
Bab 26
"Hey bicaralah jangan seperti ini. Kalau kau terus seperti ini kita semua bingung" ucap devano memegang bahu Delia dan menatap mata adiknya itu dalam-dalam.
"Kakak apakah kakak akan masuk penjara"
"Apa maksudmu, memangnya kakak ini penjahat hemm"
"Aku sudah tahu semuanya. Aku tadi mendengar semua pembicaraan kalian direstoran"
"Memangnya apa yang terjadi. Kenapa devano akan masuk penjara"
"Perusahaan mengalami kerugian besar mah" ucap defra
"Seberapa besar"
"5 triliun 175 miliar"
"Astaghfirullah, uang sebanyak itu dari mana kita mendapatkannya"
"Dan batas waktu pengembalian satu minggu kalau tidak mereka akan menuntut kami"
"Lalu bagaimana ini. Apa kita pinjam ke bank saja"
"Tidak ada yang mau memberikan kita pinjaman sebesar itu mah" ucap devano
"Bagaimana kalo kita minta bantuan kak resyah," ucap delia
"Nggak. Dan jangan ada yang kasih tahu dia tentang masalah ini. Aku akan berusaha mencari uang itu"
"Bagaimana kalau setelah satu Minggu kakak nggak bisa dapatkan uang itu, itu uang yang banyak kak"
"Kakak akan berusaha. Kalian tenanglah, aku akan pulang dulu. kami akan pindah ke mansion malam ini. Dan ingat jangan ada yang memberitahu resyah masalah ini"
"Kalau begitu hati-hati" ucap Sarah
"Kakak pulang dulu, jangan berpikir yang aneh-aneh, oke" ucap devano mengelus-elus rambut Delia. Delia hanya mengangguk.
Hp devano berdering dan yang menelpon adalah resyah.
"Hallo Syah"
"Apa kamu lembur malam ini"
"Nggak kok, ini akau udah mau pulang"
"Datanglah ke mansion. Barang-barangmu sudah ada disini"
"Maafkan aku. Seharusnya kita kesana berdua"
"Itu bukan masalah besar. Kalo begitu aku tutup dulu" lalu memutuskan sambungan telepon.
"Ma, pa. Aku pulang dulu" pamit devano kemudian beranjak pergi.
Beberapa menit kemudian devano pun sampai di mansion. Dia berusaha menyembunyikan kesedihan dan masalahnya dari resyah. Resyah yang menunggu devano di ruang utama pun langsung menghampiri devano ketika devano berada di ambang pintu.
"Kau menungguku" ucap devano resyah hanya mengangguk
"Maaf, aku pulang terlambat. Membuatmu kesini sendirian"
"Tidak apa-apa aku mengerti. Kau mandilah dan beristirahat"
"Ya kau juga. Dimana kau meletakkan koperku"
"Sudah aku letakkan dikamarmu"
"Lalu, yang mana kamarku"
"Disebelah kamarku di atas. Aku sengaja memilih kamar bersebelahan. Biar nanti kalo om dan Tante datang kita juga nggak kesusahan berpura-pura satu kamar."
"Ide bagus" mereka lalu menaiki tangga.
"Ini kamar kamu. Istirahatlah lebih awal kau terlihat sangat lelah"
"Baiklah" ucap devano lalu mereka lalu masuk kamar masing-masing.
Devano yang tidak bisa tidur karena memikirkan masalahnya.
"Dimana aku akan mendapatkan uang sebanyak itu. Sementara uang di ATM hanya cukup untuk membayar uang pembangunan dan pegawai. Menjual apartemen dan mobil pemberian kakek juga nggak cukup untuk membayar investor sedangkan dana perusahaan hanya tersisa untuk membayar gaji para karyawan. Aku memang nggak bisa di andalkan. Perusahaan itu bahkan belum resmi menjadi milikku, tapi aku sudah membuat kekacauan dan perusahaan hampir bangkrut".
Haripun pagi devano yang tidak bisa tidur semalaman sudah rapih dan menunggu resyah diruang utama.
"Kau sudah bangun" ucap resyah yang melihat devano duduk disofa. Devano hanya mengangguk.
"Aku siapkan roti dulu untuk sarapan"
"Tidak usah. Kamu sarapan sendiri saja"
"Bukankah Tante menyuruhmu untuk selalu sarapan sebelum berangkat kerja"
"Aku tidak nafsu makan sekarang".
Resyah yang melihat ada lingkaran hitam dimata devano pun berucap "apa kamu nggak tidur semalaman devano lingkaran hitam dimatamu terlihat jelas "
"Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan tadi malam "
"Bukankah kau sudah lembur tadi malam"
"Pekerjaanku sangat banyak,Syah. kau cepatlah sarapan, aku ada urusan pagi ini"
"Sepertinya kau sangat sibuk. Jika kau memang terburu-buru kau pergilah dulu. Aku akan pergi sendiri nanti. Dan mobil yang diberikan kakek untukmu sudah ada di bagasi kau bisa membawanya"
"Baiklah, aku akan pergi dulu"ucap devano lalu beranjak pergi.
Sementara itu devano pergi ke apartemennya Reyhan.
"Ada apa kau kemari pagi-pagi sekali. Apa kau bertengkar dengan resyah" ucap Reyhan
"Bukan itu"
"Lalu, kenapa kau kemari , pagi-pagi buta seperti ini tidak biasanya kau seperti ini"
"Aku ingin meminta tolong padamu, apa kau bisa"
" apa ada masalah"
"Tidak semuanya baik-baik saja"
" So"
"Aku hanya ingin kau membantuku menjual apartemen-apartemenku dan mobilku"
"Kenapa kau ingin menjualnya. Dan apa kau yakin ingin menjual semua apartemenmu"
"Bukan apa-apa, aku hanya ingin menambah modal perusahaan dan membangun satu pabrik lagi" bohong devano
"Kalau hanya masalah itu, kau bisa menelponku saja. Tidak perlu datang repot-repot kemari sepagi ini"
"Rasanya tidak terlalu baik membicarakannya di telpon"
"Heyy sejak kapan kau menjadi sungkan seperti itu padaku"
"Tolong jangan beritahu resyah masalah ini. Aku tidak mau dia tahu aku juga menjual apa yang kakeknya berikan padaku. Setelah yang ku kerjakan berkembang pesat aku pasti akan membeli kembali apartemen-apartemenku dan mobil itu"
"Seberapa besar uang yang kau butuhkan. Kau bisa pinjam saja uang ku dulu jika itu memungkinkan untuk membangun pabrik. Kau juga tidak perlu menjualnya bukan"
" pabrik ini membutuhkan modal besar"
"Baiklah aku mengerti. Akan Ku usahakan sebisa mungkin"
"Terimakasih. Ini kunci mobil dan kartu-kartu akses apartemen, masalah harga kau ahli dalam itu bukan"
"Baiklah akan ku usahakan menjual dengan harga setinggi mungkin"
"Aku percaya padamu. Kalau begitu aku pergi dulu"
"Tidak ingin berangkat bersama"
"Aku masih ada urusan".lalu beranjak pergi.
"Kak rey siapa tadi yang datang" ucap Gilang yang baru selesai mandi dan mengeringkan rambutnya dengan handuk
"Devano"
"Ada apa dia kemari sepagi ini"
"Urusan bisnis. Kau cepatlah sarapan lalu bersiap-siap"
"Tenang kak, kita nggak mungkin telat ke kantor. Ini masih sangat pagi.
Devano baru sampai di kantor dengan menaiki taksi. Di depan kantor dia bertemu dengan Lea
"Sayang, kok kamu naik taksi. Mobil kamu mana" ucap Delia yang baru turun dari mobilnya
"Kamu ikut aku keruangan" ucap devano lalu beranjak pergi memasuki ruangannya tidak mempedulikan karyawan yang menyapanya.
"Ada apa kau menyuruhku kemari pagi-pagi begini. Apa kau menyesal mengusirku dari ruanganan mu ini kemarin. Dan sekarang kau merindukanku" ucap Lea lalu memeluk devano
"Lepaskan. Aku ingin berbicara urusan kantor padamu" Lea pun melepaskan pelukannya
"Ingin membicarakan apa"
"Minggu lalu aku menyuruhmu membayar gaji para pegawai bangunan apa sudah kau bayar"
"Aku pikir ada masalah apa. Ya sudah pasti aku bayarlah"
"Oh ya. Tahukah kamu para pegawai bangunan demo ke papa meminta gaji"
"Itu tidak mungkin"
"Terus kamu mau bilang papaku berbohong gitu"
"Aku memang sudah membayarnya"
"Apa kau sendiri yang membayarnya ke sana"
"Tidak. Tapi aku menyuruh orang yang bisa di percaya untuk membayarnya"
"Aku menyuruhmu. Dan kau malah menyuruh orang lain. Sekarang kamu telpon orang itu suruh dia kemari"
"Baiklah aku akan menelponnya"
Beberapa kali Lea menelpon orang itu namun nomornya tidak aktif.
"Nggak aktif"
"Itu bearti orang itu udah kabur bawa uang perusahaan"
"Nggak mungkin. Aku sudah lama mengenalnya, dan dia bukan orang seperti itu"
"Oh, ya. Jika memang dia orang yang bisa dipercaya dia pasti langsung membayar gaji para pegawai tapi ini, udah seminggu pegawai belum juga menerima gaji mereka. Dan sekarang, orang itu juga menghilangkan"