
Bab 85
Hari telah berganti, frislya mengetuk-ngetuk pintu kamar Leon. Leon pun terbangun dari tidurnya. Dengan kepala yang pusing dia tetap bangkit dari tidurnya membukakan pintu.
"sebentar, siapa sih. Ganggu orang tidur aja" ucap Leon beranjak membukakan pintu.
"Kau, mau apa kesini" ucap Leon yang melihat frislya.
"Pelayan ingin membersihkan kamarmu"
"Kalian kan punya kartu aksesnya untuk masuk. Kenapa ngetuk-ngetuk pintu segala. Gaunggu orang tidur aja" ucap Leon masuk ke kamarnya dan merebahkan dirinya ke atas kasur.
Sementara frislya mengikuti Leon lalu berucap "apa kau tidak ingat, kau sendiri yang telah menghilangkan kartu akses yang kami berikan"
"Aku tidak ingat" ucap Leon cepat tanpa membuka matanya.
"Kenapa? Kau pusing setelah mabuk tadi malam"
"Kau berhentilah bicara. Lebih abik kau keluar. Jika bukan karenamu aku tidak akan seperti sekarang" bentak Leon.
"Oh ya. Apa kau ingat kau melukai Delia tadi malam"
"Aku melukai Delia, mana mungkin"
"Itu mungkin saja di saat kau mabuk. Dia membawamu kemari dan kakinya terluka"
"Apa kau tidak ingat apapun, tentang tadi malam"
"Aku tidak ingat apapun.yang aku ingat hanya satu yaitu kau menjanjikan ku bertemu dengan Tunanganmu. Aku harap aku bisa bertemu dengannya di caffe Delia malam ini. Karena aku akan menemui Delia lebih baik kau bawa Tunanganmu ke sana nanti malam. Sebelum, aku pulang ke new York. Tapi, jika kau tidak datang maka jangan salahkan aku jika aku pulang lagi ke sini dan memisahkan kau dan Tunanganmu secara paksa dan aku juga akan menikahimu secara paksa. Karena sampai detik ini pun aku belum menyetujui kata putus darimu sepuluh tahun yang lalu. Sekarang kau pergilah dari sini dan pikirkan baik-baik ucapanku. Aku tidak main-main dengan apa yang aku katakan" ucap Leon lalu kembali merebahkan tubuhnya ke atas kasur.
Frislya pun pergi dari kamar Leon.
"Kalian semua keluarlah dari sini" bentak Leon pada pelayan yang membersihkan kamarnya. Dia sendiri pun beranjak ke kamar mandi.
Setelah mandi dan berpakaian rapi, Leon buru-buru memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Setelah itu dia melakukan check out dari hotel.
"Mobilku tidak ada disini. Bearti mobilku masih ada di caffe itu" gumam Leon.
Leon menunggu taksi di jalanan, beberapa saat kemudian taksi pun lewat. Leon memberhentikannya lalu masuk kedalam hotel itu.
"Mau kemana" ucap sopir taksi
"Ke DR.G CAFFEE"
sementara itu, di lain sisi Delia duduk di ruang utama mansion.
Resyah dan devano yang baru keluar dari kamar terkejut melihat Delia.
"Delia kau sudah keluar dari rumah sakit" ucap resyah
"Iya kak. Lagian cuma luka dikit doang"
"Kamu dari mana aja tadi malam. Kakak cariin kamu di caffe dan si kampus kamunya nggak ada. Dan kaki kamu kenapa bisa terluka" ucap devano
"Aku pergi nonton sama teman-temanku. Kami baru bubar jam 10 malam. Terus aku balik ke caffe buat ambilin tas sama hp aku pikir kak Gilang sudah memberikan kunci cadangannya. Tapi sebelum sampai di caffe kakiku menginjak pecahan yang aku nggak tahu itu pecahan apaan" bohong Delia
"Kamu kan pakai sepatu. Kenapa bisa keinjak pecahan sih"
"Kaki aku lecet gara-gara Makai hak tinggi, jadi Makai sepatu pun rasanya peeih. Kakak lihat aja tuh" ucap Delia memperlihatkan kakinya yang lecet pada devano
"Yasudah kalau begitu kamu istirahat aja di kamar. Kakak mau berangkat kerja dulu. Dan ingat jangan kemana-mana. Ini card sama hp kakak, kamu pegang sampai hp sama tas kamu kembali"