COLD CEO IN LOVE

COLD CEO IN LOVE
BAB 141



Bab 141


"Kontrol emosi lho van.jangan ngelakuin hal bodoh, yang bakal ngerugiin diri lho sendiri. Lho akan di laporin kepolisi dengan tuntutan penganiaya"


"Gue nggak peduli Rey!, bahkan tamparan pun nggak sepadan dengan apa yang dia lakuin"


"Kalo gitu silahkan tampar dia sesuka hatimu. Tapi, jika nanti istri dan anakmu sadar, maka jangan menyesal jika kau berada di dalam penjara"


"Arghhhh" ucap devano menendang kursi karena emosi


"Tenang aja Van, nggak perlu habisin tenaga buat orang nggak punya hati kayak dia. Aku yang akan bawa dia kepolisi dan melaporkannya" ucap leon menarik kasar tangan Lea, sampai Lea berdiri dan menariknya pergi dari sana.


"Tunggu" ucap reyhan mencegah Leon


"Jangan pernah menggunakan tangan untuk menyelesaikan masalah" sambungnya.


"Kak Rey..." Lirih Lea


"Nggak apa-apa, kamu memang harus menanggung resikonya"


Leon tidak menjawab apapun, dia menarik Lea pergi dari sana. Delia mengejar dan mengikuti Leon, karena khawatir pada Lea.


"Lang, kamu ikuti mereka. Dan awasi Delia. Aku akan di sini menemani devano" ucap reyahn yang hanya di angguki oleh Gilang.


"Masuk, MASUK!" Ucap Leon memaksa Lea masuk ke dalam mobilnya.


"Kak, aku nggak mau ke kantor polisi"


Saat Leon ingin menjalankan mobilnya, Delia mengahadang jalan "kak, stop. Kakak mau kemana" ucapannya


"Minggir Delia!" Bentak Leon


"Kak Leon, keluar"


"Kamu mau wanita jahat ini pergi lagi, sebelum dia menebus semua kesalahannya. Jadi minggir"


"Nggak bakalan!" Ucap Delia merentangkan tangannya


Leon menginjak gas memundurkan mobilnya kemudian berjalan maju dengan kecepatan tinggi, dia menakut-nakuti Delia Dengan cara ingin menabraknya, agar Delia tidak menghalangi jalannya lagi.


"Kak, stop! Kakak bisa nabrak Delia nanti" ucap Lea mencoba menghentikan Leon. Leon Dnegan kasar menepis tangan Lea, sehingga kepalanya terbentur mobil.


"Kamu takut aku nabrak Delia, tapi kamu sendiri hampir membunuh 3 nyawa" sinis leon


Saat mobil Leon sudah hampir menabrak Delia, Gilang mendorong tubuh Delia, sehingga keduanya terguling jauh.


Wajah Lea memucat, melihat Delia yang hampir tertabrak. Sementara Leon, hanya melihat Gilang dan delia dari kaca spionnya.


"Kamu, nggak apa-apa" ucap Gilang memeriksa tubuh Delia


"Aku nggak apa-apa kak, tapi kita harus bantu kak Lea"


Gilang mengangguk kemudian berucap "aku ambil motor, kamu tunggu di sini dulu"


----------


Leon dan Lea sampai di kantor polisi. Leon menarik paksa Lea untuk masuk kedalam.


"Kak, aku mohon jangan lakuin ini. Aku tahu aku salah, aku minta sama kakak, karena udah ngecewain kakak dan buat malu kakak. Kakak boleh hukum aku, tapi jangan laporin aku kak" ucap Lea berlutut di kaki Leon


Leon sebenarnya tidak tega melihat adiknya itu, bahkan sampai melaporkannya ke polisi. Tapi, Leon ingin Lea menebus semua kesalahannya, dan tidak kabur-kaburan lagi.


Delia yang baru sampai di kantor polisi langsung berlari masuk ke dalam, saat melihat Leon dan Lea dia langsung memeluk Lea.


"Kak Leon, kakak apa-apaan sih!"


"Aku mau laporin dia, dan kamu nggak usah ikut campur Del" ucap Leon Manarik kasar tangan Lea.


"Kak Leon" ucap Delia kesal melepaskan tangan Leon dari Lea


"Kak, aku rasa resyah dan devano lebih berhak untuk ngehukum Lea di bandingkan kita. Jadi, urusan Lea, biar devano saja yang menentukan akan melaporkannya atau tidak" ucap Gilang


"Dia adikku, dan aku berhak menghukum dia! Kalian jangan coba-coba mengahalangiku, selagi aku masih punya kesabaran"


"GILANGGGGG!" bentak Leon membentak Gilang, dan Gilang pun langsung terdiam.


"Kak Gilang ngebela kak Lea sebegitunya. Apa dia masih punya rasa ya sama kak Lea, terus gimana dengan kak frislya bukankah mereka sudah bertunangan" batin Delia


"Ada apa ini, kenapa kalian ribut-ribut di sini" ucap polisi yang mendengar keributan mereka


"Bukan apa-apa kok pak" ucap Delia


"Saya ingin melaporkan wanita ini. Dia mencoba mengugurkan kandungan sahabatnya karena cemburu" ucap Leon mencengkeram kuat tangan lea


"Kakak, apa yang kakak lakukan" ucap Lea tak percaya, bahwa kakaknya sendirilah yang akan melaporkannya


"Kalo begitu, mari ikut saya dan tulis keterangan"


"Nggak perlu, saya punya buktinya" ucap Leon, dia lalu memberikan rekaman CCTV di saat Lea menukar vitamin resyah dengan obat penggugur kandungan.


"Dia menukar vitamin dengan obat penggugur kandungan. Sebaiknya, bapak langsung masukkan saja dia ke penjara. Dan jangan pernah lepaskan dia, dengan jaminan apapun" ucap Leon beranjak pergi dari sana


"Kak Leon, kak tunggu" teriak Lea, namun polisi sudah memborgol kedua tangannya


"Pak polisi, ini cuma ke salah pahaman"


"Saya akan tetap memenjarakan dia, sampai menemukan kejelasannya" ucap polisi membawa Lea masuk ke dalam sel.


"Pak, saya mohon lepaskan saya. Saya nggak mau di sini" Isak Lea ketika polisi mengunci sel


"Kami akan menyelidiki permasalahan ini. Dan jika kamu terbukti tidak salah, maka pasti kami akan membebaskanmu" ucap polisi kemudian pergi


"Delia, aku mohon sama kamu bujuk kak Leon supaya dia mau cabut laporannya. Pleasee,dia pasti dengarin semua ucapan kamu"


"Aku akan coba kak. Kakak tenang aja dulu ya"


"Lang, gue mohon sama lho. Tolong bantuin gue buat keluar dari sini" ucap Lea mengenggam tangan Gilang


"Aku nggak bisa bantu apa-apa ya. Aku nggak punya kuasa atau wewenang apapun untuk masalah ini"


"Lang, aku mohon. Oh ya, bilang sama kak Rey bahwa aku ada di sini. Dia pasti bakal bantuin kamu untuk membebaskan aku dari sini"


"Aku nggak pernah bilang mau bantu kamu ya. Tapi, aku akan bilang ke kak Rey, kalo kamu ada di sini"


"Lang..." Lirih Lea


"Ini resiko yang harus kamu jalani ya. Semoga habis ini, kamu bisa jadi orang yang lebih baik lagi"


"Lang, gue tahu gue banyak salah Sama lho. Tapi gue mohon Lang, bantu gue sekali ini saja. Dan ini untuk yang terakhir kalinya" ucap Lea mempererat mengenggam kedua tangan gilang


"Maaf ya, aku nggak bisa melakukan dan berjanji apapun untuk kamu. Aku pergi dulu, kamu baik-baik di sini, dan aku akan bilang ke kak Rey kalo kamu ada di sini. Jaga kesehatan" ucap Gilang mengelus-elus rambut Lea


"Nggak Lang, Gilang. Please jangan tinggalin gue. Gue takut di sini sendirian" ucap Lea memeluk kaki Gilang dari dalam sel


"Lepasin ya, kalo kanu nahan aku di sini, bagaimana aku mau ngasih tau kak Rey, dia mungkin bisa bantu kamu"


"Kamu bisa telpon dia buat datang ke sini"


"Ya, please, Tenang. Gue nggak bisa nemanin lho terus di sini, gue banyak urusan yang harus gue selesaiin" ucap Gilang melepaskan pelukan Lea dari kakinya kemudian melangkah menjauh sampai Lea tidak bisa lagi menjangkaunya.


"Del, please jangan pergi. Gue takut di sini sendirian" ucap delia kembali mengenggam tangan Delia


"Maaf kak, tapi aku harus pergi. Aku juga harus ngebujuk kak Leon kan, agar dia mencabut laporannya" ucap Delia beranjak berdiri


"Nggak, nggak Del. Jangan pergi dulu, please" ucap Lea mencoba menjangkau Delia


"Maaf kak, aku harus pergi dulu. Kakak baik-baik ya di sini"


"Ayo Del, kita pergi" ucap Gilang


Delia hanya mengangguk, mereka lalu pergi meninggalkan kantor polisi


"DELIAAAA, GILANGGGGG. JQNGAN TINGGALIN GUE SENDIRI DI SINI" teriak Lea berulang-ulang kali


"Heh! Bisa diam nggak sih lho. Masa penjahat cengeng. Sini lho pijitin kepala gue" ucap salah satu tawanan