COLD CEO IN LOVE

COLD CEO IN LOVE
BAB 148



Bab 148


Devano berada di belakang dokter-dokter yang merawat resyah.


"Detak jantungnya semakin melemah dok" ucap seorang suster


DEG


Seketika badan devano melemas mendengar ucapan susuter, pikirannya semakin kacau


Dokter pun mencoba, memakaikan alat untuk menormalkan detak jantung resyah. Hingga akhirnya......


Detak jantung resyah melemah, semakin melemah dan hilang.


"Titttttttttttttttttt"


"Pasien sudah meninggal" ucap dokter Renata.


Devano memejamkan matanya, tak sanggup lagi berkata-kata, tubuhnya pun merosot ke lantai


"Maaf devano, kita sudah berusaha tapi sang kuasa berhendak lain" ucap dokter Renata


"Yang sabar ya devano" ucap dokter viola


Semua dokter dan suster pun keluar dari ruangan resyah.


"Dok, gimana keadaan kak resyah" tanya Delia


"Maaf pasien sudah tidak ada" tubuh Delia gemetar


"Nggak dokter pasti bohong" lirih Delia


"Maaf, tapi kami sudah berusaha melakukan yang terbaik" ucap dokter Renata kemudian beranjak pergi


"Aku harus liat kak resyah sekarang" ucap Delia dan saat dia ingin membukakan pintu ruanagn Resyah, Reyhan menahannya.


"Kita beri waktu untuk devano dulu"


Delia mengurungkan niatnya, dia menangis merosot ke lantai dan memukul-mukul kepalanya sendiri


"Kenapa, kenapa ini bisa terjadi"


Gilang menahan tangan Delia, kemudian memeluknya agar Delia tenang.


"Jangan sakiti diri sendiri, boss pasti nggak akan suka melihat ini"


Devano bangkit, dan mendekati resyah.


"Kenapa Syah? Kenapa kamu tinggalin aku sama nalista. Kamu bahkan belum melihat dan mendengar suara anak kita. Bangun Syah, please bangun. Kamu bilang mau bertahan ayo Syah, buktiin ke aku, kalo kamu memang bisa bertahan" tangis devano pecah.


Gara-gara suara tangis devano dan air matanya yang mengenai pipi keyra, hal itu justru membangunkan sang buah hati, dan menangis Dengan sangat keras.


"Kenapa sayang, heum. Kamu juga merasakan kesedihan" ucap devano pada putrinya itu


"Lihatlah, dia adalah orang yang melahirkan kamu. Ini pertama kalinya kalian bertemu kan? Tapi kenapa pertemuan ini langsung jadi perpisahan" devano merosot ke lantai.


Suara tangisnya dan keyra bersahut-sahutan di ruangan itu. Devano menangis sambil memeluk erat putrinya.


Hak tak terduga terjadi, resyah yang mendengar suara tangisan keyra. Seperti ada dorongan untuk dia membukakan matanya.


Perlahan-lahan matanya terbuka, penglihatannya kabur. Dengan kondisi yang sangat lemah, resyah mengedarkan pandangannya.


Dia tidak melihat siapapun Disana, tapi dia mendengar suara tangisan bayi dan laki-laki.


Resyah mencoba bicara, namun mulutnya terasa sangat berat untuk di buka.


Dia menggerakkan tangganya, tapi karena tidak ada tenaga, tangannya terjatuh kebawah tepat mengenai kepala devano.


Devano yang sedari tadi menangis, dia merasakan sesuatu mengenai kepalanya. Devano meraba-raba kepalanya, dia yang melihat bahwa itu adalah tangan resyah pun langsung berdiri.


Raut terkejut dan bahagia pun terlihat jelas saat dia melihat resyah sadar.


Devano meletakkan keyra di samping resyah.


"Kau kembali, Syah" ucap devano mencium kening Resyah dan menggenggam erat tangannya.


"Aku tahu, kamu pasti tidak akan meninggalkan aku dan nalista. Terimakasih" ucap devano berkali-kali mencium pipi Resyah.


--------------------


Hari berganti demi hari.... Keadaan Resyah semakin membaik.


Devano duduk di kursi samping brankar Resyah, sambil mengendong keyra.


Dokter Renata memeriksa, keadaan Resyah.


"Ini sungguh keajaiban dan di luar dugaan. Melihat keadaan Resyah yang sekarang, saya rasa seminggu lagi mungkin keadaannya akan normal"


"Terimakasih dok, atas segala usahanya"


"Ini sudah pekerjaan kami"


"Do'a kalianlah yang sangat hebat. Oh iya, devano. Maaf jika saya harus mengatakan ini padamu"


"Kenapa dok? Apa terjadi sesuatu pada Resyah"


"Resyah mungkin tidak bisa hamil lagi. Dan kesempatan untuk hamil pun hanya 5%"


"Saya tidak akan mempermasalahkan itu dok. Yang saya butuhkan adalah Resyah selalu di samping saya. Kita juga sudah punya nalista, mereka berdua adalah kebahagiaan dan harta yang paling istimewa buat saya"


"Baiklah, kalo begitu saya tinggal dulu"


Resyah terbangun, kondisinya sudah jauh lebih baik.


"Mau minum?" Tanya devano


Resyah hanya mengangguk, devano memberikan air ke Resyah, dan membantunya untuk minum


"Bantu aku duduk, Van"


"Kondisi kamu masih lemah, berbaring aja ya"


"Van, please. Badanku sakit-sakit semua jika terus berbaring"


"Baiklah" devano lalu membaringkan keyra di samping Resyah kemudian baru membantu Resyah duduk.


Resyah melihat wajah putrinya lekat-lekat. Dia tidak berani menyentuh ataupun mengendongnya. Karena dia takut anaknya akan tertular penyakit darinya.


"Anak kita cantik ya, kayak kamu. Apa kamu mau gendong"


Resyah menggeleng


"Kenapa?"


"Aku takut dia jatuh"


"Nggak apa-apa, kan ada aku. Lagi pula kalian berada di atas berankar,.nggak mungkin jatuh juga"


Devano kembali mengendong keyra dan kemudian memberikannya pada Resyah.


Tapi Resyah tak bergeming sedikitpun


"Ayo Syah, aku tahu kamu pasti mau gendong anak kita"


"Penyakit aku nggak akan nular ke dia kan Van?"


"Nggak, kamu itu nggak punya penyakit apapun. Sakit kamu itu, karena melahirkan"


Resyah pun mengendong keyra untuk pertama kalinya dia menyentuh putrinya itu. Karena selama dia sadar, kondisinya snagat lemah sehingga tidak kuat untuk mengendong keyra.


Resyah mencium kening putrinya itu, tanpa terasa air mata lolos begitu saja.


Devano menghapus air mata Resyah "namanya keyra nalista Xander. Apa bagus?kalo kamu nggak suka kita bisa menggantinya"


"Namanya bagus dan kau suka"


"Baguslah"


"Maaf Syah, aku bekum bisa jujur sama kamu soal kayra. Nanti kalo keadaan kamu benar-benar membaik, aku janji bakalan ngasih tahu kamu" batin devano


"Aku manggilnya nalista, kalo kamu mau manggil dia apa?"


"Key"