
Bab 151
"Tapi, kita nggak bisa terus seperti ini van?"
"Kenapa nggak bisa? Kita pasti bisa, jika kita yakin bisa Syah"
"Rasanya aneh dengan status kita yang sekarang"
"Maksud kamu?"
"Lebih nyaman tinggal bersama kamu sebagai sahabat seperti dulu, di bandingkan tingg sebagai pasangan"
"Kita harus membiasakan diri, demi keyra Syah" ucap devano menggenggam kedua tangan resyah dan menatap lekat Hansel coklat milik resyah
"Status pernikahan beda jauh dengan status persahabatan Van"
"Aku tahu, pernikahan kita itu terpaksa. Awalnya, aku juga sempat nolak. Tapi, ini amanah kakek Syah, jangan buat kakek kecewa dengan perceraian kita, apalagi ada keyra dan kayra di antara kita. Aku bakal buktiin ke kamu, kalo aku akan jadi suami yang baik buat kamu dan ayah yang baik buat keyra dan kayra"
"Udahlah Van, nggak usah buang-buang waktu"
"Syah please. Aku benar-benar nggak mau pisah sama kamu. Aku sayang sama kamu Syah, kamu juga sayang kan sama aku?"
"Aku memang sayang sama kamu, tapi bukan sebagai pasangan"
"Itupun udah cukup buat aku, aku mohon Syah, jangan ada perceraian di antara kita. Aku janji akan membahagiakan kamu dan keyra, akan jaga kalian dan ngelindungi kalian selagi aku masih bernafas. Kamu mau kan syah, menua dan melihat keyra tumbuh dewasa denganku"
Resyah hanya diam, dia memikirkan setiap ucapan dari devano
"Syah, please...." Ucap Devano semakin mengeratkan genggaman tangannya
Akhirnya resyah mengangguk mengiyakan ucapan devano. Devano pun langsung membawa resyah ke pelukkannya.
"Terimakasih, aku janji bakal buktiin semua ucapan aku tadi. Ayo, sama-sama buka hati buat menerima satu sama lain" ucap devano memeluk erat resyah
Lea ingin menyebrang jalan. Namun karena kakinya pincang, langkahnya melambat. Dan dia hampir saja, tertabrak.
Sedikit lagi, Lea bakal tertabrak jika sang pengendara tidak menge-rem tepat waktu. Lae terjatuh karen asyik dan ketakutan, tubuhnya bahkan gemetaran.
"Maaf saya tidak sengaja, kamu nggak apa-apa kan" ucap laki-laki pengendara mobil itu yang tak lain adalah Reyhan.
Lea yang mengenal suara Reyhan pun mengangkat kepalanya, "kak Rey, kau hampir menabrak ku" ucapnya
"Lea, kamu ngapain di sini, bukannya di rumah sakit. Ayo, kakak antar kamu kembali ke rumah sakit" ucap reyham membantu Lea berdiri
"Nggak mau" ucap Lea melepaskan tanagn Reyhan darinya
"Kenapa? Lihat, kaki kamu juga berdarah. Itu pasti karena kamu berjalan-jalan, ini juga udah lumayan jauh dari rumah sakit"
"Aku takut kak Leon tambah marah sama aku"
"Dia nggak mungkin marah"
"Pokoknya aku nggak mau balik ke rumah sakit. Kakak antarkan saja aku ke kantor polisi lagi"
"Tapi Leon sudah mencabut laporannya"
"Aku tahu, tapi aku nggak punya pilihan lain"
"Maksud kamu?"
"Aku nggak mau ketemu siapapun untuk saat ini. Penjara adalah tempat persembunyian yang terbaik"
"Kamu nggak bisa terus menghindar kayak gini. Gimana, kalo malam ini kamu ikut kakak ke apartemen aja. Di sana juga ada Gilang, nggak cuma kita berdua doang"
"Gimana kalo Gilang nggak suka aku ada di sana"
"Dia nggak mungkin kayak gitu. Itu hanya perasaan kamu aja"
Frislya kembali lagi ke rumah sakit. Dia membangunkan Leon, ketika tidak melihat Lea di brankar dan kamar mandi
"Leon bangun. Lea dimana, Leon" ucap frislya menggoyangkan badan Leon
"Apa sih" ucap Leon mengumpulkan kesadarannya.
"Lea mana?"
Leon pun melihat ke arah brankar yang mana tidak ada Lea di sana.
Leon beranjak ingin memeriksa ke kamar mandi namun langkahnya terhenti mendengar ucapan frislya "nggak ada Yon. Aku udah periksa tadi"
"****!" Umpat Leon keluar dari ruangan itu dan mencari Lea.
Reyhan dan lea sampai di apartemen.
"Tunggu di sini, kakak ambilkan obat untuk kakimu dulu" ucap Reyhan membantu Lea duduk di sofa.
Lea mengangguk, Reyhan beranjak mengambil p3k yang tersedia di apartemennya, sebelum itu dia menelepon Leon, tanpa sepengetahuan Lea.
Reyhan mengambil kotak p3k kemudian duduk di samping Lea.
"Maaf agak lama, soalnya lupa naruh ini dimana" bohong Reyhan memperlihatkan kotak p3k yang ada di tangganya.
Lea hanya mengangguk.
Reyhan menaruh kaki Lea di atas pangkuannya, "eh, kakak mau ngapain" ucap Lea menarik kakinya namun di tahan oleh Leon
"Ngobatin kaki kamu, sama ganti perbannya"
"Aku bisa sendiri kak"
"Udah, nggak apa-apa"
Reyhan lalu mengobati kaki Lea.
"Kak Rey baik banget sih. Selama ini juga dia selalu ada buat aku. Devano bahkan nggak pernah merhatiin aku seperti kak Rey" batin Lea menatap lekat Reyhan
Gilang baru pulang ke apartemen, dia yang melihat Lea ada di sana mengernyitkan dahinya.
"Lea akan menginap di sini malam ini" ucap Reyhan yang seakan tahu kebingungan Gilang
Gilang hanya mengangguk, kemudian ikut duduk di sofa, dia juga tidak ingin bertanya apa dan mengapa alasan Lea ada di apartemen mereka
"Gimana caffe?" Tanya reyhan
"Nggak gimana-gimana sih kak. Walaupun belum berkembang pesat, tapi sejauh ini keuntungan yang di dapat bertambah setiap bulannya"
"Baguslah kalo begitu"
"Hotel gimana?"
"Semuanya baik-baik aja?"
"Kakak kerja dengan frislya kan?"
"Kalo lagi meeting iya. Soalnya kita memimpin hotel yang berbeda. Frislya selama ini juga di bantu oleh leon"
Gilang hanya mengangguk. Dia kemudian merebahkan dirinya di sofa.
"Tidur di kamar kakak aja, kamar kamu biar frislya yang nempatin. Atau frislya mau istirahat di kamar aku aja?"
"Kalian aja yang istirahat di kamar, aku bisa tidur di sini" ucap Gilang memejamkan matanya.
----------------------
Hari beranjak pagi, Leon kembali ke rumahnya setelah mencari Lea semalaman.
"Akhhhhh" teriak Leon frustasi
"Sabar Yon, Lea pasto baik-baik aja" ucap frislya
"Gimana dia bakal baik-baik aja, dia bahkan tertembak"
Frislya terdiam dan tidak menjawab ucapan Leon lagi
Leon mengambil hpnya dari saku celana, untuk menghubungi orang suruhannya mencari Lea.
Namun, niatnya itu di urungkan karena membaca pesan dari Reyhan.
"Kita ke apartemen Reyhan sekarang" ucap leon bergegas keluar dari rumahnya
"Ngapain ke sana" ucap frislya ikut masuk ke dalam mobil
"Lea ada di sana"
Resyah, devano dan Delia dalam perjalanan menuju kantor. Resyah mendesak devano untuk kembali bekerja, akhirnya devano pun memperbolehkannya. Dengan syarat, dia dan resyah akan bekerja di perusahaan resyah untuk menjaga resyah dan keyra. Sementara, Delia dan Gilang untuk sementara waktu, masih memimpin perusahaan devano.
"Kak turunin aku di apartemen kak Rey. Soalnya aku dan kak Gilang ada meeting di luar pagi hari ini. Takutnya kak Gilang lupa nanti"
Devano hanya mengangguk. Beberapa saat kemudian, devano pun menurunkan Delia.
Delia memencet bel apartemen Reyhan. Gilang yang masih lelap dari tidurnya pun terbangun.
"Siapa sih" ucapnya kemudian beranjak membukakan pintu.
"Kak Gilang, kok belum mandi sih. Satu jam lagi kita ada meeting lho dengan Mr. Robert"
"Astaga aku lupa. Untung kamu ke sini, kalo nggak aku bakalan telat"
"Yaudah sana buruan mandi"
"Iya-iya. Tunggu di sini bentar"
Saat Gilang ingin membukakan pintu kamarnya, bersamaan dengan itu juga Lea keluar dari kamar.
Gilang sedikit terkejut melihat Lea, akhirnya dia ingat bahwa Lea menginap di apartemen mereka. Karena ingin cepat Gilang pun langsung masuk ke kamar.