atau tidak. Suasana hatinya sedang tidak baik sekarang, lebih baik kita ikuti saja dulu apa maunya"
"Kau benar. Aku akan menelponnya dulu" ucap devano mengambil benda pipih di kantongnya. Mencari kontak Delia dan menelponnya.
Delia membukakan matanya ketika hpnya berdering. Dia melihat devano yang menelponnya pun langsung menerima panggilan telpon itu.
"Hallo" ucap Delia dengan suara serak
"Hemm, aku akan segera pulang"
"Kau di caffe? Kakak akan menjemputmu sekarang"
"Tidak perlu, Aku bisa pulang sendiri. Kak resyah lebih membutuhkan kakak disana. Tidak baik meninggalkan kak resyah malam-malam begini"
"Baiklah. Cepatlah pulang"
"Hemm" ucap Delia memutuskan sambungan telpon.
Dia lalu beranjak pergi dari ruangannya, dia sengaja meninggalkan tas dan hpnya di sana.
Delia pulang berjalan kaki setelah berjalan beberapa menit dia melepaskan sepatu hak tingginya itu, karena kakinya sudah lecet. Delia berjalan tanpa alas kaki (nyeker) menuju mansion yang jaraknya jika menggunakan mobil membutuhkan waktu 20 menit.
Gilang yang baru pulang dari hotel melihat Delia dia pun menghentikan motornya di dekat Delia.
"Kau baru pulang" ucap Gilang Delia hanya mengangguk.
Gilang yang melihat kaki Delia terluka pun berucap "kenapa tidak naik Taksi. Cepat naik, aku akan mengantarmu pulang. Berbahaya jika kau pulang ke mansion hanya berjalan kaki di larut malam begini"
"Tidak perlu mempedulikan ku"
"Jangan keras kepala, jarak dari sini ke mansion. Boss bukanlah dekat"
Delia tidak menanggapi ucapan gilang dia lalu beranjak pergi. Gilang turun dari motor mengejar Delia
"Delia" ucap Gilang mengenggam tangan Delia
"apa lagi"
"Aku berbicara padamu dan kenapa kau makah Seperti ini. Apa karena aku menolak untuk menikahimu"
Delia tersenyum sinis lalu berucap "aku juga tidak berharap untuk menikah denganmu. Lagi pula aku mengatakan bahwa kau pacarku. Aku pikir kau akan setuju untuk berpura-pura menikahkanku. Habis itu, kita cari cara untuk membatalkannya. Seperti aku yang membantumu dengan berpura-pura menjadi pacarmu di depan kak Lea"
"Aku tidak memintamu untuk menjadi pacar pura-puraku"