COLD CEO IN LOVE

COLD CEO IN LOVE
BAB 144



Bab 144


"Kak, udah jam makan siang. Ayo sarapan dulu" ucap delia memasuki ruangan resyah yang di ambil devano.


"Masih banyak pekerjaan, kalian duluan saja" ucap devano tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor


"Kakak itu dari tadi pagi belum makan, ayo sarapan dulu"


"Del, kakak lagi kerja. Tolong, jangan berisik"


"Sudahlah Del, lebih baik kamu pesan makanan dari caffemu, kita makan di sini saja" ucap Reyhan


"Oke deh kak. Kalo gitu aku tungguin makanannya di bawah"


"Biar aku temani" ucap Gilang


Delia dan gilang menunggu makanan datang, sementara Reyhan, masuk ke ruangan resyah yang di tempati devano.


"Sibuk, banget. Mau di bantuin nggak" tawar Reyhan


"Pekerjaan lho pasti jauh lebih banyak. Gue bisa menyelesaikannya sendiri"


"Kalo gue bantuin lho, sambil nunggu makanan datang. Bisa aja lho bisa pulang lebih awal kan"


Devano berpikir sejenak, kemudian berucap "benar juga"


Reyhan langsung membuka laptop mulai membantu devano. Sementara devano tetap berada di layar monitor.


Leon membuka kulkas, dia melihat makanan yang di buat oleh frislya kemudian menghangatkannya.


Sementara makanan di hangatkan, dia kembali ke kamar dan mengambil laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tidak dia urusi selama 1 Minggu belakangan.


Beberapa saat kemudian, makanan pun selesai di hangatkan, Leon menyiapkan makanan itu di meja makan. Dan mulai menikmatinya sambil memeriksa pekerjaan.


"Rasanya masih seperti dulu" gumam Leon setelah suapan pertama masuk ke mulutnya. Sedetik kemudian perhatiannya teralih ke laptopnya.


Dia terkejut, karena pekerjaannya sudah selesai semua.


"Pekerjaannya sudah selesai semua. Siapa yang menyelesaikannya?" Leon kemudian teringat dengan frislya yang tidur di depan laptopnya.


"Apa mungkin dia yang menyelesaikannya? Ah, tapi tidak ada orang lain kan selain dia. Kenapa dia datang kemari, dan membersihkan rumah ini dan mengerjakan pekerjaaan ku. Mungkinkah dia masih peduli denganku" ucapnya.


Tak ambil pusing Leon pun menghabiskan makanannya. "Aku harus menemui Delia sekarang" ucapnya kemudian keluar dari rumah mencari taksi, Dan menuju kantor resyah.


Sementara itu, Delia, Gilang, dan Reyhan tengah menikmati makan siang mereka. Kecuali devano yang masih fokus dengan layar monitor.


"Ayolah kak, sarapan dulu" ucap Delia


"Iya Van, sarapan dulu. Lagi pula, pekerjaanmu hampir selesai. Kamu bisa pulang satu jam lagi" ucap Reyhan


Akhirnya, devano pun menurut dan ikut bergabung makan dengan mereka.


"Ada yang ingin aku sampaikan ke kalian" ucap devano serius


"Apa kak?"


"Aku akan memindahkan papa untuk mengurus cabang perusahaan di luar negeri"


"Lah, terus gimana dengan perusahaan kakak?"


"Kamu dan Gilang yang akan mengurusnya"


",Tapi, aku nggak mungkin bisa kak"


"Iya Van, kita nggak mungkin bisa memimpin perusahaanmu" sahut gilang


"Belum di coba? Maka belum tahu hasilnya. Di coba saja dulu, ini aku lakukan untuk meringankan pekerjaan Reyhan. Dia selama ini sangat sibuk..."


"Nggak apa-apa Van. Aku masih sanggup kok mengurus semuanya" ucap Reyhan memotong ucapan devano.


"Nggak bisa gitu Rey, kamu juga butuh istirahat. Gilang juga akan membantu Delia di caffe, dan urusan hotel cukup frislya yang mengatasinya. Sedangkan Reyhan, dia bisa mengawasi hotelnya sendiri"


"Apa papa setuju dengan keputusan kakak"


"Ya, mama juga akan ikut dengannya"


"Terus, siapa yang akan jagain kak resyah dan baby keyra di ruang sakit"


"Ada dokter viola yang akan menjaga mereka. Selagi aku kerja"


"Terus, gimana Dnegan kak frislya? Apa dia juga setuju"


"Aku akan menelpon dan membicarakan ini padanya. Dia pasti akan setuju"


"Kalo itu menurut lho yang terbaik, kita akan berusaha melakukan yang terbaik" ucap Reyhan


"Aku percaya dengan kemampuan dan keterampilan kalian. Itu saja, Gilang dan Delia bisa pindah ke perusahaanku sekarang"


"Ya, sekarang. Karena penerbangan mama dan papa nanti sore, papa hanya bekerja setengah hari, dia pulang ke rumah bantu mama mengemasi barang-barang mereka"


"What! Kok aku nggak tahu apa-apa sih. ko gitu aku harus pulang ketemu sama mama papa"


"Nggak perlu, sebelum berangkat kebandara mereka akan ke rumah sakit dulu. Kita bisa berkumpul di sana"


Delia hanya mengangguk


"Itu saja, sekarang semuanya bisa kembali ke tempat kerja kalian masing-masing" ucap devano kembali duduk ke kursi kerjanya.


Reyhan, Gilang dan Delia pun keluar dari ruangan itu.


"Kalian pergilah ke perusahaan devano, aku disini akan bantu devano sebisa mungkin" ucap Reyhan


"Kakak sih nggak masalah mau di tempat manapun. Tapi kita, masa kita yang memimpin perusahaan devano. Kita aja kerja di sini sebagai asisten" ucap Gilang


"Jangan meragukan diri sendiri seperti itu, benar kata devano, jika belum mencoba maka belum tahu hasilnya. Masa kalian nyerah, sebelum perang sih"


"Tapi kak, yang seharusnya memimpin perusahaan itu kakak, kan kakak lebih berpengalaman dari pada kita, dan dari segi kemampuan pun kakak nggak di ragukan lagi" ucap Delia


"Benar tuh kak, gimana kalo kakak aja"


"Devano udah milih kalian, jadi laksanakan dengan baik. Devano juga nggak mungkin nunjuk orang sembarangan kan?. Udah sana, pergi ke perusahaan kalian, jika ada yang tidak mengerti bisa tanyakan sama aku" ucap Reyhan kemudian masuk ke ruangannya.


"Terus gimana dong?"


"Ya, gimana lagi. Kita harus ke perusahaan devano sekarang"


Mereka lalu pergi ke tempat parkiran. Di waktu yang sama, Leon sampai di perusahaan.


"Kak Leon" ucap Delia berlari menghampiri Leon dan memeluknya.


"Kenapa heum, kangen?" Ucap Leon mengacak-acak rambut Delia


"Ishh, kakak apa-apaan sih. Kakak tuh dari mana aja, kenapa ngilang tanpa kabar,buat orang khawatir aja"


"Beberapa hari yang lalu kakak kembali ke new York, ada sedikit masalah di perusahaan" bohong leon


"Kakaktuh kebiasaan deh nggak bilang-bilang"


"Iya-iya maaf"


"Ada sesuatu yang ingin aku omongin sama kakak"


"Apa? Jangan bilang kamu mau bilang rindu berat sama kakak"


Delia menyubit pinggang Leon, kemudian berucap "nyebelin banget sih"


Sementara Leon, mengadu kesakitan. "Auuuuu, cubitan kamu lumayan juga ya"


Gilang datang menghampiri keduanya, dengan motornya.


"Kalian mau kemana?. waktu istirahat kan sudah habis"


"Kita di pindahkan ke perusahaan devano" ucap Gilang


Tak ingin banyak tanya Leon hanya mengangguk sebagai respond.


"Oh ya, kakak ke sini naik taksi, mobil kakak di mana?"


"Di bengkel" bohong leon lagi


Delia hanya mengangguk "oh, ya kak. Kak Gilang untuk sementara waktu nggak kerja di hotel lagi" ucapnya


"Kenapa?" Ucap leon mengerutkan dahinya


"Kak devano, minta kak Gilang buat nemanin aku kerja di caffe"


"Bagus kalo gitu, kamu jadi ada temannya"


"Tapi kak frislya kerja sendirian di hotel. Kalo kakak lagi nggak ada kerjaan, kakak bisa kan bantuin dia ngerjain pekerjaan. Mengurus 3 hotel sendirian pasti sulit"


"Bisa-bisa aja sih. Tapi, apa boleh Lang?"


"Hah?" Sahut gilang


"Walaupun kak Gilang pacaran sama kak frislya, tapi nggak apa-apa dong kak Leon bantuin dia, kasihan kalo dia sendirian. Lagain, kakak juga nggak bisa kerja bareng dia lagi sekarang"


"Siapa juga yang pacaran, malah bagus lagi kalo frislya dan Leon bisa dekat lagi. Siapa tahu mereka bisa balikan, dan Delia bisa terus dekat Dengan ku" batin Gilang


"Kak Gilang ih, di tanya malah ngelamun"


"Ah, ya boleh kok" ucap Gilang tersenyum manis