COLD CEO IN LOVE

COLD CEO IN LOVE
Hari pengembalian uang



Bab 33


Hari beranjak malam


Devano baru selesai memasak nasi goreng untuk resyah. dia kemudian membawa nampan yang berisi segelas air putih hangat dan sepiring nasi goreng dengan telur dadar di atasnya.


"Syah, makan dulu abis itu minum vitamin yang dikasih dokter Alina"


Resyah membuka matanya, kemudian duduk dibantu oleh devano.


"Apa masih dingin" resyah mengangguk. Devano lalu menyelimuti resyah dengan posisi duduk.


"Makan dulu biar aku Yang suapin kamu" ucap devano lalu mengambil nampan yang dia letak di atas meja dan mulai menyuapi resyah.


"Aku tidak bisa memasak makanan lain. Maafkan aku tidak bisa merawatmu dengan baik seperti yang kau lakukan di saat aku sakit dulu"


"Kau bicara apa. Sebenarnya kau tidak perlu repot-repot memasak aku benar-benar tidak punya selera makan"


"Pokoknya kamu harus habisin makanan ini" resyah hanya mengangguk. Namun di pertengahan makan resyah tiba-tiba mual dia berlari menuju kamar mandi dengan menutupi mulutnya. Diikuti oleh devano


"Kenapa, apa ada yang salah dengan makanannya"


Resyah memberi kode dengan melambaikan tangannya. setelah selesai muntah-muntah resyah pun kembali berbaring ke ranjang.


"Maaf Van, aku benar-benar tidak bisa menghabiskan makanannya."


"Nggak apa-apa. Sekarang minum vitamin ini dulu" memasukan vitamin ke mulut resyah


Tiba-tiba badan resyah kembali sangat mengigil.


"Dingin lagi" ucap devano, resyah hanya mengangguk bahkan bibirnya pun bergetar


Devano lalu naik keranjang berbaring disebelah resyah dan memeluknya.


"Apakah boleh seperti ini" tanya devano. Resyah hanya mengangguk. Namun tubuhnya makin dingin


"Kenapa tubuhmu makin bergetar apa makin dingin" resyah mengangguk.


Devano lalu melepaskan bajunya dan kembali memeluk resyah dari belakang. Agar bisa menghangatkan badan resyah.


Dua jam kemudian badan resyah sudah tidak kedinginan lagi. Dia melihat ke arah devano yang ternyata devano belum tidur.


"Kau belum tidur"


"Belum, apa kamu membutuhkan sesuatu"


"Tidak. Kau bisa melepaskan pelukanmu aku sudah lebih abik sekarang"


"Tidak apa-apa aku hanya ingin memelukmu lebih lama, apa boleh" resyah hanya mengangguk


Hening


"Syah" panggil devano kemudian


"Hemm"


"Bagaimana jika kamu benar-benar hamil, seperti yang dikatakan dokter Alina tadi"


"Sudahlah jangan terlalu banyak berpikir, itu hanya dugaannya saja"


"Kalau begitu ayo kita ke dokter kandungan besok untuk memeriksanya"


"Tapi dokter Alina bilang besar kemungkinannya untuk kamu hamil, kamu tadi juga muntah-muntah apa mungkin sebenarnya kamu benar-benar hamil"


"Sudahlah berhenti memikirkan yang tidak-tidak"


"Tidurlah" ucap devano memejamkan matanya dan mengeratkan pelukannya. Dan merekapun terlelap dalam tidurnya.


 


5 Hari kemudian, hari dimana devano harus membayar ganti rugi uang investasi.


Devano dan resyah sedang sarapan pagi


"Aku berangkat duluan ya, kita pisah mobil, aku harus kerumah papa dulu" ucap devano


"Baiklah"


Devano pun beranjak pergi, namun baru beberapa langkah dia melangkah dia kembali lagi menghampiri resyah.


Resyah yang melihat devano kembali pun berucap "kenapa, ada yang ketinggalan"


Devano tidak menjawab dia langsung mencium kening resyah. Resyah yang kaget atas perlakuan devano pun berdiri menjauhkan diri dari devano


"Apa yang aku lakukan" ucap resyah mulai emosi


"Jika aku tidak pulang nanti malam, jangan menungguku dan tidurlah lebih awal" lalu mengelus-elus rambut resyah dan beranjak pergi.


Sementara resyah hanya mematung atas perlakuan devano.


"Ada apa dengannya hari ini. Kenapa dia bicara seakan-akan tidak akan kembali lagi" ucap resyah kebingungan.


Devano mengendarai mobilnya menuju rumah orangtuanya. Dia terus kepikiran dengan resyah.


"Bagaimana jika nanti aku di jebloskan ke penjara. Apa jadinya resyah nanti dan bagaimana kalau kecurigaanku selama ini benar resyah sedang hamil anakku" ucap devano


15 menit kemudian diapun sampai di ruamh orangtuanya.


Disana defra, Sarah dan Delia tengah menunggu kedatangannya.


"Bagaimana devano apa kamu sudah mendapatkan uang itu"


"Tenanglah dulu pa, kita bicarakan ini di kantor saja"


"Kenapa harus di kantor, kenapa tidak disini saja" ucap sarah


"Aku sudah mengumpulkan setengah dari uang itu, kita akan meminta waktu lagi untuk membayarnya. Mama tenang saja"


"Bagaimana kalau dia nggak mau memberi waktu, apa yang akan terjadi nanti"


"Aku sudah memikirkan caranya ma, mama tenang saja, ayo pah kita berangkat" ucap devano tidak ingin berlama-lama di sana karena dia takut tidak bisa meyakinkan sang mama.


"Aku ikut kakak ke perusahaan" ucap delia


"Kamu nggak kerja"


"Aku hanya sebentar saja di perusahaan kakak"


"Baiklah, ayo berangkat" ucap devano defra dan Delia pun mengikutinya.