
Bab 41
Resyah dan devano hanya menggeleng dan tertawa mendengar perdebatan Delia dan Gilang.
"Kalian tuh ya ribut Mulu kalo dekat. Hati-hati ntar jatuh cinta" ucap Reyhan
"Aku udah pernah bilang kan sama kakak, aku nggak mungkin banget suka sama bocil, tengil dan nyebelin ini"
"Memangnya aku mau gitu sama kak Gilang. Noway. Walaupun di dunia ini cuma kak Gilang laki-laki satu-satunya akan ku pastikan untuk nggak jatuh cinta sama dia" ucap Delia
"Siapa juga yang mau sama kamu, dasar bocil"
"Sudah berhentilah bertengkar. Kita tunggu saja hari dimana kalian berdua jatuh cinta nanti" ucap resyah
"Akan ku pastikan hari itu nggak akan pernah ada" ucap Delia
"Kita lihat saja nanti" ucap resyah
-------
Hari sudah menjelang sore mereka semua sudah bersiap-siap untuk berangkat ke puncak.
"Karena ada dua mobil dan kita ada 6 orang kita bagi jadi 3 orang satu mobil biar adil" ucap Delia
"Aku, kak devano dan kak resyah satu mobil. Kak Rey, kak Gilang, dan kak Lea mobil yang satunya lagi"
"Tapi aku mau satu mobil sama devano" ucap Lea
"Ya nggak bisa dong, kakak itu nggak boleh jauh-jauh dari kak Gilang. Biar kak Gilang bisa mantau kakak"
"Apa hubungannya dia denganku"
"Nggak usah pura-pura amnesia deh. Atau aku aduin sama kak Leon biar kakak di bawa ke new York. Aku punya loh nomor ponselnya kak Leon"
"Kamu ngasih tahu semua itu ke Delia, Gilang"
"Kak Gilang nggak ngasih tahu, orang kak Leon sendiri yang ngomong di depan aku"
2 jam kemudian setelah melalui perjalanan panjang mereka pun sampai di puncak sedangkan hari sudah mulai gelap.
"Akhirnya sampai juga" ucap Delia turun dari mobil.
"Aku punya ide, gimana kalo kita buat ini seolah-olah jadi kemping. Aku bawah dua tenda dan alat-alat kemah lainnya dibagasi mobil kak devano"
"Jika kamu sudah mempersiapkan semuanya kita hanya ngikutin kamu aja. Kan yang punya ide untuk kesini kamu" ucap Gilang
"That's right. Itu dia yang aku mau" ucap Delia kesenangan.
"Sekarang aku bagi tim kak devano dan kak resyah cari kayu bakkar untuk api unggun, kak Rey dan kak Gilang diriin tenda sementara aku dan kak Lea tugas kita membuat makanan"
Merekapun bergegas menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing. Gilang dang Reyhan yang sibuk mendirikan tenda. Lea dan Delia membakar sosis dan jagung.
Sementara devano dan resyah memasuki hutan mencari kayu bakar.
"Kamu jangan jauh-jauh" ucap devano lalu menggenggam tangan resyah supaya mereka bisa berjalan beriringan.
Setelah merasa cukup mengumpulkan kayu bakar mereka pun kembali. Dengan devano yang membawa kayu bakar ditangan kanannya sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan resyah.
Setelah sampai di tempat awal mereka bepencar ternyata dua tenda sudah didirikan. Devano dan resyah lalu membuat api unggun karena udara disana benar-benar dingin. Gilang dan Reyhan bergabung duduk di dekat api unggun sedangkan Lea dan resyah masih sibuk membakar sosis dan jangung.
"Jika pekerjaan kalian sudah selesai, tolongin kita bakarin jagung" teriak Delia
"Kalian berdua duduklah disini, kalian pasti capek habis dari hutan. Biar aku dan Gilang aja yang bantuin mereka" ucap Reyhan lalu beranjak pergi menarik Gilang.
"Apa yang bisa kita bantuin" tanya Reyhan
"Kak Rey tolong, tusukin lidinya ke sosis ya" Reyhan lalu mengangguk dan melakukan apa yang diperintahkan.
"Kak Lea tolong ambilin air di villa. Kita kekurangan air"
Leapun beranjak mengambil air kedalam villa. sebenarnya dia tidak jngin melakukan semua hal itu, namun dia takut jika tidak menurut maka akan di adukan pada Leon. Padahal keinginannya saat ini duduk berduaan dengan devano di depan api unggun.