
Bab 152
Wajah Delia berubah ketika melihat Lea keluar dari kamar Gilang, ada rasa cemburu dan ingin marah di hatinya
"Kak Lea ngapain di kamar kak Gilang. Apa tadi malam, mereka tidur bersama. Tapi, bukannya kak Lea di rumah sakit, terus gimana dia bisa ada di sini. Apa kak Gilang yang mengajaknya ke sini. Tapi, kak Gilang kan pacaran sama kak frislya, apa benar kak frislya hanya pelarian kak Gilang selama ini" batin delia bertanya-tanya.
"Delia, ngapain di sini?" Tanya Lea
"Seharusnya yang nanya itu aku, ngapain kak Lea ada di sini" batin Delia
"Nggak apa-apa kok kak, nungguin kak Gilang siap-siap. Soalnya kita ada meeting pagi ini"
"Aku tinggal ke dapur dulu ya, mau ambil minum. Kamu, mau sekalian di buatin minum?" Tawar Lea
"Nggak usah kak"
"Yaudah kalo gitu" Dengan langkah pincang Lea melangkah ke dapur.
Lea meminum segelas air putih. Lea yang melihat ada beberapa butir telur pun berniat untuk memasaknya.
"Apa aku goreng aja telurnya ya. Tapi, ajukan nggak bisa, di coba dulu kali ya"
Lea lalu mulai menggoreng telur. Namun, karena Lea tidak pernah sekalipun memasak, dia teriak-teriak sendiri karena minyak yang terlalu panas.
"Akhhhh" ucap Lea ketika dia terkena cipratan minyak
Gilang yang mendengar keributan pun langsung mencari ke sumber suara.
Lea yang kakinya masih pincang itu, kehilangan keseimbangan sehingga dia hampir saja terjatuh. Untung, Gilang dengan cepat menangkap tubuhnya.
Delia yang baru selesai menerima telpon pun juga kedapur begitupun dengan Reyhan yang mendengar keributan.
"Apa yang kau lakukan" ucap Gilang Dnegan cepat mematikan kompor
"Aku hanya ingin mencoba memasak"
"Jika tidak ada yang mendampingimu lebih baik tidak usah masak, kau bisa membakar apartemen ini, jika begini caranya" ketus Gilang
"Maaf" lirih lea
"Udah-udah nggak usah ribut. Yang penting Lea nggak apa-apa kan sekarang" ucap reyhan
"Nggak apa-apa kak"
"Kak Gilang perhatian banget sama kak Lea, kok saku nggak suka ya" batin Delia wajahnya terlihat jelas menampakkan kekecewaan.
"Delia kamu juga ada di sini?" Ucap Reyhan yang baru melihat Delia
"Heum. Oh ya kak Gilang, tadi Mr. Robert telpon dia bilang meetingnya di pending setelah jam makan siang"
Gilang hanya mengangguk
"Aku pamit dulu, kak resyah menyuruhku untuk datang ke perusahaan utama" bohong Delia
"Aku temanin, sekalian kita ke kantor habis itu"
"Nggak usah, aku udah pesan taksi tadi" lagi-lagi Delia berbohong
Saat Delia membukakan pintu apartemen, Leon dan frislya ternyata sudah berada di depan apartemen.
Leon langsung masuk ke dalam apartemen "leaaa" lirihnya langsung memeluk adiknya itu.
"Kamu nggak apa-apa kan? Hah" ucap Leon memeriksa adiknya itu
"Kakak nggak marah?" Ucap Lea
"Nggak, kakak nggak marah. Kakak minta maaf jika terlalu kejam sama kamu selama ini" ucap Leon kembali memeluk Lea
"Aku juga minta maaf karena udah bikin kakak kecewa" Isak Lea.
"Kak Leon, ayo bicara nanti malam" ucap Delia kemudian beranjak pergi dari sana, tanpa menunggu jawaban dari Leon.
"Delia kenapa? Apa dia marah karena Leon selama ini sama aku. Tapi, diakan yang nyuruh Leon buat bantu aku" batin frislya
-------------
Pukul 17:15 sore. Semua orang pulang dari bekerja...
"Kakak nggak usah ke caffe malam ini. Soalnya kak Leon akan ke sana nanti"
"Apa hubungannya kak Leon ke sana dengan aku"
"Ini privasi kak. Tolong ngertiin hubungan kami"
"Baiklah, kalau begitu biar aku antar kamu ke caffe"
"Nggak usah aku bisa sendiri. Terimakasih karena kakak selama ini udah nemanin aku bekerja. Dan waktu kak resyah masih di rumah sakit kakak juga yang jagain aku di rumah. Aku juga ingin ngucapin terimakasih untuk itu. Aku pergi dulu" ucap Delia keluar dari ruangan mereka.
"Delia kenapa? Kenapa hari ini dia sangat pendiam dan nggak seperti biasanya" gumam Gilang
Di dalam taksi Delia mengingat semua kenangannya bersama Gilang. Bagaimana Gilang menjaganya, Gilang yang selaku ada untuknya, bahkan selama hampir 3 bulan. Delia dan Gilang full 24 jam tak terpisahkan. Karena devabo menyuruh Gilang untuk menjaga Delia yang tinggal sendirian di mansion saat resyah sakit.
"Ternyata kak Gilang benar-benar masih cinta sama kak Lea" ucap Delia tanpa terasa air matanya jatuh
Delia sampai di restoran, yang mana Leon sudah menunggunya. Delia duduk berhadapan dengan Leon.
"Kamu kenapa? Kok kayak nggak semangat gitu?"
",Nggak apa-apa, cuma capek aja"
"Gilang mana? Kok nggak sama dia"
"Aku sengaja minta dia buat nggak datang ke sini. Soalnya aku mau bicara serius sama kakak"
"Mau ngomong apa?"
"Kita akhiri saja hubungan pura-pura kita ini. Kak resyah dan kak devabo sudah bahagia sekarang, kak Lea juga udah berubah"
"Kita tunggu dulu untuk sementara waktu...."
"Mau nunggu apa lagi kak? Kakak dan kak frislya juga semakin dekat. Ini adalah kesempatan untuk kakak ambil hati kak frislya lagi"
"Gimana dengan Gilang"
"Aku nggak ngeliat kak Gilang suka sama kak frislya. Aku rasa kak frislya dan kak Gilang itu menjalin hubungan hanya untuk menghilangkan masa lalu mereka. Buktinya, saat kak Gilang sama aku, sedetikpun dia nggak pernah ingat sama kak frislya. Begitupun dengan Kaka frislya yang nggak pernah datang untu menemuimu Kak Gilang, okelah Kalau dia sebut. Tapi dia bisa aja kan nelpon ataupun ngirim pesan. Dan aku bisa lihat sendiri mereka nggak pernah ngelakuin hal itu. Mereka juga nggak pernah pergi keluar berdua atau sekedar jalan-jalan layaknya pasangan pada umumnya"
"Benar juga. Frislya juga selama ini nggak pernah ngebahas soal Leon sama aku"
"Aku yakin kak Frislya pacaran sama kak Gilang itu hanya untuk melupakan kakak. Begitu juga sebaliknya Dengan kak Gilang yang ingin melupakan kak Leon"
"Baiklah. Besok kita buat konferensi pers, untuk mengatakan pada media bahwa hubungan kita telah berakhir. Agar mereka tidak menunggu lagi atau mempertanyakan kapan kita akan menikah"
Delia hanya mengangguk.
"Mau aku temanin di sini?"
",Nggak usah kak, kakak pulang aja"
"Kamu yakin?"
"Heum"
"Pulang jangan malam-malam. Minta Devano untuk menjemputmu nanti" Delia menganguk, Leon kemudian pergi dari restoran.
Resyah dan devano gantian mengendong keyra, Karena keyra rewel.
"Bobo dong sayang, ini udah malam" ucap resyah
"Kasih dia ASI Syah, mungkin dia lapar"
"Udah, tapi dia nggak mau Van"
"Kalo gitu, aku buatkan susu aja untuk keyra. Kamu tunggu di sini sebentar, Delia juga belum pulang"
"Delia belum pulang? Jam berapa sekarang"
"Jam 23;30. Nggak biasanya dia belum pulang, mana ini sudah larut malam. Tunggu bentar, aku buatkan susu untuk keyra dulu" ucap devabo beranjak ke dapur.
Satelah selesai membuat susu, devano bertemu dengan Delia yang baru pulang.
"Kamu baru pulang Del?"
"Heum"
"Kenapa sampai larut malam kayak gini"
"Banyak pekerjaan kak. Kakak sendiri ngapain belum istirahat"
"Keyra rewel, dari tadi nangis terus" ucap devani Dangan cepat kembali ke kamar diikuti oleh Delia.
"Ini Syah susunya" resyah pun memberikan susu kepada keyra.
15 menit kemudian, keyra pun tidur.
"Akhirnya, dia tidur juga Van" ucap resyah
"Oh iya, Syah. Aku hampir lupa. Minggu depan mama dan papa kembali. Mereka juga telah menyiapkan pernikahan untuk kita" ucap devano
"Baguslah, kita juga udah janjikan pada para media akan mengadakan pesta besar-besaran"
"Mama dan papa katanya mengundang semua rekan bisnis kita"
Resyah mengangguk kemudian berucap "undang juga semua awak media yang ada. Kita juga akan memperkenalkan putri kita nantinya" ucap resyah
"Kak, aku ke kamar dulu. Mau istirahat" ucap Delia
"Kamu kenapa Del? Lesu gitu, kamu sudah makan"
"Nggak apa-apa kok kak resyah. Aku cuma capek dan ngantuk aja"
Delia mencium keyra "imutnya keponakan Tante. Cepat besar ya, nanti Tante ajak main" ucap Delia mencubit pipi keyra
"Jangan di cubit pipinya Del. Dia baru tidur ntar dia nangis lagi" ucap devano
"Iya-iya maaf"