
Bab 125
Leon beranjak pergi dan ingin masuk ke dalam mobil. Tapi Lea menarik tangannya "kak. Please jangan tinggalin aku. Hanya kakak satu-satunya yang aku punya sekarang" ucap Lea berlutut
Leon menjauhkan tubuh Lea darinya kemudian dengan cepat masuk ke dalam mobil.
Lea mencoba membuka pintu mobil, tapi Leon sudah menguncinya dari dalam.
Lea mengetuk-ngetuk kaca mobil sambil berkata "kak buka pintu mobilnya. Please jangan tinggalin aku. Bawa aku kemanapun Kak pergi. Cuma kakak yang aku punya"
Leon menancapkan gas, Lea mengejar mobil kakaknya itu sampai depan pagar rumahnya.
Dia terduduk di lantai saat melihat mobil kakaknya sudah menjauh.
"Kak tunggu. Jangan tinggalin aku. Cuma kakak yang aku punya" tangisnya pecah. Ketika mobil itu semakin menjauh.
Leon menarik nafas kasar melihat Lea dari kaca spionnya. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam dia terluka melihat adik kesayangannya berada di posisi itu. Namun, dia harus meninggalkannya sebelum dia kehilangan kendali. dan dia juga melakukan itu, agar Lea sadar akan kesalahannya dan menyesali perbuatannya.
Sementara itu, di mansionnya resyah. Devano, defra, Sarah dan Delia sednag berbicara serius mengenai resyah dan kandungannya.
"Sebaiknya, kita pikirkan tentang kesehatan resyah van. Sekarang hanya itu yang lebih penting" ucap sarah
"Masalah anak. Insyaallah akan di berikan lagi nanti sama sang kuasa, yang terpenting kalian sama-sama dalam keadaan sehat dulu" ucap defra
"Apa yang papamu katakan benar Van. Kalian juga masih muda, masih banyak kesempatan untuk menjadi orang tua. Selamatkan resyah, dengan begitu kalian bisa mempunyai anak lagi di masa depan" ucap Sarah
"Aku tidak ingin kehilangan kedua-duanya"
"Tapi itu tidak mungkin van, kau dengar sendiri apa yang di ucapkan dokter viola. Ini demi kebaikanmu dan resyah sayang"
"Ma... Kalian itu nggak ngerti bagaimana perasaan resyah dan aku. Bayi itu sudah 3 bulan berada dalam kandungan resyah, dan resyah sangat menyayanginya. Aku tidak mau menyelamatkan salah satu dari mereka, aku menginginkan keduanya. Jika aku menyelamatkan resyah, itu sama saja membunuhnya secara mental"
"Aku bisa pah..mah. aku bisa"
"Tapi bagaimana caranya?"
"Aku akan membawa resyah ke dokter kandungan terhebat di dunia ini"
"Bagaimana jika itu juga tidak akan berhasil. Apa yang akan kau pilih"
"Aku tidak tahu, dan aku tidak ingin memilih. Aku menyanggi keduanya dan aku menginginkan keduanya" ucap devano emosi. Karena dia sendiri pun binggung harus bagaimana
"Van. Jangan egois kamu. Ini semua demi kebaikan resyah"
"Jika bisa memilih, lebih baik aku yang mati. Ini semua terjadi karena salahku. Tapi, kenapa harus resyah yang menanggung akibatnya" ucap devano frustasi.
"Kak istighfar, jangan sampai kak resyah terbangun dan mendengar semua pembicaraan ini" ucap Delia mengelus-elus punggung kakaknya itu.
Namun, semua ketakutan Delia itu sia-sia. Resyah sudah mendengar semua pembicaraan mereka dari atas tangga.
Resyah menghapus air matanya, kemudian beranjak pergi masuk ke kamar.
"Aku tidak ingin membahas ini lagi" ucap devano beranjak pergi ke kamar
"Pikirkan lagi baik-baik Van. Jangan sampai kau menyesal karena keputusanmu" ucap defra
Devano hanya mendengarkan ucapan papanya itu sambil terus menaiki anak tangga
Baca terus kelanjutan ceritanya ya ☺️ dan jangan lupa baca juga Karya author yang berjudul BAD GIRL dan SILENT DEADLY ya reader's tercinta 🙏🏻☺️