
Bab 27
"Oke. Anggap saja ini semua bukan salahmu. Tapi masalah tender, kenapa kamu tidak bisa memenangkannya. Padahal aku sudah memberimu dokumen untuk kau pelajari 3 hari sebelum meeting. Apa kau tidak mempelajarinya dengan baik. Sehingga investor terbesar perusahaan kita mengeluh dan Memutuskan kerja sama antar perusahaan"
"Jika begitu kita cari saja investor dari perusahaan lain"
"Oh ya, kamu pikir segampang itu Lea. Tahukan kamu reputasi perusahaan sudah dipandang buruk sekarang, dan investor mana yang ingin bekerjasama dengan perusahaan yang banyak dikeluhkan perusahaan lain. Perusahaan bahkan harus membayar kerugian sebesar 5 triliun dalam waktu satu Minggu"
"Apa? Kenapa bisa jadi sebesar itu"
"Kamu pikirkan sekarang kesalahan-kesalahanmu dan berapa banyak dana perusahaan yang hilang karenamu"
"Aku akan mengatasi masalah ini. Dan aku akan bicarakan masalah ini kepada investor itu"
"Pergilah, lakukanlah apa yang bisa kau lakukan sekarang. Aku juga tidak berharap banyak" lea pun beranjak pergi keruangannya.
Dia menelpon investor itu yang tak lain adalah kakaknya sendiri, Leon argantara. Delia yang awalnya mau keruangan devano berhenti di depan ruangan Lea karena mendengar Delia sedang menelepon. Karena penasaran dia pun menguping pembicaraan Lea.
"Sedang menelpon siapa dia" ucap Delia yang melihat Lea dari pintu karena Lea tidak menutup rapat pintu itu.
"Hallo kak, kenapa kakak meminta ganti rugi sebesar itu ke perusahaan devano"
"Sebelum kau protes, baca dulu isi kontaknya . Lagi pula apa hebatnya sih perusahaan itu. sampai-sampai kamu nggak mau ngurus perusahaan papa malah milih kerja disana"
"Sekarang kakak dimana, kita harus bertemu"
"Aku di new York, jika kau ingin menemuiku datanglah kemari. jika tidak, tunggulah satu Minggu lagi aku akan ke perusahaanmu untuk menagih uangku"
"Kak kau benar-benar keterlaluan"
"Boss mu itu yang keterlaluan. Aku sendiri yang datang jauh-jauh ke perusahaan mereka tapi tidak satupun dari pemilik perusahaan itu datang menemuiku. Padahal selama 2 tahun ini aku menuruti keinginanmu untuk menginvestigasi uang di perusahaan mereka. Tapi mereka untuk sekedar menemuiku saja tidak bisa. Sebegitu sibuknya kah boss mu itu, memangnya siapa dia dan sehebat apa sih dia"
"Kak kau tahu bossku itu adalah pacarku"
"Ya aku tahu. Jika tidak, aku tidak mungkin bekerjasama dengan perusahaan mereka. Kau selalu bilang pacarmu itu hebatkan? Sekarang kita lihat satu Minggu lagi seberapa hebatnya pacarmu itu" ucap Leon lalu memutuskan sambungan telpon.
"Hallo, kak, kak." Karena kesal Lea membanting hpnya "Leon argantara aku membencimu!"
"Jadi investor itu kakaknya kak Lea, dan namanya Leon" batin Delia kemudian beranjak pergi dari sana dan memasuki ruangan devano.
"Delia, ngapain disini bukannya siap-siap berkemas besok kan kamu harus pergi ke London"
"Aku hanya ingin melihat kakak" lalu memeluk devano.
"Kenapa kamu jadi manja seperti ini. Ingat, kamu itu sudah dewasa apa kamu nggak malu meluk kakak kayak gini hemm"
"Bukannya kakak selalu bilang aku anak kecil"
"Sifatmu yang seperti anak kecil tapi usiamu sudah dewasa"
"Apa aku tidak boleh memeluk kakak lagi" ucap Delia menatap devano tanpa melepaskan pelukannya.
"Bukan seperti itu. Sudahlah, kakak harus bekerja kau pulanglah berkemas-kemas dan beristirahat. Besok kakak akan mengantarmu kebandara"
"Bagaimana kalau kita semua pindah kelondon, dengan begitu kakak tidak harus membayar uang itu kan"
"Itu namanya lari dari tanggungjawab. Kakak nggak bisa pergi dari masalah. Kalau kakak pergi bagaimana dengan perusahaan ini nantinya dan bagaimana dengan resyah kakak tidak mungkin meninggalkan dia sendirian. Kau mengerti kan"
Delia hanya mengangguk lalu melepaskan pelukannya
"Sudahlah jangan khawatir. Pulanglah kakak akan segera mendapatkan uang untuk membayar ganti rugi"
"Bagaimana cara kakak mendapatkannya. Itu uang yang banyak kak"
"Kakak akan menjual semua apartemen kakak dan mobil yang diberikan kakek"
"Kakak menjual semuanya. Termasuk pemberian kakek"
"Kakak tidak ada pilihan lain"
"Lalu, apa uang itu akan cukup nantinya"
"Apakah sudah ada yang ingin membelinya"
"Biar itu jadi urusan kakak, oke."
"Jika uang itu tidak cukup kakak jual saja apartemen dan restoran yang diberikan kakek, tidak apa-apa lagi pula aku juga tidak bisa mengelolah restoran itu. Dan di ATM ku juga ada uang walaupun tidak banyak tapi bisa meringankan sedikit beban kakak"
"Kakak sudah bilang, kamu tidak perlu khawatir. Percayakan semuanya pada kakak"
"Aku tidak ingin kakak dan papa masuk penjara"
"Itu tidak akan terjadi. Pulanglah, oke. Kakak masih harus bekerja" Delia mengganguk lalu pergi dari ruangan devano mansion resyah.
"Aku tidak mau pulang, kalau aku pulang mereka pasti menyuruhku beres-beres. Aku tidak mau pergi ke London dan meninggalkan mereka saat ada masalah seperti ini" batin delia
----------
Jam menunjukkan pukul 17:30 devano dan resyah baru sampai di mansion. Mereka terkejut melihat Delia duduk didepan pintu utama dengan memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya di lutut.
"Delia" ucap devano dan resyah bersamaan.
Delia mengangkat wajahnya "kalian sudah pulang"
"Ayo bangkit. Kamu ngapain disini dan bagaimana cara kamu bisa masuk kesini. Apa kamu memanjat pagar itu" ucap devano membantu Delia berdiri
"Kakak aku mau nginap disini sama kalian apakah boleh"
"Tentu saja boleh. Ayo kita masuk dulu" ucap resyah. Merekapun masuk kerumah dan duduk di ruang utama.
"Mengapa kamu tidak langsung masuk saja tadi" ucap resyah
"Aku tidak tahu password mansion kakak"
"Bukankah kakak sudah memberitahumu password-nya"
"Apa passwordnya sama saja dengan rumah kakak" resyah mengganguk sedangkan Reyhan tersenyum mengetahui password mansion mereka adakah tanggal pernikahannya. Walaupun resyah menganggap itu sebagai tanggal kematian kakeknya.
"Aku pikir kakak tidak mungkin menggunakan password itu lagi"
"Apa kamu sudah mengemaskan barang-barangmu" ucap devano
"Apa kuliahmu sudah dimulai" tanya resyah. Delia hanya mengangguk
"Oh,iya. Kenapa kamu pergi dari restoran dan meninggalkan kami kemarin"
Delia melihat devano, devano menggelengkan kepalanya memberi kode Delia agar tidak memberi tahu yang sebenarnya.
" Tidak ada apa-apa kak. Kemarin aku lagi buru-buru soalnya aku lupa bahwa aku ada tugas yang belum diselesaikan"
"Tapi, sepertinya kemarin kau sedang tidak buru-buru"
"Apa kamu sudah memberitahu mama kamu akan menginap disini" ucap devano mengalihkan pembicaraan.
"Aku sudah memberitahu mama tadi"
"Apa kamu sudah makan" Delia menggeleng
"Kalau begitu bantu kakak masak,oke"
"Oke" ucap Delia antusias
"Kalian masaklah dulu, aku mau mandi" lalu beranjak pergi sedangkan Delia dan resyah sibuk memasak.
30 menit kemudian mereka bertiga sudah siap menyantap makanan yang ada di atas meja.
"Kelihatannya enak" ucap devano
"Sudah pasti. Lihat dulu siapa yang memasaknya" ucap Delia
"Palingan juga kamu cuma bantu cunciin sayur doang" Delia hanya tersenyum karena memang itulah kenyataannya. Setelah makan Delia membereskan meja, resyah mencuci piring sedangkan devano duduk santai menonton tv.