
Bab 42
"Lah kak, kok embernya kosong sih. Aku kan tadi minta kakak ambilin air di villa. Jangan bilang kakak lupa lagi" ucap Delia saat melihat Lea kembali dengan ember kosong
"Lupa apaan. Orang semua keran di villa itu mati. Yang jaga villa ini sih bilang kalo saluran airnya udah lama rusak dan dia biasanya ngambil air dari sungai nggak jauh dari sini" ucap Lea kesal
"Yaudah deh sini biar aku aja yang ambilin air kesungai. Aku tahu dimana sungainya" ucap Delia mengambil ember dari Lea.
"Biar aku temanin kamu kesana. Ini sudah malam" ucap Gilang
"Kak Gilang disini aja jagain kak Lea. Aku bisa sendiri. Walaupun udah lama nggak kesini tapi aku masih hafal jalannya"
"Biar kakak saja yang nemenin kamu, ayo pergi. Pekerjaanku juga sudah selesai" ucap Reyhan
"Wowww kak Rey benar-benar hebat dan bisa di andalkan" ucap Delia
Kemudian merekapun pergi kesungai untuk mengambil air. Setelah mengisi ember Delia tersandung batu sehingga semua airnya tumpah dan lututnya terluka mengenai bebatuan disana.
"Auuu" ringis Delia.
"Astaga Delia, makanya hati-hati. Tunggu sebentar Kakak isi lagi embernya" ucap Reyhan lalu mengisi kembali ember itu dengan air.
"Bisa jalan nggak" ucap Reyhan. Deliapun mencoba berdiri di bantu oleh reyhan.
"Bisa kak" ucap Delia kemudian berjalan beberapa langkah laku terjatuh lagi.
"Kalau kamu jalannya kayak gitu besok pagi baru kita sampai di tenda. Sudahlah ayo naik" berjongkok di depan Delia bersiap-siap menggendongnya.
"Apa Kakak yakin"
"Iya, ini senternya kamu yang pegang" menyerahkan senter ke Delia.
Delia lalu di gendong oleh Reyhan.
"Kak apa aku berat"
"Lumayan berasa"
"Kalo gitu kakak turunin aja aku. Kakak pasti kesusahan ngegendong aku mana bawa ember berisi air lagi"
"Sudah, diamlah. Jika kamu turun kita akan sampai di tenda lebih lama"
Lea yang tidak fokus membakar jagung karena memperhatikan resyah dan devano, membakar jarinya sendiri.
"Makanya kalo lagi ada pekerjaan fokus, jangan memperhatikan yang lainnya" ucap Gilang
"Gilang cepat ambil p3k dalam mobil. Delia terluka" teriak reyhan.
Mendengar ucapan Reyhan Gilang bergegas mengambil p3k dan meninggalkan Lea.
Lea yang ditinggal oleh Gilang begitu saja pun berucap dalam hati "ternyata begini rasanya ditinggalkan disaat dibutuhkan"
Gilang lalu memberi obat p3k kepada resyah. resyah meneteskan obat merah ke lukanya delia.
"Perih, perih, perih" ringgis Delia
"Lagian kenapa bisa terluka sih dek" ucap devano
"Dia kesandung batu pas ngambilin air dan kakinya terbentur batu"
"Makanya lain kali hati-hati. Kalo jalan tu pakai mata, jadi nyusahin Reyhan kan gendongin kamu yang berat itu"
"Ih kakak apa-apaan sih. Adeknya lagi terluka bukannya khawatir malah dibilangin berat. Lagian jalan tu pakai kaki emangnya mata bisa jalan"
"Jalan itu emang pakai mata. Kalo nggak ada mata gimana bisa melihat. Yang ada sakit tuh kaki nabrak pohon"
"Lea mana? Apa masih membakar" ucap resyah
"Iya dia lagi membakar" ucap Gilang
"Kalo gitu tolong taruh kotak p3k ini di bagasi mobil ya, biar nanti kalo butuh nggak susah lagi nyarinya"
Gilang mengangguk lalu mengambil kotak p3k itu tapi tidak meletakkannya di bagasi mobil melainkan untuk mengobati jari lea yang terluka.
Lea yang duduk di salah satu pohon meniupi jarinya yang terbakar.
"Apa masih sakit" ucap Gilang
"Kau kembali"
"Aku tidak pernah pergi. Dari tadi aku tetap disini hanya saja tidak bersamamu" Lea hanya mengangguk.
"Sini tanganmu, biar ku lihat jarimu yang kebakar"