
Bab 64
Setelah devano menelpon orangtuanya. Dia lalu memotong-motong buah, membuat roti dan susu untuk resyah. Setelah selesai dia pun masuk ke kamar resyah.
Devano melihat resyah di balkon, dia lalu meletakkan nampan berisi makanan itu di di meja dekat sofa lalu menghampiri resyah.
"Kau disini" ucap devano memeluk resyah dari belakang. Resyah kaget mendapatkan perilaku devano itu
"Apa yang kau lakukan. Lepaskan aku" ucao resyah menepuk-nepuk kera tangan devano.
"Biarkan Seperti ini, sebentar saja" ucap devano mengeratkan pelukannya
"Apa kau masih mengkhawatirkan Delia"
"Hemm" bohong devano padahal dia hanya ingin memeluk resyah. Dia sudah tidak mengkhawatirkan Delia lagi. Karena dia yakin Gilang akan membawa adiknya itu pulang.
"Tenanglah. Gilang pasti membawa Delia pulang"
devano hanya mengangguk. Dia lalu melepaskan pelukannya "aku membawakanmu buah-buahan, roti dan susu. Makanlah sampai habis" ucap devano beranjak pergi duduk disofa.
Resyah pun ikut duduk disofa.
"Dimana vitaminmu. Apa kau sudah meminumnya" resyah menggeleng
"Kau jangan sampai terlambat meminumnya. Aku tidak ingin kau sakit lagi. Dimana kau meletakkan vitaminnya"
"Biar aku ambilkan" ucap resyah berdiri devano memegang tangan resyah.
"Aku bilang dimana" ucap devano
"Dalam tas"
"Duduklah. Aku akan mengambilkannya" ucap devano lalu mengambil vitamin resyah dari dalam tas yang berada di dalam lemari.
Devano kembali duduk disofa. Lalu memasukkan vitamin itu kedalam susu dan mengaduk-aduk nya.
"Ini minumlah" ucap devano. Resyah lalu meminum susu itu.
"Kau sudah mempertimbangkan untuk ikut kelas mom and baby. Jika kau ingin aku akan selaku menemanimu pergi kesana"
"Akan aku pikirkan lagi nanti"
"Kau sedang apa bangunlah" ucap resyah mengangkat kepala devano namun devano menahannya.
"Aku tidak tahu kenapa, akhir-akhir ini aku selalu ingin berada di dekatmu, mungkin baby ingin aku berada di dekat kalian . Tapi kau sepertinya sengaja menjauhiku"
"Aku tidak pernah menjauhimu"
"Hemmm. Kau bukan menjauhiku. tapi kau terlalu sibuk" ucap devano menutup matanya karena dia tahu resyah sengaja menjauh darinya.
Resyah merasa bersalah karena memang menghindari devano selama ini.
"Kau capek" ucap resyah mengakih pembicaraan. Devano hanya mengangguk tanpa membuka matanya.
"Jika begitu pergilah ke kamarmu. Dan beristirahat"
"Apa aku tidak bisa tidur disini bersamamu" ucap devano membuka matanya menatap intens wajah resyah. Resyah menundukkan kepalanya sehingga mata mereka bertemu.
"Baiklah" ucap resyah
"Terimakasih" ucap devano kembali menutup matanya
"Tidurlah diranjang"
"Jika aku beranjak kesana sekarang kau tidak akan mengizinkan aku seperti ini lagi nanti" ucap devano tanpa membuka matanya.
Resyah hanya terdiam.
"Aku masih tidak menyangka sebentar lagi kita akan menjadi orang tua" ucap devano membuka matanya menatap resyah tanpa bangkit dari pangkuan resyah.
"ya. Siapa sangka takdir membawa kita terikat menjadi orang tua" ucao resyah
"Waktu kecil kita sering lari-larian di halaman mansion ini. Tapi, nanti kita akan melihat anak kita yang berlari-larian disini"
Resyah tersenyum lalu berucap "Ya. Waktu benar-benar cepat berlalu. Dan Nggak terasa kita sudah dewasa dan harus memikul banyak tanggung jawab"
"Tidak apa-apa, seberat apapun tanggung jawabnya selagi kita bersama kita bisa mengatasinya seperti selama ini"
"Kau benar, mungkin itulah kenapa kakek ingin kita menikah" ucap resyah