
Permainan itu sudah berulangkali dipermainkan,Lea pun sudah mabuk. hingga sampai pada akhirnya devano dan resyah mendapatkan nomor yang sama.
Deliapun langsung menanyakan pertanyaan yang yang tidak bisa mereka jawab suaoay mereka berdua meminum minumannya.
"Truth or dare, berapa banyak anak yang akan kalian punya nanti" resyah langsung meminum minumannya.
"Kak devano truth or dare" setelah berpikir sejenak devano pun meminum minumannya.
"Yes, berhasil" ucap Delia dalam hati.
Beberapa menit kemudian devano dan resyah pun sudah terkapar mabuk.
Reyhan yang melihat mereka berdua pun heran karena baru meminum satu gelas.
"Baru minum segelas mereka kok udah terkapar kayak ngabisin sepuluh botol aja" ucap Reyhan.
Reyhan yang kemudian melihat Delia dan Gilang senyum-senyum pun tahu kalau itu perbuatan mereka.
"Ini pasti ulah kalian". Delia dan Gilang hanya cengengesan.
"Kita lakuin semua ini demi kebaikan mereka berdua"
Reyhan hanya menggeleng-gelengkan kepala "jadi ini tujuan kalian buat party"
"Kak please, jangan sia-siain usaha kita.aku tahu kak Reyhan suka sama kak resyah tapi tolong ikhlasin kak resyah dia itu udah jadi istri orang" ucap Delia sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Kalian pikir aku akan suka sama istri orang selamanya"
"Maksud kakak" tanya Delia
"Sekarang, kalian mau ngapain biar aku bantu"
"Yang benar" ucap Delia
"Sekarang atau aku pergi"
"Akh iya iya iya. Tolong masukin kak devan ke kamar. Aku akan buka pintu kamarnya" lalu pergi membuka pintu kamar. reyhan pun merangkul devano masuk ke kamar
"Lho berat banget sih,makan apaan" ucap Reyhan kepada devano yang tengah mabuk lalu membaringkanya ke kasur.
Sedangkan Gilang mengendong resyah gaya bridge style dan membaringkannya disebelah devano.
"Kayaknya sebentar lagi obatnya bakal bereaksi, dari pada penglihatan kita ternodai lebih baik kita pergi sekarang juga" ucap Gilang kemudian mereka bertiga pun keluar dari kamar itu. Tak lupa Delia menutup pintu.
"Selamat bersenang-senang kakak-kakak ku. Semoga cepat jadi keponakanku yang lucu"
"Sekarang Lea bagaimana" tanya Gilang
"Kamu aja yang anterin dia pulang biar teringat masa lalu" goda Reyhan
"Kak Rey apa-apaan sih. Aku tadi kesini naik motor mana mungkin bawa gocengin orang mabuk. Yang ada nanti aku kena tilang"
"Kamu tinggalin aja motor kamu disini, nanti kakak suruh orang anterin ke alamat kamu. Sekarang kamu pulang bareng kakak aja"
"Emang kakak kesini tadi pakai mobil"
"Ya, mobilnya resyah. Sekalian kita jual nanti"
Mereka bertiga pun tertawa.
"Sudahlah Gilang bawa mantanmu ini kemobil kita anterin dulu dia pulang".
Gilang lalu memasuki Lea kemobil dan mereka berempat pun pergi.
Sementara itu obat yang dimasukkan Gilang dan Delia mulai bereaksi di tubuh devano dan resyah.
Resyah yang setengah sadar itupun membuka matanya.mencoba berdiri dan berjalan dengan sempoyongan "kenapa disini sangat panas"
"Ahhhh" devano berteriak lalu melepaskan bajunya
"Hey apa yang kau lakukan, pakai kembali bajumu" ucap resyah
"Aku tidak bisa ini terlalu panas" ucap devano dengan napas yang mulai tak beraturan
Resyah yang berniat mengambil baju devano yang ada di samping devano, agar devano memakainya kembali pun terjatuh ketubuh devano karena tidak seimbang. Devano kemudian mengecup bibir istrinya tersebut dan terjadilah malam pertama mereka berdua saat itu.
------
Dirumahnya Lea dia dibaringkan oleh Gilang di sofa.
"Mabuknya malam ini pendiam ya, padahal tadi malam dia juga mabuk. dia Ngak berhenti ngomong sampai muntah-muntah di bajuku" ucap reyhan
"Oh ayolah kalian berhentilah menggodaku"
"Siapa juga yang menggodamu. Kalau tidak percaya tanya saja sama Delia seperti apa dia mabuk kemarin malam"
"Ya benar dia kemarin malam mabuk sambil bilang devano itu hanya milikku, milikku. Tapi sekarang kok mabuknya pendiam ya. Apa mungkin lagi ngejaga perasaan kak Gilang supaya ngak hancur berkeping-keping"
"Ini nih yang namanya habis manis sepah dibuang.udah ditolongin bukannya makasih malah ngeselin"
"Iya iya terimakasih kak Gilangku yang ganteng.tapi sayangnya jomblo"ucap Delia
"Emang kamu punya pacar" ucap Reyhan
"Iya nggak sih" ucap Delia
"Itu namanya bunuh diri" ucap Gilang
"Lagian siapa sih yang punya ide ini"
"Itu orangnya aku cuma bantuin dia aja. Soalnya dia maksa banget minta di bantuin kali nggak karena dia ceritain duduk permasalahannya seperti apa aku juga nggak mau lakuin hal yang nggak benar kayak gini" menunjuk Delia
"Itu memang ide ku. Tapi ide buat masukin obat itu rencananya kakak"
"Kalo nggak pakai obat gimana mereka bakalan punya anak"
"Kalian kok pemikirannya sampai ke situ sih. Sampai ke obat-obatan segala. Gilang apa kamu pernah mengonsumsi obat itu"
"Kak Rey, aku ini laki-laki baik-baik. Mana mungkin melakukan hal nggak senonoh kayak gitu"
"Terus dari mana kamu tahu tentang obat-obatan itu"
"Aku punya teman dia seorang gigolo dulunya. Dan dia juga pernah cerita tentang obat itu. Untung aku ingat tentang obat itu coba kalo nggak belum tentu ini akan berhasil"
"Emang bakalan berhasil 100% kak"
"Kemungkinannya 1% gagal."
"Aku jadi khawatir kalo usaha kita bakal sia-sia"
"Udah deh percaya aja sama aku itu pasti berhasil." Ucap gilang.Delia hanya terdiam
"Masih ngagk percaya apa mau nyoba langsung seberapa efektifnya obat itu"
"Hush mulutmu itu" ucap Reyhan melempar bantal kearah Gilang.
"Hemm" ucap Lea yang beralih dari tidurnya.
"Maboknya Kali ini benar-benar pendiam.apa jangan-jangan suaranya udah habis gara-gara ngomong semalaman kemarin. Makanya mabuk kali ini pendiam" ucap Delia
"Itu bisa aja terjadi" ucap Reyhan.
"Delia,tolong ambilin selimut dikamarnya Lea" ucap Gilang
"Aku mana tahu kamarnya kak Lea yang mana"
"Kamu cari aja di setiap kamar selimutnya. Habis itu kakak anterin kamu pulang" ucap Reyhan Delia pun mengambil selimut dari salah satu kamar rumah Lea lalu memberikannya kepada Gilang, dan gilangpun menyelimuti tubuh Delia.
"Ayo pulang, Gilang kamu mau pulang atau tunggu disini"
"Aku akan pulang"
"Kakak nggak mau temenin kak Lea disni.ini kesempatan untuk kakak ambilin hatinya lho" ucap delia
"Nggak aku akan pulanh bersama kalian. Sepertinya dia juga sudah terlelap jadi tidak apa-apa meninggalkannya sendirian,ayo kita pergi" mengelus-elus rambut Delia beberapa saat, kemudian menitikkan air mata. Karena tidak ingin ketahuan kalo dia nangis akhirnya Gilang pergi mendahului Reyhan dan delia masuk ke mobil.
"Apa kak Gilang menangis"
"Mungkin saja. Anak itu begitu cenggeng jika berurusan dengan cinta. Sudahlah ayo kita pulang"
"Tunggu dulu aku benarkan selimut kak Lea bentar" lalu membenarkan selimut Lea dan memasukkan tangan lea kedalam selimut.
Reyhan yang melihat itu hanya tersenyum "kalo Lea sadar dia kayak nggak suka gitu sama lea.taoi ketika Lea dalam keadaan sekarang dia begitu perhatian" batin Reyhan.
"Udah ayo kak kita pergi" Reyhan hanya mengangguk . Merekapun memulai perjalanan menuju rumah Delia
"Kak Gilang ngak apa-apa" tanya Delia yang duduk dibelakang
"Nggak" jawab Gilang singkat.
"Kayaknya kak Gilang benar-benar sayang dan tulus sama kak Lea" ucap Delia