COLD CEO IN LOVE

COLD CEO IN LOVE
BAB 146



Bab 146


1 Minggu lagi telah berlalu. Lea menghukum dirinya sendiri, dengan tidak memakan makanan yang di berikan padanya. Hingga pada akhirnya dia pingsan dan di larikan ke rumah sakit.


Reyhan mendapat telpon dari nomor yang nggak di kenal.


"Siapa Rey"


"Nggak tahu, nomornya nggak di kenal"


"Angkat aja dulu, siapa tahu penting"


Reyhan dan devano berada di ruangan resyah. Mereka berdua sedang mendiskusikan pekerjaan


"Hallo, dengan siapa ya" ucap Reyhan menerima panggilan telpon


"Ini kami dari kepolisian"


"Oh, pak polisi ada apa pak"


Devano mengerutkan dahinya, mendengar ucapan Reyhan


"Adik kamu pingsan dan masuk rumah sakit"


"Apa? Rumah sakit yang mana? Saya akan ke sana sekarang"


"Rumah sakit hospital blue".


Panggilan telpon pun terputus.


"Lea masuk rumah sakit" ucap reyhan


"Terus?"


"Aku harus melihatnya"


"Udahlah Rey nggak usah peduli sama orang kayak dia"


*Nggak bis gituu Van, dia memang berbuat kejahatan tapi seharusnya kita kasih dia kesempatan buat berubah. Apalagi, dia adalah orang yang nemanin kamu selama ini"


"Terserah lho aja. Kalo lho mau jengguk dia ya silahkan"


"Lho nggak mau ke rumah sakit?"


"Bukan urusan gue juga"


"Rumah sakitnya sama dengan rumah sakit tempat resyah di rawat"


"Kalo gitu gue ikut"


Mereka berdua pun pergi ke rumah sakit.


Reyhan mencari ruangan Lea. Sementara devano berdiri di ruangan resyah dan menatap resyah dari kejauhan.


"Sudah 2 Minggu Syah, dan kamu sama nalista belum juga sadar" gumam devano


"Devano, kebetulan kamu ada di sini. Saya tadi melewati ruangan keyra, dan mendengar suara tangisannya" ucap dokter renata


"Dokter serius"


"Saya memang tidak melihat keyra yang menangis.karena saya lagi buru-buru mengganti infus resyah, tapi ruangan itu kan hanya di tempati keyra.jadi suara siapa lagi kalo bukan suara keyra"


"Terimakasih dok" devano kemudian berlari menuju ruangan keyra.


Saat berada di depan pintu, devani terpukau mendengar suara tangisan keyra.


"Devano kau sudah ada di sini. Baguslah, tadinya aku akan menelponmu memberitahu bahwa keyra sudah mengeluarkan suaranya"


Devano tetap berdiri di depan pintu tak bergeming sedikitpun, dia masih twrpak mendengar tangisan putrinya itu


"Kenapa malah melamun di sana. Apa kau tidak ingin mengendong keyra. Bukankah, kau sudah menantikan ini selama dua Minggu terakhir"


Devano tersadar, dan dia pun mendekati dokter viola. Dokter viola memberi alih devano untuk menggendong keyra.


"Gendongnya di sini saja, jangan terlalu jauh dari box kaca ini. Sialnya masih banyak alat-alat medis yang lekat di tubuhnya. Takutnya nanti alat-alat itu menyakitinya."


"Dia masih harus Makai alat-alat itu"


"Iya devano, kondisinya masih sangat lemah"


Devano mengendong keyra dan tanpa terasa air matanya jatuh menetes ke pipi anaknya itu.


"Dua Minggu sudah kamu lahir, tapi papa baru bisa gendong kamu sekarang. Maaf ya sayang, papa nggak bisa berbuat apa-apa untuk kamu. Sakit banget ya nak, tubuh kamu harus Makai alat-alat itu. Terima kasih ya sayang sudah berjuang untuk bertahan"


Reyhan menemukan ruangan Lea. Sebelum masuk ke ruangan dia berbicara dulu dengan dua orang polisi yang berjaga di depan ruangannya.


"Bagaimana dia bisa pingsan?" Ucap reyhan


"Sepertinya, dia tidak memakan makanannya"


Ucap salah satu polisi


"Apa kalian sudah menghubungi kakaknya?"


"Kami pikir kamu adalah kakak kandungnya"


"Ah, bukan pak. Kakak kandungnya, adalah orang yang melaporkannya"


"Oh, pemuda itu. Tapi, dia sejak melaporkan wanita itu ke kantor, dia tidak terlihat lagi setelah itu. Bahkan dia juga tidak memberi tahu kami bahwa dia keluarganya"


"Baiklah kak, terimakasih. Nanti saya yang akan memberitahu kakaknya. Boleh saya menjengguknya"


"Yah silahkan"


Reyhan pun masuk ke dalam ruangan Lea.


Lea sudah sadar, tapi keadaannya sangat lemah. Suster sudah kewalahan untuk membujuknya agar mau makan.


"Makan sedikit saja mbak, agar ada tenaganya" bujuk suster. Tapi, Lea tak menjawab apapun. Dia meletakkan tanggan di dahinya, dengan air mata yang terus mengalir


"Berikan padaku makanan, biar aku yang membujuknya" ucap reyhan


"Saya tinggal dulu. Jika ada apa-apa, tekan belnya" ucap susuter pergi meninggalkan ruangan lea


Reyhan mengangguk, dia kemudian duduk di kursi samping brankar.


Reyhan meletakkan makanan di atas meja, dia lalu membenahi tangan Lea agar tidak menutupi dahinya lagi.


"Kak Rey" lirih Lea yang baru menyadari bahwa ada Reyhan di dekatnya.


"Makan ya" ucap Reyhan lembut, mengambil makanan dari atas meja. Sementara Lea, dia malah menangis


"Kenapa? Apa ada yang sakit"


"Kak Rey, tolong peluk aku" Reyhan hanya mengangguk, dia kemudian memeluk Lea yang terbaring lemah itu.


"Kak Rey, aku takut"


"Nggak apa-apa, ada kakak di sini"


"Apa ada yang menyakitimu di sana?" Ucap Reyhan kembali duduk di kursinya


"Tidak akan ada yang bisa menyakitiku! Sedikit pun"


"Ah, baiklah. Kau memang pemberani"


"Apa kakak sudah bertemu dengan kak Leon"


"Belum" karena memang sudah 2 Minggu Reyhan tidak bertemu dengan Leon. Karena dia sibuk, dan Leon juga tidak pernah datang lagi ke perusahaan utama melainkan ke hotel membantu pekerjaan frislya.


"Apa dia kembali ke new York?"


"Kakak juga nggak tahu, nanti kakak akan coba hubungi dia. Nggak apa-apa, kan ada kakak di sini"


"Kakak nggak sibuk"


"Akhir-akhir ini kakak pekerjaan kakak sedikit berkurang. Karena bokapnya devano yang handle cabang perusahaan di luar negeri"


"Pantas saja, kakak ada waktu untuk mengunjungiku"


"Kakak kan udah bilang, jika kakak punya waktu senggang kakak pasti akan menemuimu. Udah ya, makan dulu"


"Aku takut di sel sendirian kak. Di sana sangat dingin dan banyak nyamuk. Makanannya pun nggak enak"


"Kamu nggak satu sel sama tahanan lain"


Lea menggeleng


"Yaudah, nanti kakak yang bilang ke polisi buat pindahin kamu di sel sama yang lain. Biar kamu nggak sendirian lagi"


"Nggak usah kak, percuma"


"Kenapa?"


"Karena waktu itu aku sempat berantem sama tahanan-tahanan lainnya"


"Berantem?"


"Ya, karena mereka mau nindas aku. Makanya aku di pisahin sendiri"


Reyhan menyuapi Lea makan. Setelah makan, Lea pun tertidur.


"Aku harus hubungin Leon" ucap Reyhan keluar dari ruangan Lea, mencoba menghubungi Leon.


Beberapa kali Reyhan menghubunginya, namun tidak di jawab oleh Leon. Reyhan kemudian menyerah dan duduk di kursi tunggu. Sementara, dua polisi tetap berdiri di pintu ruangan Lea.


Leon dan frislya baru kembali ke hotel, setelah bertemu klien.


Leon membuka hpnya, yang sedari tadi di mode silent.


"Reyhan, ada apa ya dia nelpon. Tumben banget" gumma Leon namun masih bisa di dengar oleh frislya


"Siapa?" Tanya frislya


"Reyhan"


"Telpon balik aja, pasti ada yang penting. Soalnya Reyhan nggak akan nelpon orang hanya untuk basa-basi"


"Sepertinya kamu kenal baik dengan dia"


"Tentu saja aku mengenalnya, karena dia yang berhasil menghapus namamu di hatiku" batin frislya


"Aku sudah lama mengenalnya, jadi aku tahu bagaimana sifatnya"


Leon hanya mengangguk, dia kemudian balik menelpon Reyhan, yang tanpa menunggu lama langsung di jawab oleh Reyhan


"Hallo Rey, ada apa nelpon? Sorry soalnya tadi habis ketemu klien dan nggak bisa jawab telpon"


"Lea masuk rumah sakit, lebih baik kamu ke sini sekarang"


"Apa? Baiklah terimakasih"


"Kau harus datang, kondisinya benar-benar lemah. Dua di rawat di rumah sakit yang sama dengan resyah"


"Heum". Leon lalu memutuskan panggilan telpon.


"Ada apa?" Tanya frislya


"Lea masuk rumah sakit"


"Apa? Kalo begitu ayo kita ke sana"


"Nggak perlu, kita harus kasih pelajaran buat Lea"


"Aku tahu kamu khawatir sama dia, ayo kita kerumah sakit"


"Kalo kamu mau kamu aja yang pergi"


"Leon, aku tahu kamu sayang banget sama adek kamu. Tapi, kamu nggak boleh kayak gini. Jangan sok-sok'an nggak peduli, yang padahal nantinya kamu akan menyakiti diri kamu sendiri sebagai pelarian. Udah ayo ikut aku kita ke rumah sakit sekarang"ucap frislya, menarik Leon mengikutinya